Muhammadiyah Besar bukan Karena Sokongan Rezim
Opini

Muhammadiyah Besar bukan Karena Sokongan Rezim

Oleh : Nurbani Yusuf

Gus Dur pernah berkelakar : ‘Muhammadiyah itu kaya-raya tapi pengurusnya miskin-miskin’.
Muhammadiyah adalah organisasi yang diberkati tulis Carl Whiterington peneliti senior Amerika.

Ketika Prof Nakamura peneliti Jepang berkunjung : Pak AR Fakhrudin Ketua PP Muhammadiyah empat periode organisasi terkaya di dunia itu tinggal di rumah kontrakan yang tak pernah dimilikinya jual bensin eceran dan membonceng Prof Nakamura dengan motor yamaha butut ke kanturnya.

Soekarno adalah kader dan santri nginthil Kyai Dahlan.
Soeharto adalah alumni SMP Muhammadiyah Kemusuk Magelang.
Jendral Besar Suidrman adalah guru sekolah dasar Muhammadiyah di Ambarawa dan pengurus Kepanduan Hizbul Wathan.

Muhammadiyah lahir jauh sebelum NKRI berdiri— Muhammadiyah berdiri tahun 1912. NU berdiri tahun 1926. Indoenesia merdeka tahun 1945. Rentang waktu yang menceritakan sebuah eksistensi perjuangan dan kesahajaan.

Muhammadiyah bikin rumah sakit sebelum ada departemen kesehatan, bikin sekolah dari PAUD hingga perguruan tinggi sebelum ada kemendiknas, bikin panti asuhan, baitul amal, LazisMu sebelum ada departemen sosial atau departemen keuangan.

Baca juga :  Rahajeng, Menelisik Pidato Pembukaan Ketua Nasyiah Jawa Tengah yang Bernas tanpa Spasi

Sebab itu jika ada yang bilang bahwa kami kenyang saat orde baru, itu tuduhan keji, sebab kami diajari untuk memberi, bukan diberi —para pimpinan dan ulama kami tak pandai bikin proposal. Apalagi menjilat ke para penjabat untuk dapat proyek atau konsesi pengelolaan tambang.

Kami urunan bikin masjid, sekolah, universitas atau rumah sakit — setelah besar kami berikan untuk Persyarikatan, semua amal usaha yang kami punya bukan milik para pimpinan, pengurus atau bahkan ulama, tapi milik Persyarikatan, tidak ada yang dimiliki pribadi yang bisa diwariskan kepada anak cucu.

Meski begitu, Kami tidak menutup diri —setiap pemberian baik dari pemerintah atau siapapun kami terima dengan senang hati sebagai amanah, kemudian kami kelola dengan penuh amanah dan sepenuhnya menjadi milik persyarikatan Muhammadiyah,
Kami juga bikin proposal secukupnya, meminta sumbangan sepatutnya, tidak berlebihan atau memaksa-maksa sambil menakar jasa.

Meski menabalkan sebagai organisasi modern, sesungguhya kami tetap konvensional secara generik. Tetap bersahaja, sederhana dan apa adanya. Merawat urunan, silaturahim dan kajian-kajian sederhana. Itu salah satu rahasia kenapa Persyarikatan kami tetap survive meski berbagai hambatan menghalang.

Baca juga :  Pemilihan Umum 2024: Peran Masyarakat dalam Membentuk Masa Depan Bangsa

Banyak pengamat terkagum-kagum dengan gerakan yang digagas Kyai Dahlan 112 tahun silam ini. Mereka mengira banyaknya perguruan tinggi atau rumah sakit bertaraf internasional, ribuan masjid dan sekolah-sekolah yang bertebaran di seluruh nusantara adalah hasil dari minta-minta atau sokongan rezim— itu keliru besar.

Tak ada bantuan asing atau sokongan rezim. Taruhlah ada sangat sedikit sekali —Muhammadiyah juga tak pernah mengambil hak orang lain — tidak pernah mengambil masjid, mushala atau menyerobot tanah orang lain. Kami diajarkan bersahaja dan memberi, bukan mengambil dengan jalan paksa.

Muhammadiyah tetap otentik, meski prestasi tak lagi bisa diukur. Pak AR Fakhrudin masih jualan bensin eceran dan naik Yamaha butut. Pak Amien Rais muadzin reformasi itu masih tetap bersahaja dan Istiqomah menyuarakan demokrasi.

Buya Syafi’i Maarif masih biasa jalan kaki ke masjid depan rumah, naik bus dan antre nunggu giliran.
Prof Haidar Nashir naik kereta api dan duduk di serambi masjid khusyu mendengar Khutbah dari jamaah akar rumput tanpa rasa canggung. Tak ada kisah dramatik yang heroik atau kisah buih penuh kata dusta. Ulama kami bersahaja. Tak ada yang berkaromah — ulama kami tak ada yang miradz ke langit tujuh. Ulama biasa dari kalangan orang biasa. Beragama dengan cara yang sederhana.

Baca juga :  Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Buah dari Begadang dan Kenekatan Pemuda

Hampir semua Ulama Muhammadiyah bersahaja, memakai pakaian yang sama, makan di meja yang sama, minum pada gelas yang juga sama, tak ada yang istimewa, kendaraan yang sama tak butuh pengawalan — atau penjagaan dan perlindungan berlapis. Juga tak butuh pembelaan karena hujatan atau celaan dari yang tak suka. Tak butuh buzzer atau influencer agar populair, juga tak butuh follower untuk menaikkan reputasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *