IslamOpini

Pemurtadan, Problem Teologi atau Sosial ?

Arif Wibowo*

Saya memang tidak terlalu tertarik dengan aneka program muluk-muluk dari berbagai buku dan tulisan kaum evangelis, sebab jumlah mereka di kalangan Kristen Indonesia sendiri adalah minoritas. Jadi kalau mereka bicara tentang sebuah rencana penaklukan spiritual atas muslim Indonesia, tak perlu terlalu heboh nanggapinya. Khas gaya bahasa orang Amerika, bombastis.

Di tahun 2000-an, banyak aktifis yang dibuat sibuk dengan program Transformasi Indonesia, yang menargetkan tahun 2005 sebagai era pembukaan pertobatan massal dan berpuncak pada tahun 2020 dimana Indonesia sudah mayoritas Kristen. Dan seperti apa yang saya katakan, kang Mitro ki nggedebus.

Meski demikian, kalau penguasaan politik, melalui jejaring para anteknya di dalam negeri harus diakui, mereka cukup kuat. Duitnya banyak.

Gerakan penginjilan memang telah melalui perjalanan panjang. Sejak era gereja awal dimana diartikan sebagai gerakan untuk mempertobatkan orang-orang kafir, kemudian ketika gereja telah berkawin dengan negara definisinya menjadi pertaubatan bangsa kafir, dimana proses penaklukan suatu bangsa sah diikuti oleh kewajiban untuk mengkristenkannya. Da Vinci Codenya Dan Brown apik menggambarkan era ini.

Dan kini, ketika agama tak lagi disekat oleh negara dan wilayah regionalnya, maka upaya mempertobatkan orang-orang kepada kekristenan itu juga berubah. Mayoritas gereja tidak langsung mengkaitkan penginjilan dengan upaya proselitisasi atau pergantian agama secara langsung.

Penginjilan adalah upaya untuk menebar Cosmic Christ kepada umat manusia, menjadi mirip dengan konsep rahmatan lil ‘alaminnya Islam. Meski demikian, motif penginjilan dalam pengertian mempertobatkan orang agar menjadi pengikut Kristus, tetap menjadi motif dasarnya. Hanya saja, agar benih tumbuh subur, maka ladang itu perlu dicangkul, diairi dan dipupuk lebih dulu. Dengan demikian nanti benih yang ditabur akan tumbuh dengan subur, kuat menjulang.

Proses mencangkul, mengairi, memupuk itu melalui banyak pintu diakonia. Pelayanan kesehatan, pendidikan, pelayanan terhadap kaum miskin dan juga pemberdayaan ekonomi. Jadi pada wilayah inilah harusnya dakwah berkontestasi dengan misi.

Sayangnya, ketika kita berbicara tentang misi Kristen, bayangan pertarungan kita ada di ranah kristologi. Bukan maksud saya menafikan bidang tersebut, tapi itu saja tidak cukup bahkan sedikit salah alamat.

Yang pas dihadapi dengan Kristologi itu kaum evangelis yang minor secara jumlah, tapi suaranya lantang melebihi TOA dan memang jualannya teologi.

Dan dalam prakteknya, proses pemurtadan, keluarnya orang dari Islam, mayoritasnya, disebabkan oleh problem politik, ekonomi, pendidikan dan yang umum akibat perkawinan.

Demikian, kurang lebihnya, isi dari obrolan yang saya sampaikan pada rekan-rekan dari Bandung, yang dengan antusias datang dari jauh, menyempatkan diri mengikuti pertemuan yang digagas MCKS di Kopeng pada minggu lalu.

Related posts
Opini

Mbak Bayin dan Perkaderan Pertamaku

Oleh Siti Marhamah Circa 1996, aku mengikuti perkaderan formal pertama di Nasyiatul Aisyiyah…
Read more
IslamKares Solo

Biodata Ketua Umum PP Aisyiyah periode 2022-2027

Muriamu.id, Kudus – Nama Salmah Orbayyinah barangkali cukup jarang terdengar di telinga warga…
Read more
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *