Opini

Perlukah Muhammadiyah Bentuk Tim Buzzer?

Perlukah Muhammadiyah Bentuk Tim Buzzer?

Oleh: Riza A. Novanto
Pengamat Media

Jelang Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada bulan november mendatang, rasanya ada yang kurang jika belum muncul kiranya isu apa saja yang akan menjadi pembahasan untuk Muhammadiyah periode mendatang.

Memasuki usia abad ke-2 tentu tantangan dakwah akan semakin kompleks sehingga harus menjadi perhatian bersama agar gerbong besar ini tidak salah jalan dan tentunya penumpangnya tetap setia. Sudah saatnya gerakan dakwah ini tidak hanya terkungkung pada gerakan “amal usaha” namun keropos secara “ideologis”.

Salah satu tantangan di era digital tentunya sangat berpotensi menggerus pemahaman para kadernya sebab saat ini sangat erat dengan istilah era disrupsi yang bisa perlahan akan memudarkan pemahaman agama pada para generasi berikutnya. Metode dakwahnya juga mengalami perubahan pola yang tidak hanya berkutat pada ceramah, kajian, dan sejenisnya. Pesan dakwah dan pesan agama selalu bisa disisipkan dimana saja tanpa mengurangi esensi yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Berbagai upaya tentu harus dilakukan agar jalan dakwah terus berjalan, salah satunya melalui jalan terjal dengan media digital. Di tubuh Muhammadiyah tentu sudah ada majelis yang bisa menaungi dakwah digital ini, yakni majelis pustaka informasi yang tentunya bisa saja dibentuk tim buzzer dakwah.

Istilah Buzzer identik dengan stigma negatif, hal itu sangat wajar sebab selama ini kita selalu disuguhi buzzer yang selalu membuat sebagian orang merasa jengke dibuatnya. Buzzer dikenal sebagai pelaku paling penting dalam penggiringan opini publik dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk memperlancar aksinya.

Secara umum, strategi yang dimainkan oleh para buzzer sangat epik sehingga mampu mempengaruhi stigma masyarakat. Buzzer juga diidentikkan dengan pasukan medsos yang berfungi untuk media kampanye dalam politik.

Disisi lain buzzer juga merupakan salah satu profesi bagi sebagian orang. Di era digital hal itu sangat wajar, sebab pada era digital pekerjaan pada platfom digital penghasilannya semakin menjanjikan.

Stigma negatif yang disematkan pada buzzer bisa saja berubah menjadi buzzer yang difungsikan sebagai pasukan dakwah atau dalam istilah lain “menjadi buzzer dakwah”. Tidak ada yang mustahil, ini akan menjadi ladang amal yang akan terus mengalir. Namun tulisan ini bukan mengarah kepada stigma tentang buzzer, tetapi berupaya untuk membuka mindset fungsi dan peran buzzer pada sisi positif.

Buzzer pada aspek dakwah bisa menjadi angin segar bagi para pegiat dakwah, organisasi, lembaga dakwah maupun para Dai. Sudah banyak yang kita lihat para aktifis dakwah yang melakukan dakwahnya melalui platfom digital. Hanya saja masih sangat jarang kita temui pasukan bazzer yang terlibat untuk membumikan dakwah tersebut.

Dakwah memiliki dimensi yang sangat luas. Mengutip dari Fuad Amsyari (1993) yang mengemukakan bahwa ada empat aktifitas utama dakwah. Pertama, dakwah berfungsi untuk mengingatkan orang akan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dengan lisan. Kalau dalam konteks tulisan ini maka penyampain kebenaran dilakukan melalui media sosial. Kedua, dakwah berfungsi untuk mengkomunikasikan prinsip-prinsip Islam melalui karya tulisnya. Ketiga, dahwah juga berfungsi untuk memberi contoh keteladanan akan perilaku atau akhlak yang baik. Maka pada sisi ini para buzzer dahwah harus bisa menerapkan akhlak medsosiyah dengan tidak mengujar kebencian dan mengumbar narasi-narasi pemecah belah. Keempat, Bertindak tegas dengan kemampuan fisik, harta, dan jiwanya dalam menegakkan prinsip-prinsip Ilahi.

Jika aktifitas utama dakwah diatas di implementasikan oleh buzzer dakwah, tentu akan berdampak positif baik pengetahuan agamanya maupun membentuk perilaku masyarakat di media sosial.

Belum lama ini, beberapa media merilis terkait dengan warganet Indonesia yang masuk pada golongan yang paling tidak punya adab di dunia. Hal itu berdasarkan hasil survei indeks keadaban digital atau Digital Civillity Index (DCI) dari Microsoft. Menunjukkan bahwa Indonesia memiliki skor DCI 76, semakin tinggi skor menunjukkan semakin buruk adabnya.

Adapun negara yang memiliki adab yang lebih baik dalam pergaulan digital dunia seperti Belanda dengan skor 51, Inggris 55, Amerika Serikat 56, singapura 59, dan taiwan 61.  

Membaca rilis tersebut sangat memprihatinkan sebab ini menunjukan ketidaksiapan sumber daya manusia di Inonesia dalam menyikapi perkembangan teknologi, sehingga dakwah harus bisa menjamah kesana. Salah satunya tentu dengan cara membentuk buzzer dakwah yang lebih intens, sehingga netizin Indonesia bisa lebih beradab.

Dengan demikian maka sangat diperlukan adanya buzzer dakwah agar nuansa medsos lebih beradab. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas pemeluk agama Islam tentu bisa menjadi potensi yang besar pagi ladang dakwah di platfom digital sehingga mampu mendidik masyarakat untuk menjaga martabat generasi bangsa khusunya umat Islam.

Ini PR berat bagi Muhammadiyah kedepan sehingga para pimpinan mendatang dari pusat hingga akar rumput harus melek dan benar-benar serius menggarap ladang dakwah yang lebih luas sekaligus menjaga kader-kader penerus dari berbagai ancama pemahaman yang keliru.

Related posts
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Opini

Bertemu Keluarga

Oleh: A. Hilal Madjdi (Ketua PDM Kudus) Tiba-tiba saja tenggorokan terasa tercekat, semacam ada…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *