Opini

Toga

Toga

Oleh : Wildan Sule Man

Apa yang saudara bayangkan jika melihat toga?, bisa dipastikan jawabannya adalah busana yang dipakai hakim saat bertugas dipengadilan dan pakaian yang dikenakan oleh wisudawan sebuah lembaga pendidikan saat digelar perhelatan wisuda. Dengan kesamaan busana yang mereka pakai, rupanya hakim yang mempunyai karakter bijaksana harus dimiliki pula oleh para wisudawan. Dalam kaitan ini ada sebuah kisah menarik.

“Disuatu tempat yang bernama desa Imajiner terdapat madrasah rakyat yang terletak didaerah pedesaan. Seperti tahun yang lalu, madrasah itu mengadakan perhelatan wisuda bagi siswa siswinya yang telah selesai menempuh pendidikan. Namun acara wisuda kali ini oleh bapak kepala didesain cukup unik.

Jika ditahun kemarin acara wisuda diadakan di gedung kelurahan yang tertutup oleh tembok dan terpisah dengan realita yang terjadi di luar. Namun kali ini berbeda, Bapak kepala menggelar acara wisuda di alam bebas alias outdoor, beliau menginginkan acara itu dihelat dilapangan, atau ditengah hutan, atau ditempat pembuangan akhir sampah, atau diterminal, atau dibibir pantai, atau ditepi sungai, supaya para siswa setelah diwisuda nanti memiliki kepedulian terhadap apa yang ada disekelilingnya, faham akan realitas sosial, mengerti akan kehidupan nyata, tanpa sekat tembok tinggi yang seolah olah memisahkan siswa dengan apa yang seharusnya dihadapi.

Baca juga :  Menyiapkan Generasi Pemenang Sesuai Zaman

Dan ahirnya bapak kepala menjatuhkan pilihannya ditepi sungai tak jauh dari madrasah rakyat, kenapa tempat itu menjadi pilihannya?. Jawaban pertanyaan ini dapat kita ambil dari wejangan beliau kepada wisudawan. “Wahai kalian anak anak ideologisku, wahai kalian yang berjubah toga, lihatlah didepan kalian sungai yang mengalir, seperti watak sungai, ia akan berjalan menuju muaranya dari hulu ke hilir, dalam perjalanannya ia akan memberikan manfaat bagi sekitarnya, mengairi sawah dan perkebunan, memberi minum hewan ternak, memacu pergerakan demi keseimbangan alam, namun seperti yang kalian lihat sendiri, sekarang air telah berubah, rupanya ada laku kita yang kurang sopan terhadap sungai ini, lihat sampah berserakan diantara bebatuan itu, air semakin keruh dan dangkal, Saya sebagai kepala berpesan kepada kalian semua, siapkah kalian menjawab persoalan yang ada didepan mata kalian, apakah hanya akan diam saja dan tak peduli sedikitpun, Lihatlah toga yang kalian pakai, itulah baju kebesaran untuk menjadi tak sekedar pandai, namun saatnya kalian menjadi manusia bijak, yang siap menghadapi kehidupan yang luas dan tak sesempit ruang ruang kelas, kali ini yang kalian lihat adalah sungai yang kotor, suatu ketika nanti kalian perlu cari jalan keluar untuk mengatasi kecerobohan ini. Wahai kalian yang saat ini berbusana toga, bersiaplah menatap masa depan yang sarat tantangan”.

Baca juga :  MERDEKA

Jika kita cermati dari wejangan kepala madrasah kepada murid muridnya, beliau menjabarkan makna Wisuda, toga dan kebijaksanaan. Beliau menjelaskan bahwa toga bukan sekedar pakaian saat “Festival” wisuda. Toga adalah sebuah pesan. Pesan untuk berusaha menjadi insan yang bijaksana, bukanlah berarti wisudawan yang bertoga itu lantas tugas belajar telah selesai, tapi mengingatkan mereka untuk senantiasa belajar lebih giat lagi sebagai bekal menghadapi kenyataan hidup yang makin pelik.

Senin enam juni 2022 kemarin, madrasah kami melaksanakan upacara perpisahan siswa kelas enam yang cukup meriah, acara yang didesain serupa dengan wisuda, disebuah gedung yang cukup megah dengan mengambil tema “belajar, berfikir, berkarya”.

Tema diatas mengingatkan kepada kita semua, bahwa tugas hidup didunia ini tidak jauh dari ketiga aktivitas itu, belajar berfungsi sebagai up grade diri untuk menambah ilmu, berfikir sebagai wujud kehati-hatian sebelum melangkah. Dan berkarya sebagai buah dari arti syukur kepada tuhan, bahwa kita diberi kelengkapan tubuh ini untuk difungsikan maksimal demi membuahkan karya yang tentu bisa bermanfaat untuk orang lain. Akhirnya semoga kita termasuk bagian dari pemakai “toga” yang sanggup membuahkan kebijakan dan kebajikan. Wallahu A’lam bishowab.

Related posts
Opini

Idulfitri

Oleh : Wildan Sule Man Tulisan ini saya hadirkan sebab sebentar lagi Ramadhan 1445 H akan segera…
Read more
Opini

Ber-Idul Fitri (Bukan) Hanya Saling Memaafkan

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Idul Fitri merupakan hari raya…
Read more
Opini

Tradisi Mudik & Geliat Ekonomi Kaum Urban

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Tradisi mudik pada hari raya…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *