Opini

Rajab

Rajab

oleh : Wildan Sule Man*
Rajab 1443 H

Alhamdulillah kita berjumpa lagi dengan bulan Rajab. Bulan yang didalamnya ada catatan sejarah tentang dahsyatnya perjalanan isra’ mikraj nabi Muhammad SAW dari masjidil haram menuju masjidil Aqsa kemudian dilanjutkan ke suatu tempat jauh yakni Sidratul Muntaha, perjalanan satu malam yang tak bisa ditempuh dengan teknologi mutaakhir buatan manusia modern, belum ada informasi dari kajian kajian ilmiah tingkat internasional yang mewartakan produk produk ilmu pengetahuan yang bisa menandingi kecanggihan perjalanan itu, namun kita musti mengimani bahwa perjalanan kanjeng Nabi itu digerakkan oleh kuasa ilahi sang raja semesta, yang tak mungkin bisa ditandingi oleh manusia yang lemah, walau kadang manusia dengan pongahnya telah mendaulat diri sebagai mahluk teknik sekaligus mahluk yang telah memiliki karya teknologi 5.0 namun hakikatnya manusia tetap pada kondisi lemah tak berdaya.

Isra mikraj kanjeng Nabi merupakan sebuah perjalanan yang mengandung nilai nilai kualitas yang merohani, dimana sekembalinya beliau dari perjalanan monumental itu, ada oleh-oleh agung untuk umat manusia khususnya muslimin wal muslimat, oleh oleh agung berupa laku rohani yakni kewajiban sholat lima waktu, “ritual” wajib sebagai senjata ampuh umat islam supaya terjauh dari aksi keji dan mungkar, “tirakat” harian sebagai media latihan kesabaran, alat koneksi langsung kepada Allah SWT supaya selalu dekat dengan Nya. Harapannya dengan sholat itu kita semua menjadi insan yang selalu mendapat kasih sayang Nya, Manusia yang selalu beribadah dan mohon pertolongan hanya Kepada-Nya, asa supaya selalu mendapat petunjuk jalan lurus-Nya yakni jalan yang penuh kenikmatan dan cahaya bukan jalan yang gelap gulita.

Baca juga :  Diaspora Politik Muhammadiyah

Sholat sebagai bangunan iman kaum muslimin terlihat jelas indahnya dan tak tampak sedikitpun lekang oleh sang waktu, meski gerakkanya dari dulu begitu begitu saja, walaupun juga teknologi secara material berkembang pesat dan cepat, tapi saya sendiri belum pernah menjumpai alat teknologi yang bisa menyaingi kumandang iqomah yang tanpa intruksi macam macam, secara otomatis para jamaah dengan tertib berbaris merapikan shafnya, menghadap kiblat melaksanakan sholat berjamaah dengan khusuk. Tak diragukan lagi itu semua karena kesadaran iman yang telah terbangun dalam dada umat islam.

Saya bertambah kagum ketika laku sholat jamaah mengajarkan teori ilmu kemasyarakatan tentang egalitarianisme demokratis, seperti ini contohnya, Walaupun seorang tokoh atau pemimpin umat kalau jumatan datangnya terlambat tidak boleh lantas melangkahi jamaah lantas duduk di shaf terdepan. Dia harus duduk dibelakang. Sementara Paiman yang seorang pengemudi becak karena memang datang lebih awal, maka silahkan menempati shaf pertama. inilah kemudian menjadi ajaran demokrasi yang tak membedakan manusia atas dasar kepangkatan, kekayaan, kedudukan, suku, ras. sebab dihadapan Allah semua mahluk itu sama alias Egaliter, yang membedakan mereka hanyalah nilai takwa yang dimilikinya.

Laku sholat berjamaah menguatkan pula sebuah Teori kepemimpinan. Bila kita cermati dalam sholat berjamaah terdapat pelajaran leadership dan followeship. kepemimpinan dan kepengikutan. Seorang imam atau leadership harus dipilih dari seseorang yang dianggap layak, cakap bacaan Alqur’annya, yang baik akhlaknya, namun bila kemudian terjadi kekeliruan saat memimpin sholat jamaah, seperti salah dalam bacaan, lupa dalam gerakan, maka imam harus dengan tulus dan ikhlas bersedia dibenarkan oleh makmum. Makmum sebagai followership, memiliki hak untuk mengoreksi seorang pemimpin kalau memang pemimpin itu keliru.

Baca juga :  Pelajar Muhammadiyah dan Gerakan Keadilan Iklim

Wal Akhiran. sebagai seorang muslim sudah semestinya merasa bangga atas keagungan sholat ini, oleh-oleh kanjeng nabi dari isra’ mikraj sebagai sarana mendekatkan diri kepada sang pencipta, tak lupa kita apresiasi semua nilai nilai yang terkandung didalam sholat, baik dari segi teori demokrasi maupun teori kepemimpinan. Namun dari itu semua ada hal yang terpenting untuk kita mengerti, tak lain adalah melaksanakan sholat semata mata hanya untuk mendapat ridho dari Allah, memperoleh jalan selamat dan bahagia dunia akherat sekaligus bekal kala suatu saat nanti kita menghadap Nya.

Sudahkah kita bergegas ke masjid saat adzan berkumandang?. Sudahkah kita siap berbaris meluruskan shaf ketika kumandang iqamah telah menggema? ataukah masih asyik saja dengan “balok tipis” teknologi canggih mutaakhir yang melenakan itu? jawaban ada pada pembaca sekalian. Wallahu A’lam bishowab.

*Penulis Amatir. Warga Muhammadiyah Grabag Magelang

Related posts
Opini

UKT Ugal-Ugalan: Pendidikan untuk Siapa?

Oleh: Riza A. Novanto, M.Pd – Pemerhati Pendidikan, Dosen STIKes Muhammadiyah…
Read more
Opini

Mengenal Karakter Umum Pengikut Salafi

Oleh: Dr H Ali Trigiyatno, MAg – Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng Berdasarkan pengamatan…
Read more
Opini

Menebar Kebaikan di Era Disrupsi

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Era Disrupsi sudah tidak…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *