Opini

Menakar Orang-Orang Penting Di Muhammadiyah

Menakar Orang-Orang Penting Di Muhammadiyah

Oleh: A. Hilal Madjdi (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kudus)

Gemilang Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar dan Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah di Kudus serta gambaran sukses Muktamar 48 bakal terselenggara dalam ambang teratas kesantunan berdemokrasi. Namun  sampai saat ini masih menyisakan pertanyaan yang menggelitik seputar pola pembinaan Sumber Daya Manusia di Muhammadiyah. Suatu pertanyaan yang juga membuat banyak orang berandai-andai tentang perhelatan politik kenegaraan republik tercinta ini yang diharapkan bisa memetik hikmah dari gegap gempitanya Muktamar Muhammadiyah yang sejuk dan menentramkan itu.

Pertanyaan yang tersisa itu sebenarnya sederhana, karena tentang bagaimana Muhammadiyah “menggarap” sumber daya manusianya sehingga menjelma menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dalam melaksanakan program kerjanya tapi sekaligus amanah dan tidak ambisius dalam menyikapi pergantian kepemimpinan. Tak heran jika kemudian Muhammadiyah secara nasional memiliki puluhan ribu amal usaha yang bersentuhan dengan berbagai hajat hidup bangsa Indonesia, mulai dari pendikan, kebudayaan, perekonomian, kesehatan, dan bahkan politik kenegaraan.

Sebagai salah satu pelaku pergerakan Muhammayah di akar rumput,  pertanyaan sederhana di atas dapat direspons dengan berselancar pada pola pikir, sikap dan perilaku anggota dan pimpinan persyarikatan yang didirikan oleh mbah Kyai Dahlan itu. Dalam konteks pola pikir, sikap dan perilaku itu siapapun harus melihat Muhammadiyah sebagai pergerakan “ibadah”, dan bukan hanya sebagai sebuah organisasi, karena jika dibuat suatu perbandingan akan didapat ketidak seimbangan antara jumlah anggota dan pimpinan dengan jumlah amal usaha yang dimiliki. Sebab, hampir di semua level kepemimpinan, jumlah amal usahanya lebih besar daripada jamaahnya.

Pada sisi lain, Muhammadiyah juga dilihat sebagai gerakan yang rapih dengan semangat kepemimpinan kolegial kolektif, suatu pola “berdemokrasi” yang tidak pernah menempatkan seseorang sebagai pusat pengambilan keputusan. Karenanya, “center of excellent” di Muhammadiyah adalah perilaku berorganisasi itu sendiri yang menempatkan semua orang sebagai bagian dari pergerakan yang memiliki makna dan peran sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya masing-masing.

Semangat Al Ma’un

Gebrakan mbah Kyai Dahlan dalam menggembleng lokomotif- lokomotif untuk “menerbangkan” Muhammadiyah dilakukan dengan menyuntikkan virus APA (Anti Pendusta Agama) yang disaripatikan dari surat Al Ma’un kepada semua kader persyarikatan. Virus inilah yang menggelegak di dalam darah dan dada para kader sehingga semangat pergerakannya adalah semangat “lillaahi ta’ala”, suatu semangat yang tidak mengenal pamrih duniawiyah, apalagi pamrih jabatan dan kedudukan.

Itulah sebabnya mengapa dalam setiap prosesi alih kepemimpinan, orang-orang Muhammadiyah cenderung berebut untuk mengalah dan mempersilakan teman seperjuangannya yang dinilai lebih baik daripada dirinya. Lucunya, semua orang menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya sehingga semua orang mempersilakan orang lain untuk menjadi pimpinan. Dalam konteks semacam inilah lahir pribadi-pribadi tangguh dan amanah yang berjuang dengan prinsip tidak mencari jabatan dan kedudukan, tetapi siap berjuang manakala persyarikatan mengundang, tak perduli di level apapun. Maka tak heran jika kemudian Prof Din Samsudin bersingsing lengan baju menjadi Ketua Ranting setelah tidak lagi menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dengan ritme dan alur perjuangan yang hanya untuk mencari ridlo Allah itu pula asset Muhammadiyah berkembang dramatis. Kemandirian persyarikatan ini dibangun tidak saja melalui infaq/shodaqoh, zakat dan wakaf para aghniya’ (orang-orang kaya) di Muhammadiyah, tapi juga melalui kaleng-kaleng kecil yang ditempatkan di rumah-rumah para jamaah di ranting-ranting. Akumulasi dana recehan itulah yang ternyata menjadi penopang tangguh pilar-pilar amal usaha Muhammadiyah yang begitu megah.

Dengan kata lain, semangat “Al Ma’un” adalah semangat peduli dan memberi tanpa batas untuk mengejar keridloaan Allah Swt. Artinya, tak seorangpun di Muhammadiyah yang tidak memastikan bahwa dirinya bukanlah pendusta agama.

Orang Ranting, Orang Terpenting

Pemaparan di atas menunjukkan dengan jelas betapa pergerakan Muhammadiyah diawali dari hati yang selalu “berdzikir” mengagungkan Allah dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata melalui gerakan berjamaah. Pengejawantahan dzikir ke dalam realitas kehidupan oleh orang- orang Muhammadiyah sebenarnya tidaklah dilakukan dengan konsep dan pengorganisasian yang aneh ataupun rumit. Sebab, realitas kehidupan ditangkap secara sederhana oleh komunitas masyarakat desa yang di Muhammadiyah dikenal dengan “Ranting”, dan kemudian dicarikan solusi praktis dan berkelanjutan.

Maka jika ada pertanyaan tentang siapa sebenarnya penggerak utama Muhammadiyah, sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah saya nyatakan dengan tegas bahwa penggerak utama Muhammadiyah adalah anggota dan Pimpinan Ranting. Sebab amal usaha yang paling fundamental dalam Muhammadiyah ada di Ranting, yaitu pengajian atau kajian Al Islam. Di Muhammadiyah, kajian Al Islam dilakukan secara komprehensif sehingga semua peribatan dalam ruang lingkup “hablum minallahi” dan “hablum minannassi” dilakukan secara berimbang dan proporsional.

Problematika Muhammadiyah sebagai persyarikatan, pada tataran yang sangat praktis, juga lebih banyak berada di Ranting. Suatu contoh, ketika masyarakat menghadapi suatu perbedaan yang terkadang bisa memicu masalah secara horizontal, maka peran Pimpinan Ranting menjadi luar biasa penting. Merekalah yang secara langsung mampu mengayomi dan membina masyarakat agar bisa membangun kebersamaan dalam perbedaan. Pengendalian massa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hanya bisa dilakukan dengan pendekatan berbasis kebijakan local yang hanya bisa dilkukan oleh Pimpinan Ranting.

Oleh sebab itu, apabila diperlukan ucapan terimakasih dalam baliho-baliho besar, maka saya pastikan di baliho- baliho itu akan terpampang dengan jelas dan besar ucapan terimakasih kepada jamaah dan Pimpinan Ranting. Peradaban manusia dibangun melalui pembangunan lingkungan dengan dimulai dari rumah tangga dan masyarakat kumpulan rumah tangga. Dalam struktur persyarikatan Muhammadiyah, pelaku gerakan dalam level rumah tangga dan masyarakat kumpulan rumah tangga adalah Pimpinan Ranting. Dengan demikian, dalam gerakan perjuangan Muhammadiyah, Ranting itu sangat penting.

Related posts
Opini

Mbak Bayin dan Perkaderan Pertamaku

Oleh Siti Marhamah Circa 1996, aku mengikuti perkaderan formal pertama di Nasyiatul Aisyiyah…
Read more
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *