Opini

Liburan Akhir Tahun, Ikon Wisata Literasi & Literasi Wisata

Liburan Akhir Tahun, Ikon Wisata Literasi & Literasi Wisata

Oleh : Syahirul Alem, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus & MPI PDM Kudus

Liburan selalu dimanfaatkan untuk plesir mencari tempat-tempat yang indah untuk sekedar menghilangkan penat rutinitas hidup yang terkadang menyulut  hati dan pikiran. Liburan akhir tahun selalu terkait denga liburan Nataru, di Negara-negara barat biasanya momentum seperti ini adalah hari berkumpul dan berlibur bersama keluarga. Sebuah narasi yang di filmkan secara berseri dalam film Hollywood “Home Alone” merupakan inspirasi bagi keluarga yang sedang berlibur saking terburu-burunya dan  asyiknya sampai lupa ada keluarganya yang ketinggalan di rumah sendirian.

Di Indonesia momentum cuti bersama merupakan momentum yang dinantikan untuk meramaikan tempat-tempat wisata, berkah di balik semua itu adalah membanjirnya wisata lokal dan tempat wisata baru di berbagai kota serta resto-resto yang menjual berbagai makanan khas. Efeknya sangat besar dalam perputaran ekonomi di Indonesia untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Bayangkan bila berjuta-juta rakyat Indonesia membelanjakan uangnya untuk berwisata sehingga mampu mendokrak pertumbuhan konsumsi akhir tahun  di Indonesia.

Makin ramainya  tempat  wisata berawal dari keputusan pemerintah  tentang cuti bersama untuk menggairahkan wisata domestik sekaligus sebagai investasi psikologis bagi masyarakat untuk sekedar merefresh diri dari rutinitas. Bagi pegawai sebagai insentif libur sehingga saat bekerja dalam rutinitas bisa lebih produktif lagi. wisata dalam bentuk keindahan panorama beserta  rekreasi kuliner adalah suatu yang sudah umum dan sampai saat ini masih banyak peminatnya bahkan masing-masing tempat wisata juga menawarkan ciri khasnya masing-masing.

Memanfaatkan momentum ramainya tempat-tempat wisata pada saat liburan akhir tahun yaitu dengan menjadikan tempat wisata sebagai bagian dari literasi wisata. literasi wisata disini  merupakan kegiatan berwisata yang menambah pengalaman maupun pengetahuan bagi para pengunjung wisata tersebut untuk menambah wawasan literasinya. Literasi wisata tidak harus identik dalam bentuk buku-buku yang berjejer bagai perpustakaan keliling yang ada di tempat-tempat wisata tersebut. Literasi bisa juga berisi papan berupa plakat besar yang bertuliskan berbagai pengetahuan yang ada di tempat wisata tersebut semisal adalah wisata pantai bisa di tulis seberapa luas bibir pantai, aneka botani yang hidup di pantai tersebut, syukur-syukur terdapat bangunan museum yang terdapat berbagai literasi digital tentang pantai tersebut maupun berbagai kegiatan yang mendukung ikon pantai tersebut.

Metode soft literasi seperti ini akan mendukung wisata edukatif di kalangan masyarakat maupun anak-anak sekolah yang rutin mengunjungi tempat wisata. Di Indonesia terdapat Museum Dirgantara yang berisi bangkai pesawat saat  perjuangan untuk mengusir penjajah, TMII juga di konsep layaknya  wisata literasi  nusantara yang di situ juga terdapat berbagai rumah adat. belum lagi wisata museum seperti museum kretek yang terdapat di kabupaten Kudus. Ada juga museum jenang Kudus yang merupakan makanan khas kota kudus. Semakin berkembangnya wisata literasi akan makin mengubah image tempat wisata yang bukan hanya tempat untuk bersenang-senang saja namun juga sebagai tempat untuk menambah wawasan, termasuk juga wisata literasi taman Bunga Raflesia di Bengkulu yang juga bisa dijadikan obyek panelitian.

Baca juga :  Kader di AUM, Jangan Sampai Ibarat Tikus Mati di Lumbung Padi

Dengan mengenalkan berbagai wisata literasi sebagai ikon andalan literasi wisata akan meningkatkan motivasi dalam bentuk pembelajaran. Tujuannya supaya pengetahuan yang diperoleh tidak hanya dalam bentuk literasi ilmu yang biasanya diperoleh di lembaga formal maupun informal. Kegiatan tersebut di kemas dalam bentuk literasi wisata. sehingga  tak terasa ketika berlibur juga bagian dari pembelajaran  sebagaimana pendekatan merdeka belajar yang juga diterapkan dalam kurikulum merdeka belajar. Di sekolah-sekolah juga dikenalkan praktek pendidikan lapangan yang merupakan bagian dari wisata literasi, bagaimana siswa belajar dalam bentuk suasana pembelajaran di lapangan dengan nyaman dan santai, namun bisa membuat anak-anak makin meningkat wawasannya.

Di Indonesia juga terdapat makam-makam walisongo yang merupakan makam peninggalan sejarah yang tak kalah ramainya dengan tempat-tempat wisata alam. Wisata religi demikian orang mengenalnya adalah bagian dari wisata literasi sejarah masa lalu. Wisata yang dikemas dalam wisata ziarah wali songo ini, para penziarah berkunjung hampir sepanjang tahun sehingga mampu menggerakan potensi wisata ekonomi setempat yaitu para penjual souvenir, makanan maupun minuman. Di kenal juga wisata kebun binatang merupakan wisata yang sudah sejak lama digandrungi anak-anak identik dengan  ikon wisata literasi hewan maupun tumbuhan di Indonesia yang biasanya di kenal lewat foto-foto albumnya pada  buku pelajaran.

Nuansa Literasi

Aneka ragam bentuk wisata di negeri ini baik itu panorama alam, aneka kuliner maupun wisata berkebun, tempat-tempat peninggalan sejarah penting untuk menghadirkan nuansa literasi entah itu literasi sosial, budaya maupun ekonomi dan juga sejarah berapapun kadarnya disesuaikan dengan tempatnya semisal situs purbakala berarti 100 % tujuan wisatanya adalah bernuansa literasi  peninggalan benda-benda kuno. Dengan demikaina gerakan literasi yang saat ini menjadi target untuk meningkatkan angka melek wawasan masyarakat bisa terpenuh untuk menunjang SDM yang mumpuni dan berdayaguna. SDM mumpuni adalah melalui wisata literasi sebagai target kegiatan maupun studi banding untuk diterapkan secara manjerial bagi yang berkeinginan untuk membuat kegiatan serupa seperti wisata literasi berkunjung ke masjid yang bagus baik dari segi fisik maupun pengelolaan jamaahnya untuk diterapkan di desanya. SDM berdayaguna juga terkait dengan ketrampilan-ketrampilan yang bersifat individual seperti wisata di desa yang penduduknya berprofesi sebagi youtuber, kegiatan ini penting untuk membangun kiat SDM yang berdayaguna untuk meningkatkan nilai ekonomi dan aspek teknologi untuk kemajuan bersama.

Kecanggihan smartpone atau android yang dimiliki setiap individu merupakan alat untuk mempromosikan ikon-ikon wisata literasi yang dikunjungi. Biasanya dalam status masing-masing seringkali dipamerkan saat mengunjungi tempat wisata tersebut. Dengan demikian terjadi gethok tular dengan orang-orang dalam anggota statusnya untuk sekedar melihat, sehingga tertarik untuk mengunjungi wisata tersebut. Nuansa literasi dihadirkan sebagai tempat tujuan wisata untuk membiasakan masyarakat memahami makna dari literasi yang bisa dikemas dalam bentuk apapun. Bertepatan dengan momentum musim liburan akhir tahun ini sangat penting mempromosikan wisata literasi sebagai nuansa literasi pada wisatanya bahkan bisa sebagai alat promosi bagi yang memiliki usaha travelling.

Liburan akhir tahun adalah momentum yang tepat, karena perusahaan menjelang tutup tahun  banyak karyawannya ingin cuti maupun  juga anak-anak sekolah yang sedang liburan akhir semester untuk bersama-sama menikmati tempat-tempat wisata. Konsep literasi wisata adalah sebuah gagasan untuk menjadikat tempat-tempat wisata sebagai bagian dari gerakakan literasi untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, keunikan tempat-tempat wisata yang sering dikunjungi masyarakat baik itu pantai, gunung maupu  juga berbagai resto maupun hotel tempat menginap. Pada tempat tersebut disediakan berbagai informasi yang bisa menjadi panduan untuk menambah pengetahuaan saat berkunjung di tempat wisata tersebut sehingga kegiatan-kegiatan liburan juga layaknya bagian dari pembelajaran masyarakat.

Baca juga :  Tradisi Mudik & Geliat Ekonomi Kaum Urban

Panggung hiburan yang meramaikan berbagai tempat pusat keramaian saat jelang tahun baru adalah berkah dari para musisi terkenal maupun lokal. biasanya panggung hiburan tersebut adalah panggung hiburan menyanyi. Bukan semata-mata menikmati panggung tersebut namun kemasan panggung hiburan juga bagian dari literasi wisaat musik. Untuk lebih mengenalkan dunia hiburan sebagai media relaksasi masyarakt dalam menghadapi berbagai problem hidup. Saat ini begitu berat karena arus persaingan SDM baik secara kolektif maupun individu.  Momentum tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengenal lebih dekat literasi industri kreatif dalam mendukung wisata di Indonesia. Biasanya jelang tahun baru tempat-tempat wisata dibanjiri panggung hiburan untuk mendatangkan ribuan pengunjung. Untuk mengenalkan para seniman menampilkan kreasi seninya, kreasi tersebut merupakan bagian dari literasi wisata untuk mengenalkan kekayaan budaya nusantara sekaligus kreasi seni sebagai bagian dari literasi seniman. Pilar-pilar wisata Indonesia begitu komplit dengan berbagai daya dukungnya seperti panorama keindahan alam, peninggalan sejarah, aneka ragam budaya maupun kreativitas para musisi kontemporer. Kekayaaan tersebut bagian dari literasi wisata yang juga mendukung pemahaman untuk meningkatkan kepercayaan diri bangsanya terhadap bangsa lainnya. Apalagi pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan dukungan dari wisata dengan berbagai ikonnya tentu akan makin memantapkan hak atas kekayaan intelektual karya-karyanya tersebut.

Wisata cagar budaya dan keajaiban dunia seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan adalah literasi wisata yang identik dengan wisata literasi sehingga kunjungan wisatawan jelas untuk melihat cagar budaya tersebut. Apapun bentuk wisatanya apakah itu identik dengan wisata literasi atau bukan penekanan tentang literasi wisata dengan berbagai nuansanya adalah suatu keharusan untuk memaksimalkan kegiatan berliterasi di masyarakat. Dalam hal ini kegiatan literasi tidak harus identik dengan perpustakaan maupun dunia pendidikan tapi tempat-tempat wisata adalah bagian dari tempat untuk berliterasi. Masalahnya tinggal kesadaran individunya bahwa berwisata bukan sekedar rekreasi dan belanja oleh-oleh saja, tapi juga tempat untuk menambah wawasan dan pengetahuan termasuk juga perilaku masyarakat sekitarnya adalah bagian dari literasi perilaku sosial masyarakat lokal yang harus di hormati…..Salam literasi

Related posts
Opini

UKT Ugal-Ugalan: Pendidikan untuk Siapa?

Oleh: Riza A. Novanto, M.Pd – Pemerhati Pendidikan, Dosen STIKes Muhammadiyah…
Read more
Opini

Mengenal Karakter Umum Pengikut Salafi

Oleh: Dr H Ali Trigiyatno, MAg – Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng Berdasarkan pengamatan…
Read more
Opini

Menebar Kebaikan di Era Disrupsi

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Era Disrupsi sudah tidak…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *