Opini

Mencetak Guru Unggul di Sekolah Muhammadiyah

Mencetak Guru Unggul di Sekolah Muhammadiyah

Oleh : Arif Yudistira, Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Staf di PPM MBS Yogya

Ada adagium yang populer di kalangan Nahdatul Ulama, “urusan agama, NU ahlinya, sementara urusan pendidikan serahkan saja kepada Muhammadiyah.” Rasanya kalimat itu ada benarnya. Hampir 60% mahasiswa di kampus Muhammadiyah adalah orang NU, kata Pak Mu’ti sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kebesaran Muhammadiyah membangun pendidikan di berbagai sektor selama ini patut membuat kita bangga. Namun kebesaran kita membangun pendidikan yang berkualitas juga diiringi satu fakta memilukan ihwal kesejahteraan guru Muhammadiyah dan manajemen karir profesionalnya. Dua tema ini juga disinggung oleh Prof Imam Robandi dengan tajuk “Masa Depan Karir Guru Sekolah Muhammadiyah” dan Membangun Organisasi Profesional Guru Muhammadiyah”.

Problem sekolah Muhammadiyah selain aspek kesejahteraan guru adalah aspek managerial. Kepala sekolah Muhammadiyah jangan sampai seperti “njagakke ndoke blorok” menggantungkan sesuatu dari orang lain yang tidak pasti.

Kepala sekolah mestinya memiliki tidak hanya kemampuan managerial yang bagus, tetapi juga memiliki kemampuan dalam berwirausaha. Ia harus bisa membaca peluang bisnis pada satu sisi, sehingga tidak menggantungkan “mati urip bareng dana bos”(hidup matinya tergantung dana bos).

Sekolah yang hidupnya tergantung pada dana bos sudah pasti ia tidak bisa berkembang lebih jauh saat kebutuhan akan sarana prasarana serta kebutuhan peningkatan sumber daya manusianya dituntut maksimal.

Kepala sekolah Muhammadiyah juga dituntut memiliki pikiran brilian dan paripurna dari aspek internal seperti memotivasi guru, membuat ruang yang nyaman dan aman serta menghadirkan ide-ide inovatif bagi guru dan juga sekolah. Kepala sekolah yang bagus bukan yang selalu menyenangkan guru, tetapi yang membuat gurunya mencintai dan memiliki sekolah sekaligus mengajak gurunya maksimal berkarya.

Baca juga :  Memaknai Ulang Ijtihad Muhammadiyah dan Politik

Faktor penting lain dalam menciptakan sekolah unggul di Muhammadiyah adalah faktor peningkatan dan perhatian pada kualitas SDM. Sekolah unggul itu cirinya konsen dan perhatian terhadap kualitas sumber daya manusianya. Ibarat mau perang, tidak hanya komandan atau pimpinan perang, prajurit ( guru) dan karyawan juga butuh belajar terus-menerus. Menanamkan semangat belajar bukan mengeluh memang tidak mudah. Tetapi pendidikan dan peningkatan kompetensi tidak boleh diabaikan. Mustahil institusi maju dibangun dari sumber daya yang pas-pasan dan bermental lembek.

Banyak sekolah Muhammadiyah lupa kalau membangun bangunan dan gedung mewah tidak cukup tanpa membangun dan menata SDM yang kuat sekaligus cerdas dan penuh inovatif.

Kreatif

Di era teknologi seperti sekarang, semua menjadi mungkin. Dengan bantuan teknologi yang maju, seorang guru bisa berkreasi lebih jauh serta mengoptimalkannya untuk banyak hal.

Guru kreatif bisa memanfaatkan teknologi sebagai medium untuk corong bersuara tentang metode, gaya mengajar sampai testimoni siswanya.

Banyak guru yang mendapatkan apresiasi dari google atau pemerintah dari kreasinya memanfaatkan teknologi sebagai bagian integral dari pengajarannya.

Mereka bisa memperoleh alternatif pendapatan baru sekaligus menciptakan kerja kreatif di kelas mereka.

Guru Muhammadiyah yang unggul perlu menggali setiap potensinya agar bisa dioptimalkan di kelas dan sekolahnya.

Guru unggul tercipta dari kebiasaannya memperluas jejaring dan silaturahim. Saya sepakat dengan Prof Imam Robandi yang mengatakan bahwa kita perlu agenda mendesak yakni memikirkan organisasi atau ruang bagi guru Muhammadiyah. Organisasi ini tentu bukan hanya sekadar “forum”, tetapi legal formal sehingga bisa menjembatani, memfasilitasi dan menjadi ruang tumbuh bersama bagi guru Muhammadiyah.

Baca juga :  Toxic

Kebermanfaatan

Guru Muhammadiyah yang baik mesti memberi kebermanfaatan global. Di era kosmopolit ini guru Muhammadiyah harus sudah menata diri dan bercermin. Saya boleh tinggal di lereng Merbabu, tetapi pikiran saya harus melanglang ke Jepang. Saya guru Yogyakarta tetapi pikiran saya harus mencanangkan kelak bisa ke Dubai. Semakin luas dan semakin jauh ilmunya ia akan memberi lebih luas kepada semesta. Jika guru Muhammadiyah ilmunya cetek atau dangkal, maka jangan mimpi membangun sekolah yang unggul yang akan diĺirik dunia.

Seperti yang sedang dibangun di Australia saat ini, sekolah Muhammadiyah di sana sedang berjuang menjadi sekolah primadona. Di sana pula hadir guru yang memiliki etos yang unggul dan berdaya saing.

Guru unggul Muhammadiyah tercipta dari Kepala Sekolah yang unggul pula. Majelis Dikdasmen dan PNF memang memiliki pekerjaan rumah banyak. Ia tidak boleh membiarkan sekolah-sekolah Muhammadiyah dipimpin Kepala Sekolah yang waton mlaku apalagi yang spiritnya “alon alon ora kelakon”.

Terlalu  mahal harga yang harus dibayar jika sekolah membiarkan sekolahnya berjalan asal saja, gurunya dibiarkan terlantar dan tidak jelas. Muridnya tidak ditata dengan baik dan diurusi maksimal. Sementara tantangan anak kita sekarang membutuhkan pemikiran dan waktu yang maksimal untuk memikirkan generasi yang lebih baik dari kita.

Related posts
Opini

Idulfitri

Oleh : Wildan Sule Man Tulisan ini saya hadirkan sebab sebentar lagi Ramadhan 1445 H akan segera…
Read more
Opini

Ber-Idul Fitri (Bukan) Hanya Saling Memaafkan

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Idul Fitri merupakan hari raya…
Read more
Opini

Tradisi Mudik & Geliat Ekonomi Kaum Urban

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Tradisi mudik pada hari raya…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *