Opini

Merejuvenasikan Pendidikan Sosial dan HAM di Tanah Air

Merejuvenasikan Pendidikan Sosial dan HAM di Tanah Air

Oleh : Muhammad Zulfikar

Soe Hok Gie “Bagi pemuda umumnya, revolusi berarti tantangan untuk mencari nilai-nilai baru“ begitulah sekiranya jagokata dari Aktivis Indonesia-Tionghoa. Bulan Januari, ratusan awak media menyuguhkan berita heboh yang datang dari kalangan pelajar dimana ratusan pelajar jenjang SMP dan SMA di Kabupaten Ponorogo dikabarkan mengajukan dispensasi nikah ke pengadilan agama setempat.

Dewasa ini, pendidikan yang saat ini harus ditanamkan adalah pendidikan nilai moral dan sosial kepada para perserta didik, sudahlah amat kuno ketika pendidikan yang saat ini hanya mengedepankan nilai materialistis yang nihil hasilnya alias tidak berpengaruh kepada para perserta didik dimana yang dibutuhkan untuk hal ini adalah peremajaan kembali nilai sosial dan HAM untuk pergaulan.

Perlunya penyadaran kembali bagi para remaja akan pentingnya menjaga diri, Hak-hak yang sudah diatur dalam kewenangan negara semestinya harus dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari oleh para pelajar, pemahaman seperti pendidikan nilai moral dan ilmu sosial harus tercapai pada titik dimana peserta dapat memvisualisasikan keadaan. Persoalannya adalah apakah seorang guru yang tidak dapat memberikan pengajaran yang baik atau perserta didik yang acuh dengan nilai sosial dan HAM.

Oleh karena itu, satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana proses pendidikan dan pengasuhan yang didapatkan remaja saat ini. Sehingga, membentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi dirinya serta dapat digunakan untuk menghindari pergaulan bebas.

Dengan kejadian seperti ini, semestinya lembaga pendidikan sudah mulai tersadar bahwa edukasi seksual perlu diajarkan disetiap jenjang pendidikan guna menyadarkan para perserta didik pentingnya menjaga diri dari sex bebas, “Jadi jangan sampai kebablasan anak mencari sumber atau informasi sendiri, yang akhirnya dapat dari video porno“ ujar Dinda Derdameisya, Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RSIA Brawijaya Antasari kepada Republika.co.id, Sabtu (14/1/2023).

Peran Pendidikan Kewarganegaraan lah yang seharusnya berperan disini dengan memberikan pendidikan nilai moral dan sosial kepada para perserta didik. Dengan ikut berpartisipasi penuh menyalurkan semua edukasi yang dimiliki dengan pencapaian perserta didik mengetahui HAM dengan baik serta jiwa sosial yang ramah karna pergaulan juga adalah HAM setiap individu yang harus dimengerti oleh para perserta didik dimana bentuk pembebasan yang seperti apa yang bisa dijadikan landasan kehidupan. “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunai“ -Nelson Mandela.

Kemudian bagaimana peranan mahasiswa PPKn akan hal ini? HAM yang seharusnya digunakan sebagai perlindungan diri justru malah menjadi bahan bebas bertindak. Hal ini terlihat dalam cara berprilaku para peserta didik yang merupakan akumulasi dari berbagai pembentukan aspek diri yang baik. Bisa dilihat dari sudut pandang karakteristik psikologi yang membimbing para perserta didik kemana mereka melangkah didunia luar.

Perkembangan selanjutnya, jaminan HAM itu juga tercantum dengan tegas dalam Undang-undang Dasar atau konstitusi tertulis negara di dalamnya juga melibatkan peranan para perserta didik dalam menjaga dirinya dari pergaulan bebas. Harapanya para perserta didik dapat kembali memahami pentingnya hakikat kepribadian yang baik untuk kehidupan yang lebih cerah bagi peserta didik.

Kesimpulannya adalah negeri ini tidak akan membaik jika tidak ada kesadaran dalam upaya penanggulangan pengaruh-pengaruh buruk. Indonesia sejatinya dalah negara dengan seribu keanekaragaman yang ada , perbedaan- perbedaan yang ada seharusnya bisa digunakan untuk membangun inovasi inovasi dari setiap sektor dari pendidikan, ekonomi, ketenagakerjaan, sehingga impian bersama kita dapat terwujud, yang menjadikan indonesia sebagai negara yang berdikari atas segalanya.

Penulis : Muhammad Zulfikar
Anggota Department Kajian Isu Strategis LAPSI PW IPM Jateng
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UAD

Related posts
Opini

Kodrat Manusia II

Oleh Afif Khuswanto SHIGuru SD Muhammadiyah 22 Surabayadan Skretaris Muhammadiyah Ranting Masangan…
Read more
Opini

Kodrat Manusia I

Oleh: Afif Khuswanto, SHIGuru SD Muhammadiyah 22 Surabaya dan Skretaris Muhammadiyah Ranting…
Read more
Opini

Melawan Taqdir Previlege

oleh Dimas Ghulam istiqlal “Hidup memang tidak adil jadi biasakanlah” salah satu…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: