Opini

Ramadhan sebagai Langkah Awal Taqwa yang Berkelanjutan

Ramadhan sebagai Langkah Awal Taqwa yang Berkelanjutan

Oleh : Isa Annafi
(Bidang Dakwah PRPM Gondosari)

Menengok asbabun nuzul  turunnya ayat al-Qur’an terkait perintah berpuasa di bulan Ramadhan, yaitu diturunkan bukan pada saat bulan Ramadhan. Akan tetapi, perintah berpuasa turun sebelum Ramadhan. Tidak lain hal tersebut bertujuan agar umat Islam pada zaman Nabi dulu dapat menyiapkannya semaksimal mungkin untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, sehingga dapat memanen hasil pada bulan Ramadhan.

Seperti perintah berpuasa di bulan Ramadhan yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang mewajibkan umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Pada ayat tersebut disebutkan bahwa tujuan dari berpuasa yaitu la’allakum tattaquun (Agarkalianbertakwa). Pada ayat tersebut menggunakan redaksi bentuk Fiil Mudlari’ yang memiliki faedah yufsidu at tajaddud wa al istimraar, artinya menunjukkan pekerjaan yang sedang dilakukan sekarang dan terus menerus.

Lalu pertanyaannya siapa yang dimaksud dengan orang yang bertakwa. Merujuk redaksi pada surah al Baqarah ayat 2 yaitu pada penggunaan kata al-muttaqiin (orang orang yang bertakwa), berasal dari kata al-ittiqaa’ (batas antara dua benda). Secara bahasa, sederhananya seolah olah memberikan arti bahwa orang yang bertakwa memiliki batasan antara perintah dan larangan Allah, batas antara dia dan siksa-Nya.Artinya, orang yang bertakwa yaitu orang yang menjaga dirinya dari sebab sebab siksaan Allah, baik di dunia atau di akhirat.Menurut jumhur ulama, cara efektik dalam  menjaga diri yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauahi larangan-Nya.

Masih pada surah al Baqarah ayat 2 dilanjutkan sampai dengan ayat 5 yang menjelaskan mengenai tentang sifat orang yang bertakwa.Pada ayat tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua aspek yaitu aspek teologis dan sosiologis. Aspek teologis berorientasi pada “iman” seperti halnya iman kepada hal ghaib, kitab terdahulu dan iman pada hari akhir. Sedangkan aspek sosiologis berorientasi pada “amal shaleh” seperti infak. Dalam kehidupan sehari hari, iman diartikan sebagai nilai, sementara amal shaleh diartikan sebagai perilaku dan perbuatan. Sedangkan dalam ajaran Islam memperhatikan keseimbangan keduanya, artinya nilai harus selalu diikuti dengan perilaku dan perilaku harus didasarkan dengan nilai.

Baca juga :  Seni dalam Memimpin

Nilai tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas kehidupan sehari hari yang darinya dapat diketahui sesuatu itu baik atau tidak, layak atau tidak, maslahat atau tidak, memberdayakan atau tidak. Artinya, nilai harus tercermin dalam perilaku sehari hari seperti halnya berinfak sebagai bentuk kepedulian dan pemberdayaan. Oleh karenanya umat Islam harus memiliki etos untuk rasa memedulikan dan memberdayakan sesama. Upaya tersebut merupakan bentuk cerminan keyakinan atas eksistensi Allah yang disertai keyakinan adanya hari akhir tempat menuai amal perbuatan di dunia.

Kembali pada surah al-Baqarah ayat 183 dalam penggunaan redaksi tattaquun yang berfaedah yufsidu at-tajaddud wa al-istimroor (artinya menunjukkan pekerjaan yang sedang dilakukan sekarang dan terus menerus). Artinya aspek ketakwaan tidak hanya dilaksanakan pada bulan suci ramadhan saja, akan tetapi juga pada bulan lainnya. Harapannya pada bulan ramadhan dijadikan sebagai momentum untuk memupuk ketakwaan yang akan berlanjut pada bulan bulan berikutnya. Amalan amalan ibadah yang digaung gaungkan mampu memberikan dampak pada perilaku di bulan bulan lainnya.

Upaya tersebut sebagai perwujudan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam yang tentunya harus dimanifestasikan setiap saat. Dengan ketakwaan yang memiliki aspek teologis dan sosiologis akan memberikan kepastian rasa aman, tenteram, bahagia dari Allah. Sebagaimana firman Allah,

….Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusanNya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (Q.S. al-Thalaq [65]:2-5)

Ayat tersebut memberikan penjelasan bahwasanya ketakwaan akan melahirkan konsekuensi sosiologis dari diampuninya kesalahan dan dilipatgandakan pahala yaitu dengan jaminan akan kemudahan dalam urusan, kecukupan dan kelapangan rizki serta perasaan tenang.

Baca juga :  Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan (Bagian 2)

Dalam bahasa sosiologis konsep tersebut disebut dengan “kemakmuran” (prosperity). Kemakmuran dalam hal ini bukan hanya sebatas pada kecukupan materi, tetapi juga ketenangan rohani. Hal ini dapat diwujudkan dengan menjadikan takwa sebagai nilai (value) yang terwujud dengan menyadari bahwa Allah dekat dan bersama dengan kita dengan sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Hal tersebut sepatutnya tercermin sikap sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab bagi orang yang merasa dekat dan bersama Allah. Oleh karena itu, patut bilamana ketakwaan merupakan bentuk tingkat tertinggi dari kesalehan seseorang.

Kemakmuran itulah yang akan melahirkan sebuah kondisi orang yang bertakwa terhindar dari kondisi kesulitan jika senantiasa mengabdi pada Allah. Sebagai yang disampaikan oleh Allah,

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS al Baqarah [2]: 277)

Berdasarkan ayat tersebut bahwa pengabdian secara penuh yang dilakukan akan mewujudkan tiga sifat kehidupan yakni, pertama kesejahteraan yang ditunjukkan pada kalimat (لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ) yang artinya mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya; kedua rasa aman (وَلَا خَوْفٌ) yang artinya Tidak ada rasa takut; dan ketiga kebahagiaan (وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ) artinya mereka tidak bersedih hati. Dengan demikian gambaran orang yang bertakwa adalah orang yang penuh pengabdian kepada Allah dan mencapai jiwa raga yang makmur yang kemudian dicerminkan dengan sikap jujur, disiplin dan tanggung jawab. Hasil dari kesemuanya itu yaitu terlahirnya kondisi hidup yang terhindar dari kesulitan (sejahtera, damai dan bahagia) yang sama sama dilakukan oleh manusia lainnya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Related posts
Opini

Popcorn Brain, Letupan Media Sosial

Oleh: Himawan – Pendidik SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus Perkembangan teknologi…
Read more
IslamOpini

9 Persiapan Warga Muhammadiyah dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Oleh: Dr. M. Muttaqin, M.H(Ketua Majelis Tarjih & Tajdid PDM Jepara) Bulan Ramadhan tinggal…
Read more
Opini

Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan (Bagian 2)

Oleh: H. Nunu Anugrah P Sekretaris PD Muhammadiyah Kab. Cirebon من فرح بد خو ل…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *