Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas islam terbesar di Indonesia ini menjadi perhatian yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia baik bagi warga muhammadiyah, umat islam dan masyarakat Indonesia secara umum.

Hal tersebut wajar kiranya lantaran Muhammadiyah sebagai organisasi islam yang dinilai cukup settle menjadi percontohan gerakan pembaharuan dan kemajuan di Indonesia, akan selalu di nanti segala gebrakan dan narasi-narasi pemikiran serta ide-ide barunya untuk perkembangan umat dan bangsa.

Musyawarah yang di gelar pada rentang umur abad keduanya ini, menjadikan ekspektasi adanya harapan arah baru pergerakan Muhammadiyah semakin dinanti. Apalagi bangsa Indonesia saat ini mengalami berbagai persoalan yang cukup pelik baik dalam ranah keagamaan, keilmuan, sosial politik, hukum, lingkungan, kekerasan dan lainnya.

Berangkat dari hal tersebut, penulis mencoba untuk beropini dan menafsirkan apa-apa saja yang sekiranya baik untuk di bahas pada musyawarah tertinggi persyarikatan muhammadiyah tersebut.

Hingga akhirnya penulis teringat dengan buku berjudul Ibu Kemanusiaan yang berisi kompilasi tulisan para perempuan hebat Indonesia tentang seorang tokoh besar Muhammadiyah di peringatan umur ke 86 tahunnya. Yaitu Almarhum Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif yang telah berpulang di tahun yang sama dengan digelarnya Muktamar Muhammadiyah ke-48 saat ini.

Dalam buku tersebut ada satu tulisan menarik yang ditulis oleh Augustina Elga Joan Sarapung seorang Direktur Institut Dialog Antar-Iman Indonesia yang menyanjung kehebatan pemikiran seorang Buya Syafi’I yang sangat bijak, serta mampu menafsirkan kondisi social dan juga menjadi percontohan tokoh toleransi di Indonesia.

Dalam tulisannya, beliau mengingatkan kita tentang 5 pertanyaan kritis dan fundamental Buya Syafi’I Ma’arif kepada Muhammadiyah dan NU pada tahun 2000 untuk merenungkan masa depan kedua gerakan islam terbesar di Indonesia tersebut. Dan bagi saya sendiri, 5 pertanyaan itu sangat relevan untuk kembali di pertanyaan dan dijawab di Mukatamar ke-48 ini.

Berikut 5 pertanyaan kritis tersebut dan tafsiran penulis untuk setiap pertanyaan.

1. Dalam sebuah dunia yang ditandai oleh perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat, apakah Muhammadiyah masih percaya bahwa manusia masa depan masih berpeluang beriman?

Pertanyaan tersebut sesuai dengan perkembangan tekhnologi terutama media dan informasi yang sangat pesat saat ini. Perkembangan tersebut memang meberikan dampak yang positif, seperti akses informasi dan wacana ilmu pengetahuan yang luas dan cepat. Akan tetapi disisi lain juga menimbulkan problem keimanan di tengah masyarakat.

Sebut saja era post truth dengan disrupsinya yang kemudian bermuara pada mudah tersebar dan terjangkitnya masyarakat terhadap berita HOAX. Tak hanya itu, pesatnya arus informasi menjadikan sebagian orang secara pragmatis merasa paling tahu akan suatu hal atau ilmu, yang sayangnya di iringi dengan sifat merasa paling benar kemudian tidak toleran pada pendapat orang lain, hal inilah yang disebut dengan moral partikular.

Minimnya minat memperluas bacaan, kurangnya tabayyun dan diskusi, serta fanatisme pada sebuah pemahaman inilah yang akhirnya menjadi penyakit untuk memperlemah iman.

2. Apakah faham Islam yang dianut dan dikembangkan oleh Muhammadiyah masih dapat dijadikan panacea (obat mujarab) bagi penyakit-penyakit social yang sedang dirasakan oleh bangsa kita?

Yang patut digaris bawahi dari pertanyaan tersebut, kita hanya bisa mendapat kebaikan dari islam jika kita bisa memahami islam secara baik dan utuh. Dan itulah salah satu tugas dari Muhammadiyah. Yaitu menyajikan pemahaman islam yang moderat dan sesuai dengan tantangan serta kebutuhan umat.

Muhammadiyah harus kembali menajamkan narasi faham keagamaannya demi dakwah pada penyakit sosial saat ini. Mulai dari kemiskinan, kesenjangan sosial yang disengaja, kriminalitas, budaya hate speech, prilaku hedonisme dan konsumtif, flexing yang sedang marak di kalangan masyarakat hari-hari ini dan kekerasan serta pelecehan yang mencengkram masyarakat saat ini.

Kemudian yang menjadi focus terdekat adalah untuk mencegah hadirnya kembali wacana politik identitas di Pemilu 2024.

3. Apakah sistem pendidikan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah sudah dipandang memadai untuk membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa maju dan berwibawa secara moral dan intelektual?

Soalan ketiga tentang pendidikan. Mungkin ini adalah sektor yang menjadi ciri utama gerakan dakwah Muhammadiyah. Tetapi jika berbicara tentang pendidikan di Indonesia hari ini, ada problema khusus yang menjadi perhatian penulis. Ada teori menarik soal pendidikan di Indonesia yang akhirnya saat ini mempengaruhi kualitas serat kondisi anak muda di Indonesia.

Kondisi yang coba penulis sampaikan adalah mulai maraknya anak muda yang mengalami depreasi atau mental issue yang akhirnya menjadi problem baru yaitu mental illnes (penyakit mental).

Sebuah teori di sampaikan salah seorang penyintas Regis Machdy lulusan University of Glasgow yang mengatakan salah satu penyebab dari seorang mengalami depresi di masa dewasanya adalah karena adanya trauma masa kecil, pola asuh yang salah, serta tekanan yang di alami selama masa pendidikan.

Melalui kajiannya, pendidikan kita cenderung terbiasa memberikan beban pelajaran yang cukup banyak ke anak-anak tanpa memperhatikan kondisi tiap masing-masing anak yang tentu memiliki karakter dan keterampilannya sendiri-sendiri. Yang akhirnya menjadi beban dan tekanan pada setiap anak yang merasa terpaksa harus menjadi sama dengan anak lainnya.

Bagi penulis, hal tersebut bisa cukup relevan, lantaran jika diperhatikan ini bukan problem yang lahir dari para tenaga pendidik, melainkan ketidakjelasan kurikulum pendidikan yang dimiliki oleh Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwasannya kurikulum pendidikan kita sering berubah-ubah sesuai dengan kepentingan politik para pelaku pemangku kebijakan.

Realitas tersebut akhirnya menjadi runtuhan bola salju bagi para pelajar. Ketidakjelasan kurikulum memaksa mereka harus menyesuaikan diri tiap kali perubahan kurikulum. Hal tersebutlah yang menjadi pemicu kompleksitas manusia modern saat ini. Dimana otak manusia sudah tidak kompatibel untuk abad ke-21 karena cenderung terlalu banyak menerima tantangan, stressor (penyebab stress), dan informasi di otak bahkan sejak usia dini. (Ruby Wax, 2013).

Mungkin hal ini masih terbuka untuk diperdebatkan, tetapi penulis harap Muhammadiyah mampu melahirkan gagasan dan strategi khusus untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

4. Apakah tawaran Islam untuk mempercepat proses terwujudnya keadilan dan kemakmuran bagi semua lapisan masyarakat?

Bicara tentang keadilan jelas tidak akan lepas dari yang namanya hukum beserta law enforcement (penegakan hukum) nya. Dekade ini kita sering mendengar kasus-kasus pelanggran hak asasi kemanusiaan, ketidakadilan pada masyarakat kecil, dan adanya perubahan serta pembuatan atauran atau UU baru yang justru ceenderung tidak adil dan malah menyengsarakan rakyat.

Banyak sekali produk UU yang kontroversial dan tidak berpihak pada keadilan serta kemakmuran rakyat. Mulai dari omnibus law, UU KPK, UU Minerba, dan lain sebagainya.

Berangkat dari hal tersebut, Muhammadiyah sejatinya sudah memiliki tawaran konkret berupa Gerakan Jihad Konstitusi. Dimana Muhammadiyah menfokuskan diri untuk mengkaji setiap produk UU yang bermasalah dan mengusahakan untuk bertarung diranah peninjuan ulang tiap produk UU tersebut.
Gerakan tersebut harus lebih di massifkan untuk kedepannya.

5. Apakah Muhammadiyah sudah memiliki grand strategy untuk mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang bermastabat tinggi di masa depan?

Dalam perjalanannya Muhammadiyah telah menjadi pemikir revolusiner yang mampu mengubah Indonesia kea rah yang lebih baik. Pertanyaan kelima ini sepertinya adalah pertanyaan wajib yang harus di renungkan bukan hanya pimpinan Muhammadiyah tetapi seleuruh warga Muhammadiyah di seti lapisan.

Harus ada strategi baru dalam mengahadapi kompleksitas bangsa saat ini. Muhammadiyah harus selayaknya menjadi dokter yang bukan hanya mencaritahu serta menyembuhkan penyakit seorang pasien, tetapi juga harus mempertanyakan untuk apa kesembuhannya itu nanti. (Karl Britton, 2017)

Semoga sedikit refleksi terhadap 5 pertanyaan Buya Syafi’i tersebut bisa membuat kita merenung sejenak tentang masa depan persyarikatan Muhammadiyah.

Oleh :
Faiqul Riyan Anggara, S.H.
Ketum PRPM Purwosari

Related posts
Opini

Dari Zaman Kolonial Hingga Milenial, 110 Tahun Muhammadiyah Berdiri

Oleh Ilham Ibrahim Tepat berusia 110 tahun, lahir di desa Kauman tahun 1912, Muhammadiyah lahir…
Read more
Opini

Isu Stunting, Telat Masuk Sekolah, dan Muktamar Aisyiyah ke-48

Saya memutuskan untuk tidak ikut dulu rombongan penggembira Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 di…
Read more
Opini

Menyambut Muktamar Muhammadiyah 48: Mulai dari "Titik Lemah" Muhammadiyah

Alhamdulillah Muhammadiyah sudah mencapai usia lebih dari satu abad. Sumbangsih Muhammadiyah utk…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *