Opini

Popcorn Brain, Letupan Media Sosial

Popcorn Brain, Letupan Media Sosial

Oleh: Himawan – Pendidik SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus

Perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etika dan norma yang ada. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dengan berbagai kultur suku, ras dan agama yang beraneka ragam memiliki banyak sekali potensi perubahan sosial.

Hadirnya media sosial telah mempengaruhi kehidupan sosial dalam masyarakat. Perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial dan segala  bentuk   perubahan didalam suatu masyarakat, Menurut data datareportal Jumlah pengguna digital di Indonesia pada awal tahun 2024 Terdapat 185,3 juta. Untuk pengguna internet dan media sosial di Indonesia pada awal tahun 2024, adalah 139,0 juta dan itu setara dengan 49,9 persen dari total populasi.  Oleh karena itu, Keberadaan dan perkembangan teknologi digital dan media sosial di masyarakat tersebut tentunya akan membawa percepatan kemajuan serta meninggalkan segudang problematika yang baru di masyarakat salah satunya  fenomena Popcorn Brain.

Apa itu Popcorn Brain?

Fenomena Popcorn Brain, atau yang sering disebut juga dengan “Otak Popcorn” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana otak kita terus-menerus terpapar oleh informasi dalam jumlah besar dan kecepatan tinggi, sehingga menyebabkan kita kesulitan untuk fokus dan merespon secara efektif.

Baca juga :  Mencari Pemimpin Muhammadiyah  &  Aisyiyah

Nicholas Carr dalam bukunya yang berjudul “The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains” (2010) mengenalkan konsep tersebut berangkat dari fenomena bagaimana otak beradaptasi dengan stimulasi konstan dan multitugas dunia digital, yang menyebabkan pikiran meniru kecepatan hingar-bingar sehingga meletus seperti biji popcorn.

Nicholas Carr menjelaskan bagaimana internet, dengan segala kemudahan akses informasi dan hiburan yang ditawarkan telah mengubah cara kerja otak kita. Kita menjadi terbiasa dengan informasi yang datang secara cepat dan dalam jumlah banyak, sehingga otak kita terlatih untuk berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya dengan sangat cepat, layaknya popcorn yang meletus-letus dalam panci. Salah satu contoh adalah Mindless Scrolling yaitu kegiatan menelusuri dan menggulir layar handphone atau laptop secara terus menerus, kebiasaan menggulir feed media sosial tanpa tujuan yang jelas tanpa benar-benar memprosesnya. Sehingga mengakibatkan kita menjadi sulit untuk fokus pada satu hal dan cenderung mudah teralihkan.

Apa bahayanya?

Menurut Shin Yee Jin, seorang psikiater dan praktisi pendidikan anak dari Korea Selatan, menyatakan dampak buruk Popcorn Brain adalah Pertama, otak hanya mau merespon stimulus yang cepat dan menarik bagi dirinya. Kedua, Ketertarikan terhadap buku dengan cetakan hitam putih berkurang, karena otak terbiasa dengan warna-warna yang bergerak. Kemampuan adaptasi dengan dunia nyata berkurang sehingga otak kebal terhadap stimulus dari lingkungan. Ketiga, kurang menyukai kegiatan di alam terbuka karena kemampuan bergerak dan bersosialisasi sudah berkurang.

Baca juga :  Hasil

Bagaimana cara mengatasinya?

Secara keseluruhan, fenomena Popcorn Brain adalah tantangan yang dihadapi oleh masyarakat modern dalam era digital. Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, penting bagi kita untuk menyadari dampaknya terhadap otak dan kesehatan mental kita, serta mengambil langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan dalam penggunaannya.

Ada beberapa cara untuk mengurangi fenomena Popcorn Brain yaitu: Pertama, mengukuhkan niat dan berkomitmen pada diri sendiri untuk mengurangi intensitas penggunaan gawai. Kedua, menghindari gawai sewaktu bekerja, istirahat makan siang, menjelang tidur dan waktu mengobrol dengan teman. Upayakan untuk tidak fokus pada gawai dan cari kesibukan lain. Ketiga, Melakukan Hobi Baru, bisa diawali dengan mencoba hal-hal baru dan memulai hobi baru yang tidak melibatkan perangkat gawai.

Related posts
Opini

UKT Ugal-Ugalan: Pendidikan untuk Siapa?

Oleh: Riza A. Novanto, M.Pd – Pemerhati Pendidikan, Dosen STIKes Muhammadiyah…
Read more
Opini

Mengenal Karakter Umum Pengikut Salafi

Oleh: Dr H Ali Trigiyatno, MAg – Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng Berdasarkan pengamatan…
Read more
Opini

Menebar Kebaikan di Era Disrupsi

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Era Disrupsi sudah tidak…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *