Memberi sebagai Modal Dasar Ber Muhammadiyah
Opini

Memberi sebagai Modal Dasar Ber Muhammadiyah

Oleh : H.Sya’udin,S.Ag,MA

Musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah Kudus lima tahunan  tinggal beberapa hari lagi, marilah kita sambut dan laksanakan dengan rasa gembira , penuh rasa kebersamaan  serta kita hadirkan gagasan-gagasan segar dan ide-ide besar untuk Muhammadiyah dan Aisyiyah Kudus yang mencerahkan dan berkemajuan. Dan sebaliknya jangan ada lagi  intervensi dan intimidasi yang membuat  suasana mencekam, rasa ketakutan, prasangka, dendam bahkan hanya sekedar ingin mempertahankan kenyamanan dan mengorbankan keberlangsungan.  Muhammadiyah  sebagai persyarikatan yang sejak kelahirannya  menyatakan diri menjadi oraganisasi yang dibentuk berdasarkan sistem  bertujuan Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya merupakan impian setiap Warga, Kader serta Pimpinan haruslah kita perjuangan  keberlangsungannya.   Bahkan dalam gerak langkah perjuangan dan dakwahnya  baik dibidang bimbingan keAgamaan, Pendidikan, Kesehatan, Sosial, Ekonomi  dan Kebangsaan setidaknya  dalam kurun waktu 112 tahun  telah memberikan Warna ,  Makna dan Keberkahan  bagi umat dan bangsa Indonesia yang berkemajuan.

Keberhasilan Muhammadiyah dalam setiap gerakannya tidak dapat dilepaskan dari sistem yang telah terbangun dan tatakelola yang dilandasi  semangat Ikhlas untuk Memberi dengan berpegang pada prinsip-prinsip tatakelola Sumber Daya Insani yang meliputi prinsip Amanah, Tanggung jawab, Uswatun Hasanah, Visioner  dan prinsip umum tatakelola  Sistem yang meliputi ; Akuntabilitas, Transparan, Pengawasan, Syura, Menghindari yang tidak perlu, Keadilan, Persamaan, dan Rekrutmen yang sehat ( SK.PP No.138/KEI/I.0/B/2014 ; Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXVII ).

Salah satu yang menjadi elan vital Persyarikatan Muhammadiyah sebagai modal dasar dan penggerak dari setiap gerak langkah untuk mewujudkan impiannya dalam beramal sholeh adalah semangat “ MEMBERI “ . Memberi juga disyariatkan dalam Islam dalam bentuk kewajiban membayar zakat serta anjuran infaq bahkan Memberi juga merupakan akhlaqul karimah karena “ tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah” . Dalam konsep islam memberi sebenarnya kita tidak kehilangan, akan tetapi justru apa yang telah kita berikan akan diganti oleh Allah SWT dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik sebagaimana firman Allah SWT dalam Qs. Al Baqorah ayat 261 ; “ Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui “. Dengan biasa memberi  kita tidak hanya sedang membantu orang atau makhluk lain, namun sesungguhnya kita sedang membantu diri kita sendiri agar mendapatkan kebahagiaan  dan kesuksesan hidup di dunia dan akherat.

Baca juga :  Masjid Ramah Lingkungan

Ajaran kekuatan memberi inilah yang sesungguhnya menginspirasi dan menjadi dasar keyakinan KH Ahmad Dahlan dan para tokoh pendahulu mendirikan dan menggerakkan persyarikatan Muhammadiyah, bahwa hanya dengan cara memberi keteladanan dalam dakwah amar makruf nahi mungkar umat islam dan bangsa indonesia dapat terbebas dari berbagai keterpurukan serta keterbelakangan.

Demikian halnya dikatakan oleh salah satu ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas Memberi merupakan karakter atau jati diri Muhammadiyah, tidak meminta apalagi mengemis kepada pemerintah. Sikap kritis terhadap pemerintah bukan berdasar pada kebencian apalagi niatan-niatan buruk akan tetapi murni karena kecintaan dan semangat memberi yang telah ditanamkan dan diajarkan para pendahulu Muhammadiyah. Dalam konteks ber Muhammadiyah  ketika ada Warga, Kader, Pimpinan dan Masyarakat luas yang memberikan kritik dan saran untuk perbaikan kepada Pimpinan Persyarikatan yang sedang  menjalankan kepemimpianan dan  belum memenuhi harapan  warga serta umat bahkan cenderung keluar dari prinsip-prinsip tatakelola persyarikatan adalah wujud rasa cintanya pada persyarikatan bahkan hal ini jamin hak kontitusionalnya dalam  ART Pasal 4 ayat (6) Hak anggota a.1 Menyatakan pendapat di dalam maupun di luar permusyawaratan.

Baca juga :  Wawancara dengan Radio Australia

Dalam Konteks kepemimpinan dalam Persyarikatan Muhammadiyah, Buya Hamka pernah mengatakan “ Ketua adalah imam, ketua adalah cermin dari persyarikatan, kepada ketua kita menumpahkan kepercayaan, meskipun dalam Muhammadiyah tidak mengenal dominasi seseorang ( one man show ) namun kepemimpinan dalam Muhammadiyah bersifat kolegial dan semua anggota pimpinan diberi peran untuk ikut menentukan arah kebijakan persyarikatan.

Memberi Keteladanan juga telah dicontohkan oleh para tokoh pendahulu baik pada level nasional bahkan sampai lokal, mulai dari KH.A.Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Mas Mansur , AR Fakhruddin dll, Demikian juga kepemimpinan  telah diteladankan oleh  Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kudus periode sebelum muktamar ke 45 dengan   bermodalkan semangat jihad untuk Memberi, mereka  mewakafkan dirinya menyediakan waktu, tenaga, harta,pikiran dan kemampuannya untuk melaksanakan amanah meskipun mempunyai keterbatasan kualifikasi pendidikan, kompetensi dan jauh dari konflik kepentingan baik pribadi ataupun kelompok. Namun mereka  telah mampu memberikan bimbingan dan pelayanan pada warga dan  umat secara bermutu serta  berkemajuan dalam sistem kepemimpinan yang kolegial, penuh dengan kebersamaan,  sehingga mereka mendapat simpati, dukungan  dan kepercayaan yang luar biasa dari warga dan masyarakat. Hal ini ditandai dengan berdirinya berbagai  amal usaha mulai dari ; sarana bimbingan keagamaan  masjid/mushola, bidang sosial berdirinya panti asuhan syamsah – Aisiyah, Bidang  pendidikan berdirinya SMP 2 dan 3,  SMA, SPKM,3 SMKM , Pondok Pesantren tingkat MTs-MA, Bidang Seni – Drum  yang menjadi  idola  , bidang kesehatan berdirinya Poliklinik Asyifa – BKIA Khotijah yang sejak awal diniatkan menjadi Rumah Sakit Muhammadiyah – Aisiyah  dan  wakaf tanah di sebelah utara aula Muhammadiyah Kudus itulah  makna keberkahan dari kepemimpinan yang memberi keteladanan.

Baca juga :  Marketing Mega, Umumkan Ganjar

Namun sebaliknya apabila kepemimpinan persyarikatan dari semangat memberi dan kemudian di geser menjadi semangat mencari, maka nilai-nilai kejujuran, kebersamaan, kolegialitas yang menjadi bingkai dalam menjalankan kepemimpinan  hanya sebatas di retorikakan dan jauh dari keteladanan, maka akan sulit mendapatkan sambutan, dukungan dari warga dan masyarakat . Masing-masing anggota pimpinannya akan saling mecari keuntungan dan sibuk membangun patron kepentingan untuk mempertahankan kenyamanan yang akhirnya abai dengan amanah yang telah diberikan.

Kini lewat musyda Muhammadiyah dan Aisyiyah para warga, Kader, Pimpinan dan  Umat merindukan sosok Pimpinan Persyarikan yang dapat memberikan keteladanan. Pimpinan yang mengerti, memahami dan melaksanakan ajaran islam sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah. Pimpinan yang dapat mendorong  dan membangkitkan jiwa berjuang dan beramal bukan Pimpinan yang mencari penghidupan, pangkat atau kedudukan. Pimpinan yang visioner dan mempunyai pandangan jauh ke depan. Pimpinan yang memberikan ruang bagi tumbuhnya kreatititas dan inovasi untuk pengembangan amal usaha.  Pimpinan yang ramah dan merangkul  tidak sombong,takabur, otoriter,pendendam  dan anti kritik. Pimpinan yang dapat mengarahkan umat ke arah menyelematkan dan membahagiakan hidup lahir batin. Pimpinan yang melayani bukan untuk dilayani. Pimpinan yang dapat mengembalikan kejayaan dan kepercayaan warga serta masyarakat untuk mengembangkan dakwah  Muhammadiyah yang mencerahkan dan berkemajuan.

Selamat bermusyawarah mudah – mudahan Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk untuk kebaikan kita semua. Amin

H.Sya’udin,S.Ag,MA
Mantan Ketua Umum PD IPM Kab.Kudus
Mantan Sekretaris Umum PDPM Kab.Kudus
Mantan Sekretaris Eksekutif Kantor PDM Kab. Kudus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *