Opini

Membaca Pilihan Politik Warga Muhammadiyah

Membaca Pilihan Politik Warga Muhammadiyah

Oleh : Gus Zuhron

Rasanya sudah bukan misteri lagi siapa capres yang bakalan berlaga dalam pemilu 2024. Sebagian telah dideklarasikan oleh para pengusungnya dan sebagian lagi masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukan deklarasi. Tiga nama teratas dalam banyak lembaga survey adalah nama-nama yang paling diminati oleh partai politik untuk diusung. Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Soal apakah ketiganya benar-benar akan bertanding dalam pemilu yang akan datang sangat bergantung pada dinamika politik yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Dalam kontek pencalonan rakyak tidak punya hak untuk menentukan, melainkan para elit partai yang menjadi penentu. Kekuatan lobi, hitung-hitungan angka elektabilitas dan kekuatan finansial menjadi sebagian faktor penentu mereka akan mengusung siapa.

Saat ini yang masih menjadi perbincangan serius para begawan partai adalah tentang siapa pasangan calon dan akan berkoalisi dengan partai mana saja. Belum ada kepastian tentang pilihan, semua bersifat prediktif yang dalam hitungan menit ke menit masih berpotensi untuk berubah. Narasi megabungkan platform nasionalis religius tampaknya masih menjadi pilihan yang potensial. Tokoh dengan basis masa Islam baik berasal dari partai maupun ormas diduga kuat akan dilirik oleh para pasangan calon untuk dipinang sebagai pendampingnya. Atau jika bukan berlatar belakang partai dan ormas Islam setidaknya tokoh yang tampak religius atau yang punya irisan dengan basis masa tersebut.

Pengalaman sejarah pemilu 2019 yang memunculkan polarisasi begitu kuat di tengah masyarakat masih menyisakan bekas yang belum benar-benar hilang. Sentimen anti penguasa dan pembelaan secara berlebihan terhadap penguasa terus terjadi. Tidak jarang penggunaan isu agama sebagai pewarna dalam pembelahan masyarakat turut melanggengkan ketegangan antar berbagai kelompok yang bersiteru. Tidak dapat dipungkiri di antara kelompok masyarakat yang hanyut dalam arus polarisasi tersebut adalah sebagian warga Muhammadiyah. Sekali lagi sebagian warganya bukan Muhammadiyah secara organisatoris dengan segala pemikiran dan kebijakannya.

Meskipun para elit Muhammadiyah tidak henti-hentinya menyerukan untuk menyudahi polarisasi tersebut namun fakta dilapangan berbicara sebaliknya. Mereka yang memperpanjang durasi ketegangan sejatinya jumlahnya tidaklah banyak namun terkadang menguasai ruang-ruang publik dan media sosial. Jelang tahun politik semacam ini opini-opini sesat kembali ditampilkan untuk menyerang kubu yang bersebrangan. Kampanye hitam dan bernada negatif direproduksi sebagai senjata pemusnah lawan. Tentu fenomena politik semacam ini adalah indikator belum sehatnya demokrasi kita. Sebab tidak sekedar sebagai bentuk dinamika kontestasi melainkan menjurus pada perpecahan di tengah masyarakat.

Dalam menghadapi pemilu 2024 pilihan politik warga Muhammadiyah jelas tidak mungkin tunggal. Sikap organisasi yang netral dan menganjurkan warganya untuk tetap menggunakan hak politiknya menjadikan para aktor persyarikatan bebas menentukan pilihan sesuai dengan seleranya. Ada yang menggunakan hak politik dengan rasional, ada yang transaksional, namun ada pula yang melabuhkan pilihan karena dorongan sentimen rasa keagamaan. Pada bagian sentimen rasa keagamaan ini sesungguhnya tidak lepas dari warisan masa lalu. Politisasi agama sering digunakan sebagai alat legitimasi pilihan dukung-mendukung calon yang dianggap paling dekat memperjuangkan kepentingan ummat. Bahkan semangat yang kebablasan itu dianggap sebagai bentuk amar ma’ruf nahi mungkar, memperjuangkan Islam dan menegakkan agama. Cara pandang ini semakin menjadi-jadi ketika melihat kubu lawan sebagai kelompok munafik, kafir, dzolim dan labeling lain yang tendensius. Padahal sudah berulang kali narasi semacam itu tidak pernah menguntungkan dalam kontek perjuangan politik. Ummat Islam sering hanya digunakan sebagai alat pendorong mobil mogok, kekuatan masanya dimanfaatkan namun perannya ditinggalkan.

Dugaan sementara warga Muhammadiyah terbelah menjadi tiga kelompok. Pertama adalah kelompok yang sudah menentukan pilihan. Kelompok ini jauh hari telah mengidentifikasi figur yang akan dipilih. Kalau sosok yang dilirik bisa berlenggang dalam kompetisi pemilihan Presiden maka sudah dapat dipastikan figur itulah yang akan dijadikan rujukan. Apalagi figur yang dimaksud dibumbui dengan narasi agama ataupun aksesoris lain yang semakin mengokohkan keyakinan kalau idolanya adalah sang ratu adil yang bisa membawa bangsa ini jauh lebih baik kedepan. Kalau sudah sampai pada titik ini maka kampanye, penyampaian visi-misi dan bentuk iklan apapun mengenai figur lain tidak akan mengubah selera pilihan.

Kedua adalah kelompok yang masih wait and see alias belum terburu-buru menentukan pilihan. Ini adalah kelompok rasional yang melakukan analisis terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan. Jumlahnya mungkin tidak banyak namun sikap politiknya dianggap ideal sebagaimana cara berfikir Muhammadiyah yang condong rasional. Kelas kedua ini adalah orang-orang yang tidak fanatik pada keberpihakan figur melainkan fanatik pada keberpihakan ide. Siapapun yang mempunyai gagasan brilian, rasional, komprehensif, terukur dan seterusnya akan dipilih, tidak peduli dari partai apa calon itu akan diusung.

Ketiga adalah kelompok prakmatis. Mereka yang menentukan pilihan berdasarkan keuntungan yang akan didapat atau yang berpotensi memenangkan pertarungan. Tidak mementingkan soal ide, ideologi, berasal dari partai mana yang penting tujuan jangka pendeknya tercapai. Kemana angin kemenangan bertiup disitu pilihan akan dijatuhkan. Jenis tipologi yang ketiga ini di Muhammadiyah jumlahnya sangat terbatas, tapi keberadaannya dapat dirasakan. Baik pada level elit, menengah maupun masyarakat bawah.

Saya sendiri sederhana saja, jika di antara para calon ada yang terbaik maka akan saya pilih, jika baik semua saya pilih semua, namun jika tidak ada yang baik saya tetap datang ke TPS sambil senyum-senyum dan masuk ke bilik suara untuk melihat siapa yang fotonya tampak menawan di antara mereka…he….he… Karena siapapun yang jadi Presiden di tahun 2024 tidak mengubah jati diri saya sebagai seorang Muslim yang Muhammadiyah.

Related posts
Opini

UKT Ugal-Ugalan: Pendidikan untuk Siapa?

Oleh: Riza A. Novanto, M.Pd – Pemerhati Pendidikan, Dosen STIKes Muhammadiyah…
Read more
Opini

Mengenal Karakter Umum Pengikut Salafi

Oleh: Dr H Ali Trigiyatno, MAg – Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng Berdasarkan pengamatan…
Read more
Opini

Menebar Kebaikan di Era Disrupsi

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Era Disrupsi sudah tidak…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *