Opini

Mengembalikan “Siti Khotidjah” di Kudus

Mengembalikan “Siti Khotidjah” di Kudus

Oleh: Noviar Jamaal Kholit*

Tak terasa, nama Siti Khotidjah tidak lama terdengar di kalangan masyarakat Kabupaten Kudus. Saya sendiri baru sadar ketika ada bapak saya menunjukkan sebuah tempat yang saya juga yakin warga Kudus sekarang kurang familiar. “Sana lho, Wetane (Timurnya) Khotijah”, kata bapak.

Khotijah atau lengkapnya adalah Siti Khotidjah yang diucapkan bapak saya, merujuk kepada sebuah amal usaha milik Aisyiyah Kabupaten kudus. Sebelum menjadi Rumah Sakit Umum Aisyiyah Kudus, awalnya bernama BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) Siti Khodijah.

Saat diresmikan pada tahun 1976, layanan kesehatan yang terletak di jalan HOS Cokroaminoto 248 Kudus, kini berkembang menjadi Rumah Sakit Umum Aisyiyah. Tentunya, perkembangan ini diikuti dengan bertambahnya jenis layanan yang tidak lagi mengkhususkan kepada ibu dan anak saja.

Sayangnya, berkembangnya salah satu amal usaha bidang kesehatan milik Aisyiyah yang pertama di Kudus ini diikuti dengan hilangnya “Siti Khotidjah”. Padahal, istilah Khotijah atau Siti Khotijah ini sudah melekat di warga Kabupaten Kudus hingga hampir 30 tahun.

Bagi beberapa kalangan, penghilangan Siti Khotijah ini seolah dianggap tidak menghargai usaha para pendiri, inisiator atau sejumlah pengurus serta simpatisan Aisyiyah yang ikut “nyengkuyung”, nyumbang, saweran untuk mendirikan layanan kesehatan Islam yang bisa jadi adalah yang pertama di Kudus. Tapi tentunya, pengurus Aisyiyah saat itu memiliki pandangan lain ketika mengubah namanya menjadi Rumah Sakit Aisyiyah.

Jika ditinjau dari dari sisi marketing, nama Khotijah ini sudah menjadi brand yang kuat serta telah menjadi Top of Mind warga kudus. Tidak sekedar nama, Khotijah juga sudah menjadi patokan untuk menunjukkan arah atau tempat. Kata-kata perempatan Khotijah, lor e (sebelah utara) Khotijah, bahkan ketika bilang Khotijah maka warga Kudus akan langsung tahu lokasi tersebut berada dimana.

Jika hanya dijadikan alasan agar amal usaha ini lebih dikenal tidak lagi sebagai BKIA namun sebagai RSU, hilangnya nama Siti Khotijah sepertinya hanya mengada-ada. Sebut saja Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang. Meski ada kata Muhammdiyah, rumah sakit tersebut dikenal sebagai Rumah Sakit Roemani. RSGM Soelastri yang menjadi penunjang di Universitas Muhammadiyah Surakarta, juga dikenal sebagai RSGM Soelastri, bukan RS UMS.

Tahun 2022 ini sebaiknya dijadikan momentum penting bagi pengurus Aisyiyah Kudus dan para pengelola Rumah Sakit Aisyiyah Kudus. Pertama, pada tahun ini Amal usaha kesehatan Islam pertama di Kudus ini ini berusia hampir 5 dasawarsa. Tentunya, Ini menjadi salah satu layanan kesehatan Islam tertua di Kudus.

Kedua, Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ini menjadi pengingat bahwa RSU Aisyiyah Kudus tidak akan ada tanpa adanya BKIA Siti Khotidjah. Selain itu ini juga mengingatkan kita kepada para inisiator yang mengusahakan berdirinya Amal Usaha bidang Kesehatan yang pertama milik Aisyiyah di Kudus menjadi ajang dakwah di masyarakat.

Ketiga, ini menguatkan kembali brand RS Aisyiyah di Kudus. Sangat disayangkan jika brand yang sudah menjadi top of mind ini dibuang percuma. Apalagi, dalam beberapa waktu kedepan di Kudus akan ada Rumah Sarkies yang juga milik Aisyiyah. Tentunya ini akan semakin mengokohkan Aisyiyah dan Muhammadiyah sebagai organisasi yang berorientasi keumatan.

Yang terakhir, penyematan kembali Siti Khotidjah pada nama RSU Aisyiyah sebagai upaya ikut menyemarakkan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah Ke-48 di Surakarta.

Saya yakin, tanpa kata Aisyiyah pada nama RSU Aisyiyah Siti Khotidjah, warga Kudus tahu bahwa rumah sakit tersebut milik Aisyiyah. Toh Siti Khotidjah bukan nama yang buruk. Beliau adalah istri pertama yang mendukung dakwah Rasulullah SAW dengan segenap jiwa raga. Ini bukan soal terjebak nostalgia seperti lagunya Raisa, tapi ini juga menjadi bagian dari dakwah yang dilakukan oleh pergerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah.

*Penulis adalah simpatisan dan pemerhati Muhammadiyah, Alumni sekolah dan universitas milik Muhammadiyah, dan lahir di BKIA Siti Khotidjah Kudus.

Artikel ini sebelumnya telah ditayangkan di murianews.com

Related posts
Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas…
Read more
Opini

Dari Zaman Kolonial Hingga Milenial, 110 Tahun Muhammadiyah Berdiri

Oleh Ilham Ibrahim Tepat berusia 110 tahun, lahir di desa Kauman tahun 1912, Muhammadiyah lahir…
Read more
Opini

Isu Stunting, Telat Masuk Sekolah, dan Muktamar Aisyiyah ke-48

Saya memutuskan untuk tidak ikut dulu rombongan penggembira Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 di…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *