EdukasiIslamOpini

Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijah, Semarakkan Seperti Ramadan

Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijah, Semarakkan Seperti Ramadan

Ilham Ibrahim

Kita selalu senang dengan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Mengaji Al Quran semakin giat mengejar target khatam 30 juz. Kita juga senang melihat betapa mudahnya beberapa ayat dari juz terakhir meluncur dari lidah kita. Masjid juga biasanya memiliki kejutan yang menyenangkan: para pengurus menyiapkan menu berbuka yang sangat spesial. Hal ini tentu saja membawa kemeriahan bersama sehingga sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan begitu istimewa.

Namun, kita tidak pernah benar-benar merasakan perasaan yang sama selama sepuluh hari pertama Zulhijah. Masjid tidak penuh pada hari-hari ini seperti selama Ramadan. Kita pula mungkin tidak melakukan ibadah sebanyak yang kita lakukan selama malam-malam Ramadan itu. Padahal Nabi Saw pernah mengatakan kepada kita bahwa sepuluh hari pertama Zulhijah merupakan momen terbaik untuk melakukan perbuatan baik.

Kita tahu bahwa di bulan Zulhijah, bulan suci yang datang hanya dua bulan setelah Ramadan, Allah menambah pahala amal kebaikan. Kita tahu bahwa Allah bersumpah demi sepuluh hari pertama Zulhijah ini dalam Al-Qur’an, dengan demikian menekankan kepada kita pentingnya hari-hari itu. Kita pun tahu bahwa Zulhijah itu penting karena semua amal baik seperti haji, puasa, sedekah, dan tentu saja salat digabungkan dalam sepuluh hari ini tidak seperti waktu lainnya.

Seperti halnya Ramadan yang memiliki lailatul qadar, yang merupakan malam terbesar dalam kalender Islam, maka Zulhijah memiliki Hari Arafah. Kedua momen special ini ditandai dengan pengampunan dan rahmat yang luar biasa yang Allah kirimkan kepada hamba-hamba-Nya.

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Zulhijah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?.” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari).

Namun, dengan semua keutamaan yang disebutkan, banyak dari kita yang masih belum “merasakan” Zulhijah—sebagaimana saat Ramadan. Lantas, mengapa kita seolah terputus dengan Zulhijah? Mungkin salah satu alasannya adalah selama Ramadan, ada begitu banyak aspek komunal dalam ibadah kita. Kita berkumpul bersama untuk baca Al Quran, tarawih, dan buka puasa, misalnya. Apa yang sangat dianjurkan selama Zulhijah, bagaimanapun, adalah menghabiskan waktu sendirian, merenungkan dan mengingat Allah Sang Pencipta kita.

Karena itu, marilah kita memanfaatkan momen Zulhijah ini secara maksimal, meskipun tidak sedang berhaji. Kita dapat melaksanakan ibadah puasa sunah tanggal 1 hingga tanggal 9 Zulhijah. Hal ini ditegaskan dalam hadis: “Dari Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw melakukan puasa pada sembilan hari bulan Zulhijah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, dan hari Senin dan Kamis pertama setiap bulan (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Puasa kita dapat diiringi dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. Dalam Hadis Maukuf di mana Ibnu Umar dan Abu Hurairah bepergian ke pasar pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah seraya mengumandangkan tahlil (La ilaha illa Allah), takbir (Allahu akbar), dan tahmid (Alhamdulillah) dan mengingat Pencipta kita secara keseluruhan. Kemudian orang-orang yang menyaksikannya mengikuti takbir Ibnu Umar dan Abu Hurairah. Kebiasaan para sahabat ini merupakan salah satu bukti dianjurkannya amalan ini.

Selain puasa dan dzikir, sepuluh hari pertama Zulhijah merupakan momen yang tepat untuk bersedakah. Tujuan sedakah bukan untuk melipatgandakan harta yang kita miliki, melainkan sarana bagi kita untuk latihan mengungkapkan rasa syukur kepada Allah. Setelah bersyukur alangkah baiknya dilanjutkan dengan berdoa. Jika sebelum Zulhijah doa kita kurang kencang, maka silakan minta apa saja sebebas-bebasnya kepada Allah pada sepuluh hari pertama Zulhijah ini.

Sepuluh hari pertama Zulhijah juga dapat menjadi waktu yang pas bagi kita untuk kembali merapikan jadwal salat. Jika sebelumnya ibadah kita masih berantakan, kadang disepelekan, atau bahkan ditinggalkan secara sengaja, maka Zulhijah dapat dijadikan momentum untuk bertaubat, meningkatkan ketaatan kepada Allah, dan memperbaiki pelaksanakan salat.

Pada hari kesembilan Zulhijah atau Hari Arafah, selain melaksanakan puasa sunah, mari kita sisihkan waktu untuk duduk dan berbicara secara intim dengan Allah, mengetahui dengan sepenuh hati bahwa Dia adalah as-Sami, Dzat yang selalu mendengarkan.

Terakhir, dari semua cara untuk mendekatkan diri kepada Allah selama hari-hari yang penuh berkah ini, mungkin yang terbesar adalah dengan mengorbankan seekor hewan ternak. Dengan demikian, kita mengikuti sunnah Nabi kita Ibrahim as, memberikan daging sebagai sedekah kepada mereka yang membutuhkan, menegakkan salah satu ritual Islam, dan pada akhirnya mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, kurban sering disebut qurban, dari kata qurb yang berarti kedekatan. Ini adalah bentuk mendekatkan diri kepada Pencipta kita. Semoga kita dapat memaksimalkan sepuluh hari pertama Zulhijah dengan baik.

Related posts
IslamKares Solo

Biodata Ketua Umum PP Aisyiyah periode 2022-2027

Muriamu.id, Kudus – Nama Salmah Orbayyinah barangkali cukup jarang terdengar di telinga warga…
Read more
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *