Opini

Messi, Krisis Pribadi, dan Tantangan Dakwah

Messi, Krisis Pribadi, dan Tantangan Dakwah

Ahmad Faizin Karimi*

Saya menyaksikan final Piala Dunia Qatar 2022 dengan menggenggam sebuah buku di tangan. Upheaval, karya Jared Diamond. Saya suka buku-bukunya karena pendekatan interdisipliner yang kerap ia terapkan dalam kajian-kajiannya yang mendalam. Buku ini menguraikan kerangka Profesor Geografi tersebut dalam memahami bagaimana bangsa-bangsa tertentu bisa bangkit dari krisis. Memadukan geografi, sejarah, dan psikologi dalam buku ini ia menawarkan 12 faktor yang bisa membantu individu maupun komunitas bisa keluar dari krisis.

Kembali ke piala dunia. Kemenangan Argentina dalam putaran piala dunia ke-22 yang digelar tahun 2022 ini benar-benar menjadi pembuktian bagi seorang Lionel Andreas Messi. Karena sebelumnya tropi emas 6,175-kilogram itulah satu-satunya yang belum ia raih.

Saya lalu menyadari ada kesamaan antara kisah dramatis lelaki Rosario itu dengan isi buku yang saya genggam, pun ada nilai yang bisa kita ambil dalam konteks dakwah pemberdayaan. Ada kaitan apa antara kisah dramatis Messi dengan dakwah pemberdayaan?

Tiap individu mesti pernah mengalami fase krisis dalam hidupnya. Dan—seperti kata Friedrich Nietzsche—“Sesuatu yang tidak membunuhmu, akan menguatkanmu”. Krisis yang bisa diatasi, membuat seseorang menjadi lebih kuat. Tapi sebaliknya, ketika seseorang tidak bisa melampaui krisis itu ia akan jatuh dalam keterpurukan. Mungkin depresi, menjadi kriminal, atau bahkan bunuh diri. Krisis individu itu bisa dipicu oleh kematian seseorang yang berperan vital, penyakit yang merampas semua kemampuan diri, perceraian, atau kegagalan karier.

Dalam kasus Messi, setidaknya ada tiga krisis besar yang terjadi. Pertama, saat keluarganya tak mampu lagi membiayai pengobatan kelainan hormone pertumbuhan / growth hormone deficiency (GHD) saat usianya belasan tahun. Kedua, saat ia kalah di tiga final internasional secara beruntun (piala dunia 2014 versus Jerman, Copa Amerika 2015 dan 2016 versus Chile) plus gagal di 16 Besar Piala Dunia 2018. Ketiga, putus kontrak secara mengejutkan dengan Barcelona pada 2021.

Dalam menyelesaikan krisis individu, tidak ada pihak lain yang paling berpengaruh dalam menyelesaikan selain orang itu sendiri. Namun tetap sangat diperlukan bantuan orang lain agar seseorang bisa keluar dari krisis. 12 faktor versi Jared Diamond itu adalah: (1) Pengakuan bahwa diri berada dalam krisis, (2) Penerimaan tanggung jawab pribadi untuk bertindak, (3) Penentuan masalah individu yang harus dipecahkan, (4) Penerimaan bantuan material dan emosional dari individu atau kelompok lain, (5) Mencapatkan inspirasi model dari orang atau kelompok lain, (6) Kekuatan ego diri, (7) Menilai diri sendiri secara obyektif, (8) Pengalaman krisis sebelumnya, (9) Kesabaran, (10) Fleksibilitas untuk belajar hal-hal baru, (11) Nilai-nilai atau prinsip diri yang menguatkan, dan (12) Kebebasan secara praktis untuk melakukan perubahan.

Messi kecil memiliki kekuatan diri untuk memperjuangkan impiannya. Namun besarnya biaya pengobatan tak mampu lagi dibayar keluarganya. Beruntun dalam situasi kritis itu Barcelona menawari untuk bergabung dengan akademi La Masia dan menanggung semua pengobatannya. Itulah bantuan pihak luar yang paling krusial dalam krisis pertama Messi. Andai itu tidak terjadi, mungkin kita tidak akan menyaksikan pertunjukan indahnya di lapangan hijau.

Pada puncak krisis krisis kedua, La Pulga yang menyerah karena kegagalan memberikan gelar internasional akhirnya mencabut rencana pensiunnya dari timnas Albiceleste. Lionel Scaloni berhasil membujuknya melalui Pablo Aimar, Idola Messi. “Bantuan” berupa tim yang lebih solid—sebagian merupakan talenta muda yang mengidolakan sekaligus rela bertarung untuk Messi, membuat Si Kutu akhirnya mempersembahkan tropi internasional tim senior pertamanya untuk Argentina. Gelar juara Copa Amerika mengalahkan Brazil tahun 2021 yang sudah dinanti Argentina selama 28 tahun (terakhir juara tahun 1993). Dilanjutkan Piala Finalissima pertama (Conmebol-UEFA) mengalahkan Itali tahun 2022. Dan pada puncaknya adalah Piala Dunia 2022 mengalahkan Prancis dan membawa piala yang sudah dinanti selama 36 tahun (terakhir juara tahun 1986). Andai Scaloni dan Aimar tak membantu Messi kembali, maka La Pulga mungkin tak akan merasakan satu pun gelar internasional senior.

Dalam menghadapi krisis ketiga, pihak yang membantu Messi adalah raksasa sepakbola Prancis, PSG. Putus secara dramatis dengan Barcelona yang sudah dibelanya sejak usia 13 tahun merupakan pukulan tersendiri. Di ujung masa transfer, dibayangi hari-hari tanpa klub. Untungnya dukungan dari mantan rekan setimnya Neymar, rekan senegaranya di PSG, serta keseriusan manajemen PSG di bawah Nasser Al-Khelaifi membuatnya masih bisa menjaga ritme kebugaran. Apa jadinya jika tidak ada klub yang menampungnya? Mungkin ia akan mengalami penurunan performa secara drastis. Bahkan dengan PSG yang menampungnya saja di tahun pertama ia mengalami penurunan itu.

Dukungan. Itulah kata kuncinya. Seseorang bisa saja—dan memang harus—punya kekuatan diri untuk melampaui krisisnya. Tapi tanpa dukungan orang atau kelompok lain, ia akan kesulitan. Bayangkan. Berapa banyak “messi-messi” di sekitar kita. Mereka yang mungkin saja bisa sosok sukses tapi harus mengubur mimpinya karena tidak adanya supporting system. Entah karena negara yang lalai, atau masyarakat yang abai. Atau keduanya.

Itulah sejatinya dakwah pemberdayaan. Kita secara bersama harus hadir untuk membantu mereka yang sedang berjuang melewati fase krisis, menjadi kelompok rentan atau dalam bahasa Islam disebut mustadh’afin. Ketika statistik secara gamblang menyebut tingginya angka kemiskinan, rendahnya indeks pendidikan dan Kesehatan, itulah gambaran betapa banyak kelompok rentan yang perlu dibantu mengatasi fase krisisnya. Jika tidak, maka sangat mungkin mereka yang terjebak krisis mengambil jalan pintas. Kriminalitas tinggi, kesejahteraan rendah, dan kehidupan sosial yang rawan adalah dampaknya.

Tentu situasi seperti itu bukanlah gambaran dari Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Dakwah tidak bisa lagi sekedar retorika menggunakan kata-kata indah. Tapi ia harus dibarengi dengan kerja sistem yang mampu memetakan masalah dan menyediakan dukungan bagi masyarakat secara nyata.[]

*Pegiat Literasi Muhammadiyah

Related posts
Opini

Era Milenial: Saleh Digital sama Pentingnya dengan Saleh Sosial

Oleh: Rezza Fahlevi Hidup dan merasakan kehidupan saat ini, seperti hidup di dunia yang semakin…
Read more
Opini

Zakat Politik

Oleh: Joko Intarto Ganjar Pranowo mati langkah. Gubernur Jawa Tengah itu diberitakan menghapus…
Read more
Opini

Manisnya Iman

Oleh : Dzanur Roin*Guru SD Muhammadiyah 12 Surabaya Ada tiga hal yang jika ini ada pada diri…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: