Kader Kultural Struktural dan Fungsional
Opini

Kader Kultural Struktural dan Fungsional

Oleh Heri Iskandar

Banyak pemahaman dan teori yang mengulas tentang kader yaitu seseorang atau individu yang menggerakan memberdayakan serta membawa peran nilai tradisi dan perjuangan dalam masyarakat.

Kali ini saya mengulas pembagian kader menurut peran dalam membangun tradisi dan perjuangan di sebuah organisasi.

Kader adalah perwira kebintaraan penerus perjuangan dalam Kamus Besar Bahas Indonesia.

Kader secara maknawiah adalah individu dalam organisasi dan kelompok yang menjadi penggerak dalam berbagai aspek kehidupan yang memiliki ciri seorang motivator inspirator konseptor dan eksekutor dalam menjalankan peran organisasi.

Keberadaan kader menjadi entitas kecil dalam pusaran organisasi yang lebih besar untuk memainkan peran organisasi dalam menjalankan tugas dan peran dalam masyarakat.

Kaderpun dapat melekat pada peran seseorang di masyarakat, organisasi keagamaan, kepartaian, lembaga negara, kerajaan, kemiliteran bahkan aliran ideologi dalam masyarakat.

Kader ini sebagai kepanjangan tangan yang kelak menjadi pemimpin penerus cita-cita penghubung di masyarakat dan melanjutkan tradisi dan perjuangan dari generasi ke generasi.

Kader kultural lahir dimana seseorang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat seperti contoh di Nahdiyin maupun di Muhammadiyah yang memiliki ciri tersendiri meskipun sulit membedakannya, namun kader ini akan nampak ketika memainkan peran di masyarakat seperti ketika memimpin pengajian penyelenggaraan jenazah dan menaggapi budaya di masyarakat, kader kultural ini lahir dari biologis seorang ayah dan ibu yang memegang teguh nilai-nilai yang menjadi tradisi di keluarga, berkumpulnya kader ini di masyarakat yang lebih besar akan mudah tampak di dalam gerakan dan cirinya.

Baca juga :  Demokrasi dan Kontestasi Etika

Dengan berbaurnya kader sebagai penggerak dan pemimpin di masyarakat maka individu ini telah sukses memainkan nilai dan melanjutkan tradisi.

Kader kultural memiliki pengaruh kuat dalam kelompok dan pusaran entitas yang menjadi penggerak sebagai motivator dan inspirator bagi kelompoknya.

Maka sering kita jumpai seorang individu yang memiliki daya yang dapat memberdayakan dan mengajak untuk mencapai tujuan tertentu hanya dengan kemampuan bicara dan bahasa tubuhnya.

Kemudian lahirlah kader struktural yang bisa juga lahir dari biologis dan ideologis, kader ini memiliki ciri menjalankan tugas dan peran organisasi yang memiliki tatanan dan aturan yang telah disepakati untuk dijalankan.

Sebagai contoh di Muhammadiyah yang memiliki struktur organisasi dari tingkat Pusat hingga Ranting dan memiliki organisasi otonom dan lembaga dibawahnya.

Kader yang memegang di jabatan struktural inilah kita sebut sebagai kader struktural yang memainkan tugas dan peran organisasi lebih besar sebagai pemimpin pelangsungg dan penyempurnaan perjuangan.

Kader ini memahami peran dalam struktur organisasi dimana ia mendapat tugas sesuai jabatannya dan memainkan peran di masyarakat sebagai pelangsung organisasi yang memiliki program kerja dan penggerak perubahan dalam melanjutkan tatanan dan perjuangan organisasi.

Baca juga :  Peran Strategis Ibu dan Literasinya Saat Era Robotic

Kader struktural ini dituntut memiliki ide gagasan dan pandai menggerakan masyarakat tidak hanya sebuah gagasan saja namun menjadi program kerja yang hendaknya dikerjakan menuju cita-cita, berbagai tugas dalam kapasitas jabatannya akan mendorong kecakapan menuniakan tugas yang diembannya yang kemudian mengantarkanya pada posisi strategis.

Kader struktural yang sukses ini memiliki kesempatan besar menjadi pemimpin di struktural manapun.

Apalagi berbekal kapabilitas dan kompetensi yang unggul maka ia akan mudah diterima masyarakat di lingkungan organisasinya maupun di seluruh tempat yang membutuhkan pemimpin-pemimpin yang visioner.

Kapabilitas ini menggambarkan kemampuan tertentu dalam mencapai serangkaian hasil dan kompetensi menunjukan kemampuan kerja yang dimiliki dari ketrampilan keahlian yang cukup untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang cakap.

Satu lagi ialah kader fungsional kader ini mendapatkan kedudukan karena jabatan fungsional seperti halnya di kalangan Muhammadiyah yang memiliki amal usaha di berbagai bidang dari kesehatan yaitu rumah sakit dan klinik di bidang pendidikan yaitu perguruan tinggi sampai tingkat kelompok bermain.

Kader ini besar dan kemudian menjadi kader fungsional dikarenakan profesi, dari berbagai bidang profesi yang ada di amal usaha mulai dari guru, tenaga ahli, konsultan, perawat, dokter, dosen dan manajer operasional diberbagi bidang pekerjaan.

Baca juga :  Persamaan dan Perbedaan Manhaj Salafi dengan Muhammadiyah

Karena amal usaha ini dimiliki sebuah induk organisasi maka dari pengurus atau pimpinan organisasi induknya akan memberikan kualifikasi atau syarat agar mematuhi dan mengikuti aturan di organisasi tersebut.

Dan kader fungsional ini pula dilarang menduakan kepentingan di tempat kompetitor dimana memiliki amal usaha dengan kepentingan yang sama.

Diantara kader yang lahir dari fungsional ini kadang belum bisa menjadi kader yang militan dan harapan karena ia masih sebatas pengabdian ketika masih bekerja di sebuah instansi, setelah selesai pengabdian lepaslah kembali sedia kala.

Kader fungsional ini diberbagai lini organisasi akan memperkuat secara struktural namun akan lemah ketika berada di kultural atau ditingkat masyarakat.

Dan bisa jadi dari berbagai kader tersebut yang lahir dari kultural kemudian menjabat di struktural organisasi dan berperan penting di dalam jabatan fungsional organisasi, golongan ini hanya sedikit saja dan lebih banyak kader-kader itu di kalangan kultural.

Dengan memahami ulasan kader menurut perannya ini maka kita dapat mengerti dan memahami termasuk memerankan yang mana.

Sebaik-baik kita adalah yang bermanfaat untuk sesama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *