Opini

Pemuda Muhammadiyah, Krisis Peradaban dan Celah Kebangkitan

Pemuda Muhammadiyah, Krisis Peradaban dan Celah Kebangkitan

Oleh : Ustaz Fahmi Salim*

Berkaca kepada krisis mesir era hyksos dan krisis adab keluarga Ya’kub menghantarkan Yusuf menjadi leader handal dan tahan banting.

Selanjutnya, krisis Mesir era Fir’au dan krisis kepemimpinan Bani Israel mengantarkan kelahiran Nabi Musa menjadi leader pembebasan suatu bangsa yang saat itu diperbudak rezim thaghut.

Kisah lainnya, krisis adab Bani Israel yang ditindas oleh bangsa lain mengantarkan lahirnya Thalut dan Daud sebagai leader, puncak kejayaan Israel pada masa kerajaan David dan Sulaiman. Namun pasca Sulaiman, krisis nilai Bani Israel semakin menjadi hingga lahirnya Nabi Isa.

Nahkan risalah dan kepemimpinan Nabi Muhammad pun diawali dari krisispenyerangan Ka’bah oleh Anrahah dan situasi kritis kerusakan parah Yahudi Nasrani (Ahli Kitab Bani Israel) dan kesesatan Bani Ismail yang musyrik.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa krisis melahirkan pemimpin. Pemimpin dibimbing oleh narasi besar impian dan cita-cita yang bersumber dari wahyu.

Surat Yusuf, Surat Bani Israil hingga surat Ar Rum mengisahkan narasi-narasi besar ini. Bahkan dari krisis perang Ahzan, Rasul kemudian mencanangkan visi penaklukan Yaman, Persia dan Romawi. Setelah Fathul Makkah, Rasul menubuatkan Fathu Konstantinopel sebelum Fathu Roma.

Dari semua ibrah itu, Pemuda Muhammadiyah harus pandai membaca arus perubahan sejarah seperti diajarkan Alquran diatas. Sebagaimana para Nabi, Pemuda Muhammadiyah juga harus pandai menempa diri rela berkurban dan melakukan yang terbaik untuk umat.

Selain itu, Pemuda Muhammadiyah juga tidak boleh menjadi pemuda yang hubbun dunya, mengemis dan minta imbalan jabatan dan harta dari kerih payah pengorbanannya sebagaimana bangsa Indonesia paska revolusi.

Dalam melaksanakan perjuangannya, Pemuda Muhammadiyah harus mencari pembimbing atau guru yang tepat untuk membimbing dan mendidik jiwanya sebagaimana pengalaman kebangkitan di era Salahuddin Ayyubi.

Pemuda Muhammadiyah harus menekuni dan menguasai kurikulum pendidikan Islam yang tepay. Bukan hanya penguasaan ilmu normatif tapi juga punya tanggung jawab islah dan amar ma’ruf nahi munkar yang konsisten dengan role.model kurikulum pendidikan Al Ghazali dan Abdul Qadir Aljilani.

Kemerdekaan Indonesia adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan perjuangan segenap rakyat Indonesia, khususnya kepeloporan para ulama. Maka jangan tinggalkan ulama dalam mengisi kemerdekaan RI. Jangan menyusun konsep-konsep pembangunan yang sekuler dan meninggalkan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa.

*Wakil Ketua Majlis Tabligh PP Muhammadiyah

Related posts
Opini

Mbak Bayin dan Perkaderan Pertamaku

Oleh Siti Marhamah Circa 1996, aku mengikuti perkaderan formal pertama di Nasyiatul Aisyiyah…
Read more
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *