Opini

Sepuluh

Sepuluh

Oleh : Wildan Sule Man*
Tulisan 10 Nopember 2021

Dalam dunia sepak bola, nomor sepuluh itu “sakti”, coba saudara cermati, para pemain sepak bola dunia yang bernomor punggung sepuluh bisa dipastikan seorang “player” yang penuh skill, mahir, dan mesin pencetak gol. Saat saya kecil, pesepakbola yang terkenal sekaligus melegenda dan berkostum nomor sepuluh diantaranya adalah Diego Armando Maradona dari Argentina, Ruud Gullit sang striker berambut gimbal dari Negeri Belanda dan Roberto Baggio si kucir dari tim Azzuri Italia yang lihai mencetak goal.

Tak dapat dipungkiri, sejak dahulu sepak bola telah menjadi magnet tersendiri untuk disaksikan, dari anak-anak hingga dewasa. Saya ingat betul semasa bocah dahulu ketika bermain bola bersama teman-teman dilapangan kampung tanpa sepatu, jika berhasil mencetak goal ke gawang lawan, mereka akan berteriak riang dan bergaya ala bintang-bintang bernomor punggung sepuluh kesukaannya. Bahkan sangking legendanya nomor sepuluh pada arena sepak bola dunia, kami yang anak anak kampungpun tak mau ketinggalan ingin menjadi pemain nomor sepuluh, Dan saya ingat betul waktu itu, demi nomor punggung sepuluh, kaos oblong yang kita pakai rela untuk ditulis angka sepuluh, baik dengan spidol, polpen dan alat lainnya. Mereka tetap saja percaya diri walau tulisan angka sepuluh di kaos oblong itu tampak blepotan dan tak presisi, yang penting tetap main sepak bola, tetap merasa gembira dan jika kemudian sukses mencetak gol digawang lawan, selebrasi ala Maradona, Ruud Gullit dan Roberto Baggio akan ditampilkannya.

Jagad sepak bola dan dunia sekolah hampir sama dalam melihat angka sepuluh sebagai angka yang istimewa, Angka sepuluh semasa saya duduk di SD hingga SMA merupakan angka tertinggi pada nilai sebuah mata pelaran di sekolah, mendapatkan nilai sepuluh berarti memperoleh poin sempurna, sekarang nilai sempurna bukan sepuluh lagi tapi seratus. Nilai sepuluh kala saya sekolah dahulu, memberi tanda bahwa para guru dan orang tua akan menyayangi sekaligus bangga kepada kita, apalagi jika nilai itu diperoleh secara konsisten. Saya tergolong mahluk yang langka memperoleh nilai akademik istimewa itu. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika ilmu pendidikan, telah tampak disana sistem penilaian bukan hanya segi akademiknya saja, namun kecerdasan emosi dan kepandaian spiritual juga mulai diberi penilaian sebagai kemampuan yang berpengaruh dalam proses pendidikan.

Dedikasi, perjuangan dan konsistensi barangkali kata yang tepat untuk diberikan oleh para pemain bola yang bernomor punggung sepuluh. Sebab untuk menyandang kostum kebesaran itu tentu tidak dengan jalan yang mudah, selalu berlatih, fokus, kekuatan mental dan pantang menyerah serta menjunjung sporivitas menjadi modal utamanya. Begitu juga seorang pelajar yang ingin mendapatkan nilai sempurna, maka perlu perjuangan yang tak ringan. Belajar dan selalu belajar, membaca, menelaah, meneliti, menganalisa, dan bersikap tanggung jawab, yang harapannya kelak ilmu itu berbuah amal nyata untuk kemaslahatan masyarakat dan Negara serta agama.

Berangkat dari ulasan diatas, ada sebuah pertanyaan, Apakah saudara sekalian memiliki dedikasi diri untuk berjuang memajukan bangsa seperti dedikasi seorang pemain sepakbola terbaik, saat fokus melewati lawan lawan membawa bola menuju gawang dan berhasil mencetak gol dan mendapat target sempurna?, Apakah anda mempunyai semangat berjuang dalam kebenaran ibarat seorang pelajar yang menuntut ilmu menemukan nilai kesejatian dalam hidup ini?. Apakah para pembaca yang budiman ini memiliki sikap juang yang nantinya bisa dirasakan manfaatnya bagi kepentingan orang banyak, dan konsisten melakukan perjuangan itu hingga akhir hayat?. Jika jawabannya “ya” maka anda layak mendapat sematan sebagai “pahlawan”. Pahlawan masa depan penerus semangat dan dedikasi para pejuang “sepuluh nopember”, yakni arek-arek Surabaya, para santri dan kyai. Mereka berjuang mengangkat senjata, untuk satu cita mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Selamat Memperingati Hari Pahlawan. Wallahu A’lam Bishowab

*Penulis Amatir

Related posts
Opini

Mbak Bayin dan Perkaderan Pertamaku

Oleh Siti Marhamah Circa 1996, aku mengikuti perkaderan formal pertama di Nasyiatul Aisyiyah…
Read more
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *