Opini

Merawat Aisyiyah, Merawat Indonesia

Merawat Aisyiyah, Merawat Indonesia

Oleh: Suci Nor Afifah

Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan, sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?Begitulah sepenggal kalimat yang sampai detik ini sulit saya lupakan setelah menonton film yang berjudul Gie.Dari film berdurasi dua setengah jam tersebut, saya belajar bahwa pemerasan, pengkhianatan, eksploitasi, diskriminasi dan segala bentuk keterjajahan, merupakan bagian yang tidak terelakkan dalam setiap babak kehidupan manusia. Hingga saat ini, keterjajahan suatu kaum atas kaum lainnya masih dilegitimasi, dilembagakan bahkan dikampanyekan. Salah satunya, keterjajahan perempuan.

Kepemimpinan Perempuan Yang Tercerabut

Perjuangan perempuan Indonesia untuk mengupayakan kesetaraan gender kerap dihadapkan oleh berbagai tantangan dan hambatan. Dalam sejarahnya, perkembangan gerakan perempuan di Indonesia munculhampir bersamaan dengan bangkitnya kesadaran nasional. Gerakan perempuan sudah ada bahkan jauh sebelum kongres perempuan pertama pada tahu 1928. Namun sifatnya masih berbentuk kedaerahan dan keagamaan.

Poetry Mardika (1912) merupakan pelopor berdirinya organisasi atau perkumpulan perempuan. Saskia E. Wieringa dalam buku Kuntilanak Wangi: Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950 (1998: 3-4) menuliskan beberapa Organisasi tersebut antara lain, Pawiyatan Wanito di Magelang (1915), PIKAT di Manado (1917), Purborini (1917) di Tegal , Aisyiyah (1917) di Yogyakarta, Wanito Soesilo (1918) di Pemalang, Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poetri Boedi Sedjati (Surabaya, 1919), Serikat Kaoem Iboe Soematra (Bukittinggi, 1920), Wanito Katolik (Yogyakarta,1924).

Organisasi-organisasi tersebut muncul karena memiliki tujuan yang hampir sama, yaitu perjuangan untuk mengakhiri subordinasi perempuan. Mereka menentang diskriminasi seksual di politik, sosial ekonomi atas perempuan, yang sudah lama berlangsung dan turun temurun.

Pasca kemerdekaan, berbagai organisasi perempuan tumbuh. Diantaranya ada Wanita Marhaen sebagai sayap perempuan Partai Nasionalis indonesia, dan juga Gerakan Wanita Sedar (GERWIS). GERWIS berdiri pada tahun 1950 berganti nama pada tahun 1955 menjadi Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI). sebagaimana ditulis oleh Saskia E. Wieringa, Gerwani adalah organisasi perempuan yang paling besar dan paling berpengaruh. Anggotanya pada umumnya berpendidikan tinggi.

Sejarah panjang gerakan perempuan akhirnya runtuh pada 1 Oktober 1965, yang menandai lahirnya rezim Orde Baru. Rezim ini melakukan pemberangusan terhadap organisasi perempuan yang kritis. Pada zaman ini, mitos yang dibangun dan dikampanyekan adalah peningkatan kualitas perempuan hanya sebagai istri. Ini terlihat dari pembentukan organisasi PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), Dharma Wanita bagi istri pegawai dan Dharma Pertiwi bagi istri yang suaminya bekerja di salah satu cabang angkatan bersenjata (A. E. Priyono dkk, 2003: 391).

Pada masa itu, gerakan perempuan dipasung. Dikerdilkan perannya hanya sebatas wilayah domestik. Organisasi perempuan selain tiga organisasi bentukan Orde Baru saat itu sangat dibatasi, diawasi dan dibubarkan. Namun, masih ada organisasi perempuan yang tetap bertahan hingga saat ini, salah satunya Aisyiyah.

Aisyiyah: Usaha Merawat Indonesia

Dalam suatu kesempatan, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah terdahulu, Dr. Siti Noordjanah Djohantini, menjelaskan mengapa organisasi ini masih bertahan hingga saat ini, disamping Organisasi Wanita Katolik dan Taman Siswa. Yang pertama karena organisasi ini membawa misi Islam Rahmatan Lil Alamin. Kedua karena organisasi ini mapan dan modern, serta yang ketiga adalah kontribusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kebangsaan.

Saat ini Aisyiyah sudah berusia 105 tahun. Gelaran Muktamar yang diselenggarakan di Solo pada tanggal 18 November 2022 menghasilkan 10 rekomendasi nasional, yaitu pertama, penguatan peran strategis umat islam dalam mencerahkan bangsa. Kedua, menguatkan oerdamaian dan persatuan bangsa. Ketiga, pemilihan umum yang berkeadaban menuju demokrasi substansial. Keempat, optimalisasi pemanfaatan digital untuk mengatasi kesenjangan dan dakwah berkemajuan. Kelima, menguatkan literasi nasional. Keenam, ketahanan keluarga. Ketujuh, penguatan kedaulatan pangan untuk pemerataan akses ekonomi. Kedelapan, penguatan mitigasi bencana penguatan iklim. Kesembilan, akses perlindungan bagi pekerja informal dan yang terakhir adalah isu stunting.

Pidato dari ketua umum Aisyiyah terpilih, Dr.apt. Salmah Orbayinah, M.Kes menyatakan, 10 isu strategis diatas merupakan manifestasi dari Risalah Perempuan Berkemajuan. Bisa kita simpulkan bahwa Aisyiyah sudah menyetarakan diri, tanpa menyebut kesetaraan gender secara eksplisit, Aisyiyah mengangkat isu strategis dari isu yang terdekat dengan kehidupan kita sehari-hari hingga isu global yang menjadi permasalahan global. Dari isu ketahanan rumah tangga hingga isu perdamaian dunia.

Aisyiyah sadar, bahwa dengan mewujudkan amanah Risalah Perempuan Berkemajuan, maka turut serta mengatasi isu ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual dan subordinasi terhadap perempuan. Dalam pemahamanAisyiyah, pembahasan mengenai kesetaraan gender sudah selesai, bahkan pada Kongres perempuan Indonesia I pada tahun 1928, tokoh Aisyiyah menjadi inisiator dan berbicara tentang perempuan bukan hanya berada di wilayah domestik, namun juga harus bersinergi dengan banyak pihak untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Bagi saya, Aisyiyah perlu lebih mempopulerkan ide dan gagasannya hingga ke tingkat akar rumput. Di sekitar saya, di pedalaman Kalimantan, masih banyak buruh perempuan yang masih menikmati keterjajahan dirinya dari segi ekonomi dan sosial. Di pedesaan masih ada saja praktek pernikahan anak. Di pusat kota masih ada praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh pejabat perempuan. Tugas dan tantangan Aisyiyah kedepan semakin beragam. Mari kita rawat organisasi ini sebagaimana organisasi ini sudah merawat Indonesia bahkan sebelum kemerdekaan. Sungguh, Aisyiyah adalah berkah untuk Indonesia.

(FOKKAL IMM FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Related posts
Opini

Era Milenial: Saleh Digital sama Pentingnya dengan Saleh Sosial

Oleh: Rezza Fahlevi Hidup dan merasakan kehidupan saat ini, seperti hidup di dunia yang semakin…
Read more
Opini

Zakat Politik

Oleh: Joko Intarto Ganjar Pranowo mati langkah. Gubernur Jawa Tengah itu diberitakan menghapus…
Read more
Opini

Manisnya Iman

Oleh : Dzanur Roin*Guru SD Muhammadiyah 12 Surabaya Ada tiga hal yang jika ini ada pada diri…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: