Opini

Melawan Taqdir Previlege

Melawan Taqdir Previlege

oleh Dimas Ghulam istiqlal

“Hidup memang tidak adil jadi biasakanlah” salah satu dialog yang diucapkan oleh patrik star dalam salah satu episode pada serial kartun spongebob squrepants memberikan gambaran pada kita tentang realitas sesungguhnya kehidupan bahwa terkadang hidup memang tidak adil.

Konsep Previlege

Pada tahun-tahun kebelakang ini istilah previlege banyak digunakan, dan biasanya digunakan dalam nuansa yang sinis. Banyak orang sukses yang mengakui kesuksesannya dengan mengatakan “oh, saya memulai karir/usaha ini dari nol hingga sukses seperti sekarang ini” dan bagi orang yang tidak seberuntung dia akan mengatakan “iya, tapi kamu anak orang kaya, lahir dari keluarga berpendidikan dan banyak jejaring”. Dari situ mengkonfirmasi bahwa dia tidak benar-benar memulai dari nol, melainkan memulai dengan start yang lebih maju dibandingkan yang lain. Begitulah istilah previlege dipakai, terkhusus pada konotasi yang negatif.

Terlahir dari keluarga kaya sehingga gizi terjamin dengan baik itu previlege, terlahir dari keluarga berpendidikan sehingga terhindar dari kebodohan itu previlege, terlahir di amerika serikat pada tahun 1950 sebagai kulit putih itu previlege, terlahir di Indonesia pada abad 20 awal sebagai laki-laki adalah previlege karena hanya laki-laki yang mendapat kesempatan mendapatkan pendidikan dibanding kaum wanita, dibuktikan dengan kisah perjuangan emansipasi R.A Kartini yang sudah fimiliar kita dengar. Maka previlege bisa diartikan dengan imunitas atau hak istimewa atau hak spesial tertentu diatas kalangan lainnya, sehingga memang harus diakui previlege adalah sebuah keunggulan. Privilege is given, keunggulan yangtidak terbantahkan dan sebuah keberuntungan yang diberikan tanpa kita bisa memilih. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang tidak seberuntung itu.

Fokus pada diri sendiri

Privilege is an advantage but not a guarantee, sebuah kalimat yang agaknya tepat kita gunakan untuk “melawan taqdir previlege”, mungkin benar dengan previlege seorang mendapatkan keunggulan diawalnya tetapi tetap saja orang yang mendapatkan hak istimewa tersebut masih harus beradaptasi dengan keadaan, masih harus menerapkan ilmu-ilmu yang dimilikinya, sehingga walaupun benar mendapatkan hak tersebut tetap saja tidak ada garansi diakhirnya, pada ujungnya semua harus berjuang untuk melancarkan jalan karirnya.

Dalam buku “Mindset” karya Carol S. Dweck, Ph.D.  dikatakan ada dua jenis mindset pada diri manusia, Fixed Mindset dan Growth Mindset. Orang-orang bermindset tetap (fixed) akan memiliki kecenderungan menyalahkan faktor eksternal terhadap apa yang terjadi pada dirinya, sedangkan orang-orang bermindset tumbuh (growth) akan cenderung mengevaluasi dirinya dan mencoba mengubah apa yang ada dalam kuasanya (faktor internal). Titik krusial yang ingin penulis sampaikan adalah fokuslah pada apa yang mungkin bisa kita ubah, tidak lain tidak bukan adalah diri kita sendiri, menemukan apa potensi dan kelebihan yang kita miliki kemudian mengembangkannya serta menemukan kendaraan (jalan) yang tepat untuk mencapai kesuksesan kita masing-masing, entah dalam karir, kisah percintaan, atau apapun yang sedang kita hadapi dan perjuangkan, ketimbang harus menyalahkan faktor eksternal diluar diri kita seperti previlege seseorang yang didapat dan kita tidak, mengeluh dan tidak ada upaya untuk bergerak ke arah yang lebih baik.

Dzawin Nur Ikhram salah satu comedyan di Indonesia dalam video youtubenya pernah menyampaikan ” tidak ada yang salah dari sebuah pilihan, seorang memilih menjadi pegawai silahkan, seorang memilih menjadi pengusaha silahkan, bahkan seorang memilih menjadi pengangguran silahkan, tidak ada yang salah dari sebuah pilihan. yang salah adalah ketika kita sudah memilih sebuah pilihan dan kita mengeluh dengan kondisi yang kita pilih, dan yang lebih salah adalah ketika sudah mengeluh kita tidak mencoba pilihan lain”.

Fokus pada diri sendiri dan bergeraklah, hidup kita bukan perlombaan lari yang mencari siapa yang sampai terlebih dahulu, tetapi hidup kita adalah soal apa yang sudah kita perjuangkan sehingga memberikan value pada kehidupan itu sendiri.

Related posts
Opini

Salman Al-Farisi (Sang Pencari Kebenaran Sejati)

Oleh : Dzanur RoinGuru SD Muhammadiyah 12 Surabaya (SDM dubes) Nama Aslinya adalah Mabah bin…
Read more
Opini

Tak Ada Degradasi, Lekas Sembuh Federasi

Oleh Hendra Hari Wahyudi Negeri ini memiliki banyak sekali kekayaan, mulai dari alam hingga…
Read more
Opini

Uta Uta no Mi, Mugen Tsukuyomi, dan Renungan Al Ghazali

Oleh Ilham Ibrahim Saya sudah nonton film One Piece: Red beberapa bulan yang lalu namun baru…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: