Sekolahnya Manusia
Opini

Sekolahnya Manusia

Oleh : Rofitrasari – Pendidik di SD Muhammadiyah Birrul Walidain

Dalam seuatu lembaga pendidikan pasti terdapat beragam kecerdasan yang dimiliki anak didik baik itu kecerdasan kinestetis, kecerdasan musik, kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-linguistik. Bahkan anak yang dianggap memiliki keistimewaan, sebenarnya mereka hanyalah anak yang memiliki kecerdasan yang tidak diapresisai oleh budaya kita. Bahkan dalam suatu kasus bukan siswa yang bermasalah tapi harus ada guru yang terus mau belajar dan mencipta. Sanagat baik jika seorang guru mengunakan Multiple Intelligences sebagai sebuah strategi pembelajaran.

Multiple Intelligences merupakan kecerdasan majemuk yang ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard Univercity, Amerika Serikat.

Dalam teori Multiple Intelligences kecerdasan seseoranmg dibagi menjadi 8 kecerdasan yaitu;
(1) kecerdasan verbal-linguistik;
(2) kecerdasan logis-matematik;
(3) kecerdasan visual-spasial;
(4) kecerdasan berirama-musik;
(5) kecerdasan jasmaniah-kinestetik;
(6) kecerdasan interpersonal;
(7) kecerdasan intrapersonal;
(8) kecerdasan naturalis.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai berbagai kecerdasan yang yang dikemukakan oleh teori Multiple Intelligences melaikan kunggulan penerapan MI (Multiple Intelligences) sebagai strategi pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru-guru hebat yang mau terus belajar dan mencipta.

Baca juga :  Venue Muktamar

Dalam menyampaikan sebuah materi pembelajaran guru hendaknya menyadari adanya modalitas, modalitas dibagi menjadi 3 saluran/pipa. Yaitu pipa Auditiv, Visual, dan Kinestetis. Dalam buku “sekolahnya manusa” karya Munif Chatib, modalitas diibaratkan sebagai pipa yang harus kita pilih untuk mengalirkan air (sebagai simbol pengetahuan) kepada seorang murid. Bagaimana memilih pipa yang pas sehingga kelereng itu bisa diterima dan ditangkap oleh murid.

Adanya penyakit Disteachia (salah mengajar) yang jarang dipahami oleh para guru. Disteachia menganduung 3 virus yaitu Techer Talking Time, Task Analysis, Tracking  . (1)Techer Talking Time seperti guru menghabiskan 80% jam pelajarannya untuk ceramah dengan mengnggap bahwa siswanya mampu menagkap semua materi-materi yang disampaikan. Dalam strategi pembelajaran guru mengajar dan siswa belajar adalah dua proses atau jalan yang berbeda. Artinya saat guru mengajar belum tentu siswa juga belajar. Ketika siswa banyak melakukan aktifitas itulah sebenarnya saat siswa belajar. Jadi presentase yang ideal dalam suatu kegiata belajar mengajar yaitu 30% guru presentasi dan 70% siswa melakukan pembelajaran dengan praktek atau melakuakn kegiatan yang dapat menunjang kecerdasan yang dimiliki setiap siswa.

(2)Task Analysis yaitu penyampaian materi yang to the point tidak menyertakan kebermanfaat mata pelajaran yang dipelajari dalam kehidupan nyata atau terburu-buru untuk menyampaikan materi secara khusus-umum, sebaiknya seorang guru melakuakn Global Analysis (umum-khusus) karena dengan guru menyampaikan pengertian secara umun atau menyampaikan manfaat dari suatu mata pelajaran dengan menjelaskan manfatnya didalam kehidupan baru masuk kedalam materi-materi khusus akan memberikan dampak yang baik yaitu lama diingat oleh otak.

Baca juga :  Pengajian Karyawan-wati Sari Group

(3) Tracking, Tracking merupakan pengelompokan siswa kedalam beberapa kelas berdasarkan kemampuan kognitifnya seperti kelas A untuk anak-anak yang unggul prestasi kognitifnya, kelas B untuk anak-anak yang reguler atau biasa saja. Dampak negatif dari penerapan sistem ini yaitu anak yang pandai akan mengalami kemunduran tingkat kecerdasan karena padatnya materi-materi yang diterima tanpa memperhatikan kencederungna kecerdasanya.

Ada banyak penerapan strategi pembelajaran MI seperti belajar dengan cara outdoor. Siswa diajak belajar diluiar kelas untuk mengamati lingkungna disekitarnya kemudia siswa diberi kesempatan untuk presentasi dengan waktu 5-7 menitdan bergantian kengan kelompok lain. Model belajar seperti ini dapat mengasah semua jenis kecerdasan, dan Be a Discovere siswa diajak belajar dengna cara mengisi hipotesis-hipotesis yang sudah disiapkan oleh guru. Strategi pembelajaran ini merupakan perpaduan bebrapa kecerdasan, kecerdasan matematis-logis, naturalis, internal dan interpesonal.

Baca juga :  Sapu Lidi

Merancang strategi pembelaran dapat dilakuakn denngan menetukan beberapa point berikut ini;

  1. Pradigma pembelajran, presentasi mengjar guru 30%, dan sisanya aktifitas siswa 70%.
  2. Modalitas belajar, (a)visual: warna, gambar, tabel, diagram, grafik, dll. (b) Auditorial: musik, nada, irama, cerita, dialog, dll. (c) kinestetik: gerak, aktivitas tubuh, emosi, koordinasi. Gunakan modalitas kinestetis dan visual dengan akses informasi melihat, mengucap, dan melakukan.
  3. Memori jangka panjang, untuk meningkatkan daya ingat yang dimiliki siswa dapat dengan cara meningkatkan materi yang diajarkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung keselamatan hidup.
  4. Muatan emosi yang kuat, ketika menyampaikan materi kepada siswa seorang guru hendaknya denga melibatkan emosinya. Hindari penyampaian materi yang hambar dan membosankan.
  5. Punya arti, pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa untuk menghasilkan manfaat yang nyata, melalui ini siswa dapat menunjukkan eksistensi dirinya.

Informasi yang akan masuk ke dalam memori jangka panjang;

  1. Terkait dengan keselamatan hidup
  2. Memiliki muatan emosi yang kuat
  3. Memberi penghargaan terhadap eksistensi diri
  4. Mempunyai frekuensi tinggi (diulang-ulang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *