Umar Hasyim Mengulas Sunan Muria
Opini

Umar Hasyim Mengulas Sunan Muria

Oleh: Budi Hastono, S.Pd

Pada tahun 1983 melalui penerbit “Menara Kudus”, seorang kader pemikir di lingkungan Muhammadiyah khususnya daerah Nalumsari, Jepara yang berbatasan langsung dengan kota kudus, beliau menerbitkan sebuah tulisan dengan genre sejarah tokoh yaitu “SUNAN MURIA ANTARA FAKTA DAN LEGENDA”.

Umar Hasyim pernah disebut Hamka sebagai pribadi pemikir muda yang tekun serta rajin dan juga memiliki kemampuan untuk berkarya. Pujian Hamka dialamatkan kepada Umar Hasyim dalam bentuk pengantar atas terbitnya buku beliau di tahun 1978 dengan judul Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam sebagai Dasar Menuju Dialog dan Kerukunan Antaragama (1978). Pujian Hamka memang tepat karena begitu banyak karya tulisan yang telah beliau tulis dan terbitkan.

Pada ulasan buku yang bejudul “Sunan Muria; Antara Fakta dan legenda” Umar Hasyim memulai dengan sebuah pengantar yang menyiratkan bagaimana kerja intelektual memang sebuah kerja yang tidak mudah. Beliau menyampaikan bahwa beliau membutuhkan waktu dua tahun untuk mengumpulkan data dan mencari fakta sejarah seorang Sunan Muria, baik melalui studi kepustakaan maupun studi lapangan.

Namun, beliau pun tetap rendah hati bahwa data yang beliau kumpulkan belum terlampau banyak dengan alasan bahwa penulis (Umar Hasyim) yang bukan merupakan ahli sejarah. Pun di sisi yang lain beliau juga menyiratkan pada tahun tersebut (1980) belum banyak ulasan mengenai Sunan Muria jika dibandingkan dengan kisah hidup dari Wali Sembilan yang lainnya hal tersebut beliau simpulkan terjadi karena peran dakwah Sunan Muria yang tidak seluas wali yang lain dan juga karena gelapnya sumber riwayat hidup Sunan Muria.  

Buku Umar Hasyim ini juga dijadikan sebagai referensi dalam penulisan buku Atlas Walisongo (2017), penulis menyandur salah satu temuan Umar Hasyim mengenai kondisi pelataran makam Muria yang disana terdapat 17 batu nisan, yang merupakan makam para prajurit dan punggawa, serta makam putri Sunan Muria yaitu Raden Ayu Nasiki, serta penjelasan mengenai makam Penembahan Penghulu Jogodipo yang merupakan putra Sunan Muria (hlm 364). Dari kutipan tersebut menyiratkan bahwa buku Sunan Muria yang berupa kajian tokoh dapat dikatakan sebagai buku permulaan yang mengkaji pribadi seorang Sunan Muria serta kiprah pergerakan dakwahnya.

Pada buku tulisan beliau yang dikerjakan dan ditulis selama dua tahun tersebut mengulas mengenai Silsillah Sunan Muria pada Bab 1, Keluarga dan keturunan Sunan Muria pada Bab 2, Apakah Sunan Muria keturunan Peranakan Tionghoa? Pada Bab 3, Kedudukan Sunan Muria di antara Wali Sembilan pada Bab 4, Sunan Muria sebagai Mualigh dan Seniman pada Bab 5, sedang pada Bab 6 mengulas mengenai Cerita Rakyat di sekitar Muria, dan Pada Bab Pamungkas di Bab ke 7 mengulas mengenai Makam Sunan Muria.

Pada ulasan Umar Hasyim penulis merasa tertegun dengan apa yang beliau ulas pada bab ke 5 yang menyatakan bahwa Sunan Muria merupakan seorang Mubaligh yang sekaligus sebagai seorang seniman. Dua hal yang sekiranya beberapa waktu kemarin menjadi hal yang tabu ketika seorang Mubaligh sekaligus menjadi seorang seniman, walau hari-hari ini kita dapat melihat bagaiaman seni juga menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah dakwah tentunya dengan berbagai ketentuann yang membatasinya.

Berkaitan dengan peran dakwah seorang sunan Muria, yang selain sebagai Mubaligh juga disebut sebagai seniman, Umar Hasyim (hlm. 63) memberikan gambaran bahwa peran menyiarkan agama islam dilakukan Sunan Muria di sekitar gunung Muria. Sunan Muria diulas Umar Hasyim menggunakan berbagai macam kepandaian dan keterampilan di bidang kesenian, dan beliau mewarisi cara-cara dari Wali Sembilan yang sebagai dari mereka pun berdakwah dengan menggunakan alat kesenian.

Sunan Muria sebagai Mubaligh

Mubaligh disematkan sebagai seorang yang menyiarkan agama Islam, jika kita menelisik Wali Sembilan maka kita akan menemukan bahwa dari masing-masing dari mereka memiliki daerah dimana mereka melaksanakan tugas ke Mubaligh-annya. Sunan Muria tentu menempati lokasi di sekitar gunung muria yang disebutkan Umar Hasyim bahwa Sunan Muria memiliih daerah pantai utara seperti Pati, Tayu, Jepara, Juana, Kudus serta di lereng-lereng gunung muria.

Sunan Muria dalam dakwahnya memilih untuk terjun kemasyarakat secara langsung, yang tempatnya di desa-desa, maka banyak tempat di lokasi dakwahnya memiliki cerita-cerita yang memiliki sangkut paut dengan Sunan Muria. Sunan Muria meyakini bahwa masyaraka tidak boleh ditinggalkan dan mereka perlu untuk dituntun dan dibimbing menuju jalan yang benar. Maka senang sekali Sunan Muria hidup di tengah masyarakat karena bagi beliau masyarakat adalah sendi untuk memperkuat dan sebagai kunci atas berhasilnya perjuangan menanamkan keyakinan Islam.

Metode yang dilakukan Sunan Muria dalam berdakwah di sampaikan Umar Hasyim bahwa Sunan melakukan kursus-kursus agama Islam kepada kelompok masyarakat yang ada, seperti kaum tani, pedagang, pelaut, nelayan dan berbagai kelompok masyarakatnya yang lain.

Sunan Muria sebagai Pencipta Lagu

Penciptaan lagu dalam khasanah jawa tentunya dikenal juga bahwa wali sembilan memiliki kemampuan untuk melakukan gubahan lagu jawa. Lagu jawa sebagai sebuah kesenian memiliki ciri yang memperhatikan mengenai guru lagu, guru wilangan dan guru gatra. Sunan Muria dalam ulasan Umar Hasyim mencipta lagu Jawa berupa Kinanti dan sinom dan hal tersebut karena kebetulan saja lagu yang diciptakan Sunan Muria adalah Kinanti dan Sinom.

Sunan Menggunakan Kesenian jawa

Salah satu pendapat Sunan Muria yang dikemukakan Umar Hasyim adalah mengenai adat kebiasaan dan tradisi jawa itu dapat diwarnai oleh islam, sehingga pada masa awal dakwah, beliau masih mentolelir kesenian dan kebudayaan jawa, caranya adalah dengan tidak langsung serta merta merombak sebuah kebudayaan yang tidak senafas dengan nilai-nilai keislaman.

Tentang budaya jawa dan kesenian Sunan Muria memang sepemikiran dengan sunan Kalijaga, selaras dengan cara Sunan Kalijaga Sunan Muriapun menggunkan kesenian dan budaya jawa sebagai alat dakwah. Dalam pandangan Umar Hasyim hal tersebut terjadi karena jika adat dan kesenian itu langsung di berantas dan dihapuskan maka apalagi mungkin bisa memanggil orang jawa untuk masuk ke dalam Islam? Karena datang saja mereka tidak mau karena sikap keras yang dipertontonkan kepada mereka.

Pada ulasan Umar Hasyim memberikan contoh bahwa ketika Sunan Muria akan berdakwah beliau terlebih dahulu membunyikan gamelan, sehingga masyarakat yang mendengarkan berbondong-bondong datang untuk mendengarkan. Di tengah-tengah gamelan di tabuh, sesekali sunan Muria menghentikan gendingnya dan mulai memberikan ceramah agama sedikit demi sedikit. Hal tersebut pun terjadi pada kesenian lain seperti wayang yang jika di maknai lebih mendalam, wayang peninggalan dakwah Sunan memiliki karakteristik dakwah keagamaan yang kental.

Falsafah Tapa Ngeli Sunan Muria

Umar Hasyim mengungkapkan bahwa dalam cerita yang berkembang, Sunan Muria memiliki keunikan berupa Tapa Ngeli yang merupakan laku riadoh yang beliau lakukan. Jika dimaknai secara bahasa maka maka Tapa Ngeli adalah bersemedi dengan cara menghanyutkan dirinya di sungai atau di air yang bergerak. Beliau menafsirkan bahwa Tapa Ngeli merupakan perlambang bahwa dalam dakwahnya sunan Muria memiliki taktik menghanyutkan diri dalam masyarakat ramai, yakni mengikuti adat kepercayaan yang dijalankan oleh masyarakat dengan tujuan untuk memahami masyarakat secara umum sehingga mampu membuat strategi yang tepat dalam menjalankan dakwah agama.

Ngeli (Menghanyutkan diri) berbeda dengan Keli (Hanyut), sebab kita dapat memaknai bahwa Ngeli itu tidak tenggelam, namun masih dalam keadaan mengambang dan setengah berenang, karena Keli itu kita tenggelam dan tidak mampu mengatur diri kita sendiri karena dalam keadaan Hanyut.

Umar Hasyim sebagai penulis awal sejarah sunan Muria memang patut berbangga, karena sebagai warga di sekitaran Gunung Muria asli, beliau mampu membuat sebuah karya tulisan yang kiranya mampu kita baca dan sedikit memiliki gambaran bagaimana sosok sunan muria tersebut secara ilmiah berdasarkan penelitian yang mendalam. Tentunya juga bagi warga Muhammadiyah saat ini yang mana seringkali jika membicarakan Sunan dan dakwah seni budaya akan dekat dengan gerakan Nahdliyin. Pun demikian saat ini kita bisa temukan buku tebal berjudul Sejarah Sunan Muria, hasil kerjasama UIN Walisongo Semarang dengan Yayasan Masjid Sunan muria kudus yang kiranya kita perlu membacanya dan membelinya tentunya sebagai referensi babon tingkat ke dua tentunya setelah kita membaca Sunan Muria Antara Fakta dan Legenda Karya Umar Hasyim seorang warga persyarikatan yang berdedikasi tinggi pada dunia Literasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *