Opini

Manisnya Iman

Manisnya Iman

Oleh : Dzanur Roin*
Guru SD Muhammadiyah 12 Surabaya

Ada tiga hal yang jika ini ada pada diri seseorang maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Allah dan Rasulnya lebih dia cintai daripada selainnya. Dan tidaklah dia mencintai orang lain melainkan karena Allah. Dan dia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan kepada neraka (HR Buhari Muslim)

Kata manis lawan dari kata pahit. Manis identik dengan sesuatu yang menarik, enak dan nikmat. Berbeda dengan pahit. Kata tersebut identik dengan sesuatu yang kurang menyenangkan. Bagi ummat nabi Muhammad saw. Tentu kita semua ingin merasakan nikmatnya iman. Iman yang kita yakini dan kita implementasikan dalam perbuatan sehari-hari harus berdampak dalam kehidupan. Ada tiga cara supaya kita bisa mendapatkan manisnya iman.

Pertama, Hendaknya cinta kita kepada Allah dan Rasulullah melebihi cinta kita kepada siapapun dan apapun yang ada dalam dunia ini. Menjadikan Allah dan rasulnya cinta pertama kita melebihi segala-galanya.

Manusia itu dihiasai rasa cinta. Cinta itu adalah fitrah manusia. Cinta kepada harta, cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada keluarga, dan cinta kepada jabatan, itu adalah hal yang lumrah dan manusiawi. Tugas kita semua adalah menjadikan itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulnya. Bukan menduakannya.

Cinta kepada Allah dan Rasulnya adalah kita melaksanakan segala macam perintahnya dan menjauhi segala macam apa yang dilarangnya. Melaksanakan perintahnya semaksimal dan seoptimal mungkin sedangkan menjauhi larangnya adalah hal yang harus kita lakukan. Suka tidak suka, mau tidak mau kalau itu larangan kita tinggalkan sesejauh-jauhnya.

Rasa cinta kita dibuktikan dengan keteguhan iman yang ada dalam hati dan perbuatan sehari-hari. Penuh dengan ketabahan dan keikhlasan dalam menjalani segala macam ujian. Tekun dalam melaksanakkan ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Serta dibutuhkan kerelaan berqurban apa yang kita miliki. Baik berkurban harta benda bahkan jiwa raga. Itulah bukti cinta kita kepada Allah dan rasulnya.

Kedua, Dan tidaklah kita mencintai seseorang melainkan karena Allah. Suka dan benci kepada siapapun dasarnya adalah karena Allah. Betapa nikmatnya bagi orang-orang yang beriman ketika mencintai seseorang karena Allah. Bukan karena golongan kita, kelompok kita, bukan karena jabatannya, bukan karena kekayaannya, bukan karena kecantikannya, bukan karena ketampanannya, juga bukan karena status sosialnya.

Kalau persahabatan dan pertemanan kita karena hal-hal duniawi dan materi itu tidak akan bertahan lama. Harta yang banyak akan habis, jabatan yang tinggi akan kembali ke bawah. Wajah yang cantik dan tampan akan dimakan zaman. Lalu apa yang membuat kita bisa bertahan lama dalam persahabatan dan pertemanan hanyalah karena Allah swt. Kita tidak mencintai dan membenci seseorang melainkan karena Allah swt.

Pertemanan kita, persahabatan kita, pergaulan kita bukan karena materi, bukan karena fisiknya, bukan karena kedudukannya tapi karena Allah. Ketika cinta kita kepada sesorang karena Allah kita akan dengan mudah mengingatkan ketika sahabat, ketika teman kita berbuat salah. Kita tidak sungkan untuk mengingatkan kepada jalan kebenaran. Inilah pentingnya niat yang selalu kita tata, kita perbaharui agar apa yang kita lakukan selalu di dasari karena Allah. Karena kita mencari ridho Allah bukan ridho sesama manusia.

Di zaman sekarang betapa banyaknya persahabatan, pertemanan, dan pergaulan yang didasari hanya kepentingan sesaat. Sehingga kita menjadi akrab, menjadi satu karena ada kebutuhan dan kepentingan tertentu. Kepentingan hajat kita sudah terpenuhi maka selesai sudah ikatan persahabatan dan pertemanan. Inilah yang harus kita hindari. Kita mencintai dan membenci berlandaskan agama dan saling memberi nasihat dalam kebaikan. Semoga Allah swt selalu membimbing kita untuk selalu dijalan kebaikan.

Yang ketiga, Dan dia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan kepada neraka. Neraka adalah suatu tempat di akhirat yang paling buruk, di dalamnya penuh dengan siksaan dan penderitaan. Para penghuninya tidak pernah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan. Neraka di siapkan oleh Allah untuk menghukum orang-orang kafir dan beramal buruk ketika hidup di dunia.

Semoga Allah swt selalu dan senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk selalu istiqomah berada di jalannya. Memberikan kita kekuatan untuk bisa membedahkan mana yang benar dan mana yang salah. Dan selalu mengikuti jalan yang benar. Semoga Allah swt memantapkan iman kita. kuat dalam menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan. Ujian dan cobaan yang datang bisa menambah dan meningkatkan keimanan kita. Agar kita bisa merasakan manisnya iman. Semoga kita dijadikan oleh Allah menjadi hamba-hambanya yang pandai bersyukur atas segala macam kenikmatan yang telah diberikannnya. Baik itu nikmat Iman, Islam dan nikmat kesehatan, dengan ketiga nikmat tersebut kita bisa menjalani hidup ini dengan bahagia. Bahagia di dunia dan bahagia di kehidupan akhirat. Allahumma Amin Ya Allah.

Related posts
Opini

Era Milenial: Saleh Digital sama Pentingnya dengan Saleh Sosial

Oleh: Rezza Fahlevi Hidup dan merasakan kehidupan saat ini, seperti hidup di dunia yang semakin…
Read more
Opini

Zakat Politik

Oleh: Joko Intarto Ganjar Pranowo mati langkah. Gubernur Jawa Tengah itu diberitakan menghapus…
Read more
Opini

Pelajar Muhammadiyah dan Gerakan Keadilan Iklim

Oleh : Muhammad Arif SyaifudinBidang Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: