Opini

Kunci Sukses Memondokkan Buah Hati

Kunci Sukses Memondokkan Buah Hati

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag
(Staff Pengasuhan PPAD Kab. Tegal)

Anasir bangunan penguat dalam sistem pengasuhan santri di pondok pesantren salah satunya adalah doa restu serta keikhlasan para orang tua (wali santri) untuk merelakan buah hatinya dididik dalam miliu pesantren. TITIP, apa itu titip?, TITIP adalah akronim dari Tega, Ikhlas, Tawakal, Ikhtiar, Percaya. Dari kata TITIP ini, Huruf “T” yang pertama, Tega, maksud kata ini adalah para wali santri harus tega meninggalkan sang anak untuk sementara, tidak berkomunikasi secara intens, membiarkan belajar tentang kemandirian hidup, dan tidak memanjakan dengan fasilitas yang lengkap.

Kedua, Ikhlas artinya para orang tua hendaknya ikhlas secara penuh bahwa anaknya sedang mengenyam pendidikan di pondok, ikhlas bahwa anaknya hidup dalam kesederhanaan, prihatin dan selalu mendoakan anaknya serta ikhlas untuk menaati peraturan pondok untuk wali santri dan anaknya.

Ketiga, Tawakal, yang dimaksudkan di sini adalah tawakal kepada Allah dengan memantapkan hati ketika sang buah hati hidup dalam suasana pendidikan pesantren, dengan ini akan mengikis bahkan menghilangkan rasa risau orang tua ketika jauh dari anaknya. Salah satu wujud ketawakalan wali santri adalah dengan tidak sering menengok sang buah hati, agar mentalnya terus terjaga dan stabil. Dengan tujuan pikiran dan jiwa sang anak bisa fokus di pondok tidak memikirkan kembali suasana rumah karena ia menyadari dirinya sedang menuntut ilmu.

Keempat, Ikhtiar. Memondokkan anak adalah salah satu ikhtiar terbaik orang tua untuk masa depan buah hatinya, bukan sekadar masa depan urusan duniawi, dan urusan ukhrawi adalah yang utama. Maka dalam bentuk amalan apa saja ikhtiar (usaha) yang harus dilakukan orang tua ketika memondokkan anaknya?, yaitu dengan DUIT (Dana, Usaha, Ibadah, Taqarrub Ila Allah). Dengan upaya dan amalan ini Insya Allah problematika kekhawatiran para wali santri akan berkurang asalkan direnungi secara ke dalam hati secara mendalam dan dilakukan dengan istiqomah.

 Kelima, Percaya. Seringkali terjadi wali santri kurang percaya kepada lembaga pesantren. Kejadian ini sebenarnya akan berdampak kurang sehat kepada anak (santri) sekaligus orang tuanya, bahkan seringkali juga nama lembaga pesantren pun terseret olehnya, karena kurangnya kepercayaan wali santri kepada pondok. Bagaimana sisi tidak sehatnya?, secara hubungan batin anak dan orang tua sangatlah erat jika salah satu dari keduanya ada yang kurang percaya kepada pondok, problem yang akan muncul pertama adalah “tidak betah”, dari stigma ini akan muncul problem-problem baru dibarengi dengan dugaan-dugaan negatif yang seringkali mencuat di permukaan.

Dan pada akhirnya, di tahapan tertentu akan memutuskan untuk pulang ke rumah atau bahkan sampai keluar dari pesantren. Ada kasus orang tuanya masih kurang percaya dan tidak tega melepas anak tapi anaknya semangat mondok, karena keinginan kuat ortu untuk bersama terus akhirnya si anak merelakan kesemangatannya untuk kedua orang tuanya. Ada pula kasus orang tua sangat ikhlas anaknya mondok dan percaya penuh terhadap pondok tapi si anak kurang legowo hatinya sehingga tidak sinkron yang pada akhirnya keikhlasan dan kepercayaan orang tua harus ditukar dengan kemauan si anak untuk lepas dari pesantren.

Mengambil Ibrah dari penjelasan di atas, kesinambungan tali kepercayaan orang tua dan buah hati kepada pondok adalah kunci utama ketika memilih pesantren sebagai jalan pendidikan, support system terbaik adalah ketika kedua pihak saling mendukung dan menyemangati untuk tetap konsisten menjalani kehidupan di pesantren. Maka rasa percaya wali santri dan santri kepada pondok harus terus ditumbuhkan, dikuatkan dan dirawat agar menjaga support sistem terbaik.

Merangkai berbagai wejangan yang diutarakan di atas, TITIP merupakan anasir utama sekaligus menjadi tombo ati untuk para wali santri agar kuat secara spiritual, mental dan pikiran ketika memondokkan buah hatinya. Pesan terakhir, hendaknya wali santri men-TITIPkan anaknya di pondok dengan sepenuh hati, pikiran dan perasaan agar sang buah hati istiqomah dalam menuntut Ilmu di pondok pesantren. Semoga Allah Selalu Menguatkan. Wallahu ‘Alam Bishowab.

Related posts
Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas…
Read more
Opini

Dari Zaman Kolonial Hingga Milenial, 110 Tahun Muhammadiyah Berdiri

Oleh Ilham Ibrahim Tepat berusia 110 tahun, lahir di desa Kauman tahun 1912, Muhammadiyah lahir…
Read more
Opini

Isu Stunting, Telat Masuk Sekolah, dan Muktamar Aisyiyah ke-48

Saya memutuskan untuk tidak ikut dulu rombongan penggembira Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 di…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *