Opini

Jadilah Guru Profesional

Jadilah Guru Profesional

Oleh Rudi Candra Simbolon, S.E.I., M.M*

Kalau sempat terlintas di fikiran Anda

“Repot sekali, banyak kali yang mau diurusin!”

“Capek sekali, memangnya anak-anak ini saja yang mau diurusin?”

“Ah malas lah, itukan bukan anakku!”

“ Kan keluar main (istirahat), ngapain saya terlalu sibuk mengurusi anak-anak itu?”

“Itu kan bukan tupoksi kerjaku.”

“Saya kan wali kelas rendah, untuk apa saya terlalu sibuk mengurusi anak-anak kelas tinggi?”

“Saya kan wali kelas tinggi, untuk apa saya terlalu sibuk mengurusi anak-anak kelas rendah?”

“Saya kan guru bidang studi, untuk apa saya urusi anak-anak itu, kan ada wali kelasnya?”

“Biarin saja, mau makan berdiri anak-anak itu, biar sajalah, saya kan mau istirahat.”

Saat melihat air tumpah di pelataran teras sekolah di musholla, dan lain-lain, “Biarlah kan ada petugas kebersihan”

 “Biar saja lah, kan ada Kepala Sekolah menunggu disuruh sajalah, menunggu diperintah sajalah”

“Aduh, malas sekali pun membalas WA dari group paguyuban ini (ribet kali orang tua si pulan ini)”

Atau misalnya tidak memiliki inisiatif, hadir ke sekolah pada saat injury time, bahkan terlambat, izin tidak masuk KBM seperti kebelet pipis, tidak berintegritas dan kurang beradab, Lebih banyak mengeluh dari pada mencari cara terbaik demi tercapainya pembelajaran

Ini adalah tanda-tanda penyakit yang sering kita temukan di lingkungan sekolah. Ibarat penyakit medis ini sudah komplikasi tingkat tinggi, stadium 4. Dan ini sangat sering terjadi di sekolah. Bila Anda terjangkit penyakit diatas mohon segera bertaubat kepada Allah SWT. Sebab itu adalah perilaku buruk, yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang guru.

Bapak ibu yang dimuliakan, mari merenung dan mengetuk hati kita, dari lubuk hati yang paling dalam, sungguh sebab keberadaan kita di Sekolah ini (SD Muhammadiyah 1 Aekkanopan) adalah karena adanya siswa-siswi. Kita berdiri tegak dihadapan peserta didik adalah sebab keberadaan mereka. Artinya wajar dan pasti lah kita repot. Kita menerima rezeki gaji setiap bulan dari sekolah ini, sudah barang tentu kita diikat dengan segala ketentuan dan tanggungjawab. Sebagai seorang guru sebuah keharusan bagi kita untuk meningkatkan rasa peduli dan kepemilikan terhadap instansi yang memberi dirinya rezeki setiap bulannya. Seberat apapun tupoksi yang telah ditetapkan, itulah bagian kita, itulah tanggungjawab kita, yang harus kita laksanakan dengan kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas.

Sungguh sebab keberadaan kita di Sekolah ini adalah karena adanya siswa-siswi.

Rudi CHandra simbolon

Kemuliaan dan derajat kita terangkat dengan status guru yang melekat pada diri kita. Status sosial di lingkungan masyarakat kita disegani dan dimuliakan, itu juga karena profesi kita sebagai guru. Seluruh makhluk mendoakan kita, sebab profesi yang kita emban adalah misi kenabiyan. Ridho menerima ketetapan adalah nilai-nilai ketauhidan, itu bertempat di dalam hati. Kalau di dalam hati artinya, yang hanya mengetahui adalah Allah dan masing-masing pribadi.

Berapa banyak orang yang hari ini di wisuda dengan gelar sarjana pendidikan. Berapa banyak juga orang mengantri yang ingin menggantikan posisi kita. Namun mereka belum memiliki kesempatan seperti kita. Saat ini situasi amatlah sulit. Situasi seperti ini harusnya menjadi nasehat terbaik untuk pribadi-pribadi yang kehilangan motivasi maupun terjebak dengan situasi rutinitas.

Seorang guru disebut guru karena dia mampu menjadi suri tauladan dari segala prespektif apapun. Kedisiplinan, kerapian, kebersihan, kewibawaan, kecerdasan, religius, kepedulian, integritas, itu semua harus melekat pada diri seorang guru. “Jadilah guru, jangan jadi guru pun jadilah”. Ini adalah kalimat satire yang sangat fundamental. Secara lahiriyah, dimana setiap guru dituntut untuk memiliki nilai-nilai ketulusan, keikhlasan, keridhoan dalam mengemban amanat konstitusi sebagai tenaga pendidik yang bergelar S.Pd. Maka sangat penting bagi setiap guru, sebelum masuk ke Perguruan Tinggi (Universitas) perlu kiranya berfikir dua kali untuk menetapkan jurusan, mengapa mengambil jurusan keguruan, maupun jurusan lainnya! Ini penting sekali, agar ke depannya saat menjalani profesi yang diembannya itu menjadi pribadi-pribadi yang profesional. Semoga bermanfaat.

* Principal Muhsaka Labura

Aekkanopan, Labura

Okt 25, 2022

Related posts
Opini

Mbak Bayin dan Perkaderan Pertamaku

Oleh Siti Marhamah Circa 1996, aku mengikuti perkaderan formal pertama di Nasyiatul Aisyiyah…
Read more
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *