Opini

Mensucikan Hati (Nafs)

Mensucikan Hati (Nafs)

Oleh : Afif Khuswanto SHI – Guru SD Muhammadiyah 22 Surabaya

Makhluk yang diciptakan dengan kesemmpurnaan  paling tinggi sejagat adalah manusia. Manusia ketika diciptakan diberi akal dan nafsu, karena dengan modal akal diharapkan bisa Mengendalikan nafsunya. Hakekat sederhana dari manusia adalah makhluk yang berfikir, sehingga bisa sebagai pembeda dengan makhluk yang lainnya.

Disamping itu juga manusia memiliki dua unsur yang lain yaitu jiwa dan jasad. Yang mana jiwa atau ruh akan kembali ke tuhan yang menciptakan sedangkan, jasad akan kembali ke tanah. Berkenaan dengan jiwa menurut  Al- Ghazali yang dijelaskan dalam buku yang berjudul Psikologi Sufi Al-Ghazali yang ditulis oleh Dr Ahmad Ali Riyadi M.Ag Menjelaskan bahwa jiwa merupakan substansi yang berdiri sendiri dan mempunyai sifat-sifat dasar yang berbeda dengan badan.

Dalam filsafat Islam (Sunnah Nabi Dalam Berfikir) karya Prof. Dr. Musa Asy’arie mengatakan bahwa sebagai penggerak manusia saat diciptakan dari tanah adalah ruh (jiwa). Oleh karena itu ruh sangat penting dan fundamental bagi kehidupan manusia. Dari penjelasan tersebut bahwa, antara jiwa dan jasad itu saling berkaitan maksudnya adalah pergerakan jasad itu terpengaruh dari jiwa yang mana didalamnya ada akal dan qolbi (hati). 

Baca juga :  Kodrat Manusia II

Jiwa dan badan terdiri dari dua dunia yang berbeda, jiwa berasal dari dunia metafisik, bersifat imaterial, tidak berbentuk komposisi, mengandung daya mengetahui yang bergerak dan kekal. Sedangkan badan merupakan substansi yang berasal dari dunia metafisik, bersifat materi, berbentuk komposisi tidak mengandung daya-daya dan tidak kekal. 

Dari penjelasan diatas penulis  memandang bahwa jiwalah yang harus tersucikan karena jiwa yang akan kembali dengan tuhannya. Jadi ketika jiwa kita suci maka malaikat yang bertugas mengambil jiwa tersebut  akan melakukan dengan cara yang lembut. 

Kehidupan yang tenang bagi manusia adalah ketika dekat dengan tuhannya. Untuk itu dalam mensucikan jiwa, maka yang harus dilakukan pertama adalah memperbanyak dzikir kepada Allah Swt. karena dzikir sendiri memiliki arti mengingat dan menyebut. Secara istilah dzikir sebagai proses komunikasi hamba dengan tuhannya baik melalui bertakbir, bertahmid, bertasbih, dan bertahlil. 

Baca juga :  Bentar Lagi Pilpres, eh Muktamar

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan untuk senantiasa berzikir pada Allah Swt.

“Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan zikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kedua, selalu berdoa karena  manusia sendiri tempat salah dan dosa, maka memohon atau meminta perlindungan itu harus dilakukan setiap hari. Karena berdoa sendiri adalah melakukan permohonan dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt. dalam surat Al-‘Araf ayat 55 yang artinya :

“memohonlah kepada tuhanmu dengan berendah diri dengan suara yang lembut”.

Related posts
Opini

Idulfitri

Oleh : Wildan Sule Man Tulisan ini saya hadirkan sebab sebentar lagi Ramadhan 1445 H akan segera…
Read more
Opini

Ber-Idul Fitri (Bukan) Hanya Saling Memaafkan

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Idul Fitri merupakan hari raya…
Read more
Opini

Tradisi Mudik & Geliat Ekonomi Kaum Urban

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Tradisi mudik pada hari raya…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *