Opini

Peran Strategis Ibu dan Literasinya Saat Era Robotic

Peran Strategis Ibu dan Literasinya Saat Era Robotic

Peran robotic dalam kehidupan sehari-hari  pada masa yang akan datang sudah tidak terelakan lagi seiring berlangsungnya era revolusi industri 4.0. Terinspirasi dari sosok Jully Tjindrawan yang dikenal sebagai Ibu Robot Semua Anak, sekaligus pendiri World Robotic Explorer (WRE) Indonesia, beliau aktif mengenalkan robotic pada anak-anak sebagai generasi yang  berinteraksi dengan para robot pada masa yang akan datang. Dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa era globalisasi menuntut kemampuan berfikir dan berwawasan agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang makin cepat. Oleh karena itu, menurutnya sejak dini pendidikan harus dibiasakan mengeksplorasi potensi dalam belajar mencintai teknologi agar menjadi kreatif dan inovatif. 

Peran ASI dan Kasih Sayang Ibu

Kecanggihan teknologi yang makin canggih dan mengusai hampir semua lini kehidupan. Membuat kekuatiran manusia makin besar karena teknologi berpotensi membunuh masa depannya. Ada salah satu faktor keunggulan manusia di banding dengan kecerdasan teknologi robotic adalah ASI ibu. ASI mengandung sejumlah nutrisi yang membantu perkembangan otak manusia.  Nutrisi yang terkandung dalam ASI (Air Susu Ibu) di antaranya protein, enzim, taurin, dan asam amino. Selain dapat meningkatkan IQ, menyusui juga membantu menciptakan ikatan kasih sayang yang kuat antara Bunda dan anaknya, yang tidak hanya bermanfaat bagi perkembangan mental, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan harga diri. Era Robotic akan makin menggerus potensi manusia, namun kekuatiran tersebat dapat diminimalisir karena energi asupan ASI dari Ibu. Bayi yang diberi ASI oleh ibu sejak lahir sampai usia 2 Tahun akan memiliki kecerdasan yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensinya pada era robotic. Sehingga keberadaan robot-robot akan berdampingan saling melengkapi dengan potensi manusia dikarenakan Energi ASI memberi kemampuan adaptasi yang tinggi pada manusia sehingga akan mendapatkan lahan-lahan profesi baru pada era robotic nantinya.

Kasih sayang ibu terhadap anaknya adalah sepanjang waktu.itulah gambaran peribahasa bagaimana ibu akan selalu  mencurahkan rasa kasih sayangnya pada anak tercinta. Rasa kasih sayang ibu akan memberikan dampak psikologis supaya proses penciptaan para robot yang juga diciptakan oleh manusia hanya berfungsi secara mainstream sesuai konsep industri 4.0. Bukan robot bengis yang akan menciptakan konflik baru dalam hidup di dunia ini. Manusia-manusia yang sejak lahir selalu disayangi orang tuanya berpotensi menebarkan rasa kasih termasuk bagaimana memperlakukan teknologi robotic yang selalu ramah kehidupan. Kehadiran para robotic bagai gambaran kemudahan hidup manusia sebagai kesan hidup di syurga dunia. Syurga dunia sebagai syurga yang menggambarkan kehidupan yng serba mudah karena kemajuan teknologi. Bagaimana peran ibu dalam melahirkan generasi humanis dan ramah teknologi melalui kasih sayangnya.

Rasa kasih sayang para ibu akan melahirkan generasi yang peka akan keseimbangan lingkungan. Lingkungan membutuhkan sentuhan kasih sayang yang diwariskan oleh para ibu. Karena dengan rasa kasih sayang akan membangitkan kesempurnaan hidup manusia berupa rasa bahagia. Kehadiran teknologi robotic akan disambut dengan penuh kebahagiaan bukan kecemasan. Dengan demikian peran strategis ibu akan mampu menjadi penengah untuk mengharmonisasikan hubungan antara manusia dan robotic.

Saat ini lahirnya robotic baru pada sebatas lingkungan tertentu seperti pengenalnnya pada jenjang pendidikan. Kehadiran para robotic diharapkan bukan seperti api yang menjadi teman saat masih kecil tapi menjadi lawan saat api membesar siap menerjang apapun yang ada dihadapannya. Era robitic juga demikian pada saat di ciptakan begitu  dikagumi namun pada saat dimanfaatkan akan membuat manusia menjadi terpinggirkan.  Maka dari itu pentingnya humanisme sejak dini sebagai langkah antisipatif terhadap keberadaan robot-robot. Disinilah peran ibu sebagai sosok manusia yang mengangkat harkat martabat manusia. Para robot adalah mesin-mesin yang di gerakan atau diciptakan manusia sehingga peran para robotic nantinya bagian dari humanisme masyarakat.

Salah satu manfaat terbesar  kehadiran robotic adalah bermanfaat untuk membantu mereka yang punya cacat hidup sejak lahir. Dengan bantuan para robotic, manusia yang cacat fisik  sejak lahir akan terbantu beraktivitas secara normal. Sehingga mereka akan hidup normal sebagaimana layaknya. Dengan demikian robotic ini membantu para penyandang disabilitas untuk menatap masa depannya sama dengan manusia normal pada umumnya. Sehingga para ibu yang memiliki anak penyandang disabilitas akan mampu bangkit dari cacat fisik dan mental sehingga sumber daya manusia akan teroptimalkan karena penyandang disabilitas juga memiliki berbagai potensi yang perlu dieksplorasi.

Ancaman lingkungan seperti Tumpukan sampah yang makin menggunung membutuhkan teknologi robotic untuk memilah dan mendaur ulangnya menjadi barang yang bermanfaat.  Termasuk sampah-sampah plastik yang tersebar dimana-mana. Selama ini hanya mengandalkan komunitas pemulung, tenaga-tenaga ini jumlahnya sangat besar. Dengan  teknologi robotic segalanya akan berlangsung secara lebih efisien, .peran para pemulung bisa dialihkan dalam bentuk profesi produksi daur ulang hasil sampah (ekonomi sirkuler), sehingga keberadaanya akan makin bermanfaat tidak semata-mata menekuni profesi pemulung.

Pentingnya Penguatan New Literasi

Pentingnya diskusi dan ide adalah bentuk manusia yang ingin berkembang dan maju. Robotic pada masa yang akan datang bisa didisain sebagai robotic partner diskusi serta menggali ide-ide secara langsung. Termasuk dalam hal ini adalah robotic untuk menggerakan program literasi. Peran literasi saat ini banyak yang mengandalkan tenaga pustakawan yang jumlahnya terbatas. Dengan robot-robot canggih akan makin menghidupkan gerakan literasi hingga pelosok Indonesia

Penguasaan literasi yang terkait dengan era robotic juga sama pentingnya. Joseph  E. Aoun (2017 : 54) dalam karyanya Robot-Proof, Higher Education in the Age of Artificial Intelligence menyebutkan, untuk bisa bertahan dan menguasai kehidupan pada masa mendatang yang serba robot,  seseorang perlu memperdalam literatur untuk mengembangkan wawasan dengan menguasai tiga macam literasi baru, yakni literasi teknologi; literasi data; dan literasi humanis.

Pengembangan literasi baru sebagai literasi masa depan dan sudah dimulai sejak awal abad ke-21, literasi tidak lagi dipahami hanya sebatas kemampuan calistung (membaca, menulis, dan berhitung), tetapi lebih jauh lagi dipahami sebagai kemelekkan dan kemampuan menguasai suatu bidang tertentu. Literasi baru seperti literasi teknologi dan literasi data memiliki makna kemampuan menguasai teknologi dan data yang ada untuk dapat digunakan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Banyak manfaat yang dimiliki  dengan menguasai literasi teknologi dan literasi data. Litersi tersebut akan lebih bermakna bagi kehidupan manakala disertai juga dengan literasi humanis. 

Literasi humanis sebagai literasi yang menggugah kesadaran dalam mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kemanusian sangat penting pada saat era robotic, jangan sampai kemajuan teknologi membuat nilai-nilai kemanusian makin tererosi. Dengan kata lain, penguasaan terhadap teknologi dimanfaatkan sepenuhnya untuk mengangkat harkat dan martabat  kehidupan manusia sebagai mahluk sosial. Sepintar apapun sebuah robot, dia hanyalah  mesin, makhluk yang tak berperasaan, karenanya robot  tak mengenal etika . Supaya  memiliki kebijakan dan pertimbangan selain dari apa yang telah diprogram dalam seonggok mesin yang dilengkapi program komputer. Maka Disinilah pentingnya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan (literasi humanis) supaya pemrograman pada robot juga mempertimbangkan etika kemanusian.

Sejak dikenalnya internet, sebenarnya itu awal dari era robotisasi pada hampir semua bidang kehidupan. Bayangan robot jangan selalu dibayangkan benda seperti manusia, bermesin seperti film Hollywood  Robot Transformer. Namun, mindsetnya secara sederhana saja yaitu  teknologi yang mempermudah menyelesaikan pekerjaan kita masih  tergolong robot.  Mesin Berbagai browser dan aplikasinya sebenarnya tergolong juga sebagai robot.

Pentingnya penanaman nilai-nilai agama sejak dini karena agama juga berperan penting dalam membentuk karakter dan keimanan yang kuat. Dengan karakter dan keimanan yang kuat otomatis nilai-nilai humanis akan tetap tertanam dalam setiap jiwa kita dan generasi penerus. Sehebat apapun teknologi yang dikuasai, dengan pendekatan pengetahuan keagamaan dipastikan  tidak akan membunuh sisi humanisnya sebagai manusia ataupun  membanggakan robot yang dapat bertindak lebih pintar dan lebih gesit daripada manusia.

Oleh karena pentingnya peran strategis Ibu dalam membentuk karakter manusia yang humanis termasuk juga mengikuti berbagi perkembangan literasinya. Peran Ibulah yang akan selalu abadi sepanjang zaman yang turut mewarnai kiprah dan  kehadiran generasi-generasi pada eranya. Termasuk kiprah generasi robotic saat ini dan yang akan datang. Akhirnya Selamat Hari Ibu tahum 2022

(Syahirul Alem, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus)

Related posts
Opini

Salman Al-Farisi (Sang Pencari Kebenaran Sejati)

Oleh : Dzanur RoinGuru SD Muhammadiyah 12 Surabaya (SDM dubes) Nama Aslinya adalah Mabah bin…
Read more
Opini

Tak Ada Degradasi, Lekas Sembuh Federasi

Oleh Hendra Hari Wahyudi Negeri ini memiliki banyak sekali kekayaan, mulai dari alam hingga…
Read more
Opini

Uta Uta no Mi, Mugen Tsukuyomi, dan Renungan Al Ghazali

Oleh Ilham Ibrahim Saya sudah nonton film One Piece: Red beberapa bulan yang lalu namun baru…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: