Visi Salafi 2030-2050; Indonesia Negeri Sunah, tanpa Muhammadiyah dan NU
Opini

Visi Salafi 2030-2050; Indonesia Negeri Sunah, tanpa Muhammadiyah dan NU

Oleh Nurbani Yusuf

Siapa bisa sanggah sukses dakwah salafi selama satu dasa warsa terakhir seperti tidak terbendung. Migrasi pimpinan pengurus aktifis para penggerak Muhammadiyah NU LDII Jatman Al Irsyad ke salafi termasuk beberapa masjid dan amal usaha lainnya berpindah manhaj — sungguh eksotik.
Dakwah salafi menjadi alternatif ketika para pemain lama mengalami stagnasi, kebekuan dan sibuk dengan birokrasi organisasi.

Bukan organisasinya yang lenyap tapi cara berpikirnya yang menghilang dan berubah menjadi salafisme-wahabisme. Itulah pokok harakah inviltrasi… salafisme tidak mengajak mendirikan masjid atau lainnya tapi mengajak kita semua berpikir ala manhaj salafisme, yang terbukti sukses dalam dakwahnya.

Kenapa salafi tak bikin organisasi ? Sebab organisasi mempersulit gerakkan, mengambil model OTB (organisasi tanpa bentuk) salafi menjadi lincah bergerak bisa di manapaun tidak dibatasi ruang dan waktu, cara ini terbukti ampuh mensalafikan masjid berikut organisasi atau perkumpulannya.

Karena tidak berbentuk, salafisme dan wahabisme bisa dengan mudah dan lincah menawarkan gagasan, ide-ide dan doktrin sebagaimana tercakup dalam manhajnya, saya menyebutnya sebagai :
Strategi Dakwah Salafi

Cara Pertama

Infiltrasi. Salafi bisa meng-inviltrasi men-salafikan di manapun tempat yang di tinggali – dalam beberapa riset yang dilakukan BIN : Gerakan Islam Pasca Reformasi disebutkan, bahwa gerakan ini sangat lincah mengendors dan mensalafikan fasilitas umum terutama masjid-masjid tidak bertuan dan belum punya kelamin dan stempel organisasi. Ketika di Muhammadiyah dan NU Inviltrasi ini tidak melepaskan baju kemuhammadiyahan atau ke NU an tapi memberi corak dan watak salafisme, ringkasnya: organisasinya tetap Muhammadiyah atau NU tapi ber-otak dan berpikir salafisme dan wahabisme

Baca juga :  Demokrasi dan Kontestasi Etika

Cara kedua

Melakukan agitasi terhadap tokoh atau ulama setidaknya dai atau mubalighnya. Dengan begitu paham salafi wahabi akan cepat dan mudah tersebar. Agitasi terhadap takmir masjid pengurus pimpinan dan mubaligh sangat efektif mensosialisasikan doktrin- doktrin salafisme

Cara ke Tiga

Kemudahan memberikan beasiswa ke timur tengah terutama kepada ma’had yang berafiliasi salafisme dan wahabisme. Sebagian besar kita tidak memperhatikan manhaj dan ideologi tujuan belajar, akibatnya fatal: setelah pulang mengubah manhaj dan menyalahkan tatanan organisasi.

Baca juga :  Membaca Pilihan Politik Warga Muhammadiyah

Cara ke Empat

Medsos sebagai ruang publik. Medsos adalah ruang paling efisien menyambung gagasan dan silaturrahim. Komunitas tanpa halaqah. Jamaah tanpa masjid. Salafisme Wahabisme sangat cerdik memanfaatkan dunia maya. Ribuan foloower tumpah ruah dalam genggaman. Mungkin pengajiannya dibubarkan tapi halaqah di medsos siapa bisa cegah ?

Cara ke Lima

Dukungan finansial dari simpatisan salafi baik persoanal atau perkumpulan yang di timur tengah, yaman dan negara-negara Islam lainnya membangun pesantren, ma’had dan rumah tahfidz yang bermanhajdz salafi yang tumbuh menjamur tidak terkendali.

Cara ini terbukti ampuh dan efektif sebagaimana lazimnya organisasi tanpa bentuk (OTB).
Salafi gagal di NU karena sangat kuat dan kental ideologi aswajanya, sebaliknya Muhammadiyah adalah sasaran paling empuk, sebab punya banyak kemudahan sebagai pintu masuk:

Muhammadiyah berideologi terbuka dan egaliter. Orangnya sangat baik, sederhana, lugu dan selalu husnudzan disamping suka memberi. Kemudahan lainnya karena memiliki banyak kesamaan dalam amalan ibadah mahdhoh. Pengelolaan asetnya sentralistik tapi di kelola otonomi di bawah, akibatnya sering ambigu dan tidak punya kekuatan untuk mengambil kebijakan pengelolaan aset terutama masjid karena kurang kontrol. Dari sinilah salafisme-wahabismi masuk, tumbuh dan berkembang dengan pesat. Pimpinan Muhammadiyah mengambil jalan moderat dan memberi ruang bergerak terhadap salafiisme.

Baca juga :  Muhammadiyah Besar bukan Karena Sokongan Rezim

Tahdzir atas Ustdaz Adi Hidayat tentang hukum musik seperti membuka hijab paham salafisme wahabisme yang sesungguhya— seperti gunung es, hanya terlihat sepenggal di atas tapi di bawah sudah menggurita tanpa disadari.

Perang Ideologi masih relevan dan njacaya — hipothesis Daniel Bell tentang matinya Ideologi ( the end of ideologi) telah patah karena terbukti sebaliknya, persaingan ideologi kian mengeras dengan varian kecil-kecil, beringas dan fanatik.

Catatan:
Sebagian besar tulisan ini masih draft riset, kajian awal dan susunan dari beberapa hipothesis sebagai landasan menjaga produk kajian tetap obyektif dan proporsional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *