Ramadhan dan Spirit Pembebasan Sosial
Opini

Ramadhan dan Spirit Pembebasan Sosial

Oleh : Syahirul Alem, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus

Marhaban yaa Ramadhan 1445 H di sambut dengan beragam tradisi masyarakat setempat. Ramadhan merupakan momentum untuk meningkatkan derajat ketaqwaan manusia. Datangnya Bulan suci ramadhan diharapkan berefek pada perubahan sosial masyarakat. Bulan suci ramadhan 1445 H merupakan bulan di mana umat Islam menunaikan kewajibannya dengan beribadah puasa. Ibadah puasa merupakan spirit spiritual sebagai upaya membebasan atas segala hawa nafsu terutama nafsu makan dan minum. Bagi orang yang beriman menahan hawa nafsu dari makan dan minum adalah tuntutan minimal, maka dari itu setiap insan manusia harus berlomba-lomba menjadikan ibadah puasa sebagai ibadah yang menjadikan manusia selalu terobsesi mencapai derajat ketaqwaan. Sesungguhnya tiada manusia yang termuliakan di sisinya kecuali orang-orang yang bertaqwa. Oleh karena itu kesadaran Illahiah yang tumbuh hendaknya menjadi landasan untuk menggugah batas kesadaran kemanusian untuk sama-sama meringankan beban kehidupan yang makin lama makin berat. Dengan memupuk spirit pembebasan sosial menjadikan segala bentuk nafsu duniawi sebagai sarana untuk mencapai kebahagian di akhirat. Manifestasi spirit pembebasan sosial dapat berwujud dari kesadaran bersama, bagaimana menumbuhkan kesadaran dalam bentuk aksi-aksi sosial untuk mengajak manusia kembali pada fitrahnya.

Secara logika pengaruh individu barangkali tidaklah cukup mampu mengubah tatanan sosial yang sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat, maka dari itu dengan memanfaatkan momentum bulan suci ramadhan  diharapkan efek dari menjalankan ibadah puasa mampu menjadi bola salju bagi ketaatan manusia dalam mengisi ruang-ruang kehidupan dengan berupaya melakukan pembebasan atas segala sesuatu yang membebani melalui instropeksi diri dan juga kontrol sosial. Dari situlah diharapkan tumbuh kesadaran untuk melakukan pembebasan, kalau dalam bulan ramadhan  dilatih untuk menahan hawa nafsu maka bukan berarti sudah merasa puas diri tapi juga harus berupaya membebaskan berbagai hal yang membawa manusia pada sikap penghambaan pada selain Allah SWT.

Baca juga :  Menjaga Pemilu Supaya Tetap Damai

Sikap penghambaan pada selain Allah swt dewasa ini merupakan fenomena yang sudah menjadi kemakluman hidup, namun hal tersebut kurang disadari karena budaya kehidupan yang serba matrialis hinggap tanpa disadari, dinamika kehidupan yang serba materi adalah salah satu contohnya banyak orang berlomba-lomba mengumpulkan materi sehingga orang sampai lupa diri, puncaknya di bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri seringkali di jadikan ajang berspekulasi mencari laba yang setinggi-tingginya. Aksi ambil untung para spekulan dapat di lihat menjelang Ramadhan tahun ini, dimana kenaikan harga-harga bahan pangan adalah salah satu contoh nyata yang menjadi sorotan media masa. Maka dari itu bulan puasa adalah bulan pengendalian diri, pengendalian diri dapat diartikan secara universal artinya tidak sebatas makan dan minum tapi juga menyangkut hal-hal yang berkaitan adanya tindakan yang dapat menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.

Dengan spirit pembebasan sosial saatnya sikap penghambaan terhadap materi harus segera dialih fungsikan dari usaha untuk memperkaya diri menjadi lahan untuk beramal shaleh yaitu dengan menghidupkan lembaga-lembaga zakat, infak dan shodaqoh untuk membantu sesamanya terutama umat Islam yang ditimpa berbagai kesusahan hidup. Dari 270-an juta penduduk Indonesia. Saat ini masih banyak umat Islam yang membutuhkan uluran tangan mereka para dermawan. Tantangan kesenjangan sosial yang makin melebar merupakan bukti nyata yang harus dijawab oleh segenap insan yang beriman sehingga diharapkan pada bulan Ramadhan ini sesama umat Islam saling membantu terutama bagi mereka yang diberi kelebihan rizki melalui zakat dan sedekah, Jika kesadaran tersebut tumbuh sebagai bagian dari spirit sosial ibadah puasa Ramadhan maka dapat berefek dengan berbagai pemberantasan penyakit masyarakat seperti judi, preman dsb karena selama ini kehidupan yang termarginalkan mengakibatkan merebaknya penyakit-penyakit sosial, sebagai bentuk ikhtiar bukan dalam rangka memvonis maka dari itu akan lebih baik jika spirit pembebasan sosial menebarkan aksi aksinya dalam bentuk perhatian bukan melakukan sweeping atau aksi kekerasan yang berdampak makin teropininya umat Islam sebagai umat yang selalu mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial.

Baca juga :  Muhammadiyah Besar bukan Karena Sokongan Rezim

Perjuangan pembebasan sosial yang dimulai dari hal-hal yang sifatnya privasi harus terus diupayakan untuk menembus ruang-ruang publik sebagai bentuk amar ma’ruf nahi mungkar dengan melihat potensi umat Islam Sebagai umat mayoritas diharapkan spirit pembebasan sosial mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah, berbagai upaya penertiban yang dilakukan oleh pemerintah adalah ikhtiar untuk senantiasa menghormati bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini yaitu dengan melakukan penutupan berbagai tempat hiburan. Inti dari sebuah spirit pembebasan sosial adalah sebuah tindakan agar dalam menjalankan ibadah puasa merupakan sarana untuk menggembleng kehidupan manusia menjadi insan yang benar-benar mampu menyeimbangkan pesan-pesan kehidupan dunia dan akhirat baik dalam ranah privat maupun publik.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah sebuah pesan moral pentingnya media baik media social maupun cetak sebagai bagian dari alat untuk saling bersinergi dalam upaya membangun watak manusia manusia yang tercerahkan hasil dari pendalaman spiritual ibadah puasa sehingga spirit yang terbentuk adalah bagian dari pemurnian ruang publik dari sikap taklid. Sehingga Pemberitaan dan opini yang terbentuk bukan hal yang berbau sadisme seperti pembunuhan, perkosaan maupan korupsi yang merusak nalar kemanusiaan yang bila teropinikan secara terus menerus berubah menjadi pembiasaan. Dengan menjadikan media massa sebagai relasi dari spirit pembebasan sosial untuk sama sama menyajikan berita yang lebih mengedepankan moral kemanusiaan sebagai penghargaan atas pelatihan-pelatihan spiritual selama ibadah puasa Ramadhan.

Baca juga :  Integritas KPK dan Literasi Anti Korupsi

Bagi umat Islam saat ini pentingnya mengapresiasi upaya Penutupan tempat-tempat sumber maksiat seperti tempat hiburan malam sebagai wujud ikhtiar pemerintah karena akan menjadi beban sosial yang harus ditanggung dan juga bagi para penghuninya untuk kembali ke jalan yang benar selain melakukan pembinaan rohani juga upaya untuk membantu mencari sumber ekonomi secara halal dan thoyyib. Kesadaran –kesadaran fungsional spirit pembebasan sosial menjadi puasa Ramadhan sebagai kawah candradimuka yang akan mendidik manusia menjadi inspirator spirit pembebasan sosial yang diharapkan menjadi naluri bawah sadar manusia artinya tanpa harus di perintah hal tersebut otomatis akan bergerak dengan sendirinya. Sebagai naluri bawah sadar manusia tentu setiap insan akan merasa tergugah untuk segera membebaskan diri dari beban sosial. Bulan ramadhan 1445 H adalah momentum untuk bekerja mencari hidayah Allah SWT, bagi mereka yang selama ini selalu memanfaatkan aji mumpung tentu merupakan wahana untuk selalu berinstropeksi diri kembali menjadi insan yang mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *