Opini

Isu Stunting, Telat Masuk Sekolah, dan Muktamar Aisyiyah ke-48

Isu Stunting, Telat Masuk Sekolah, dan Muktamar Aisyiyah ke-48

Saya memutuskan untuk tidak ikut dulu rombongan penggembira Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 di Solo pada 18-20 November 2022 ini. Padahal keluarga besar saya hampir semuanya dipastikan ikut, mulai dari kakak beserta suami dan anak-anaknya, hingga orang tua saya. Memang muktamar kali ini tidak terlalu jauh dari kota kami, Kudus. Dan jatuh pada hari weekend. Sehingga peluang untuk datang sungguh besar.

Namun sekali lagi, saya memutuskan untuk tidak dulu ikut. Alasannya, saya memiliki anak yang usianya baru satu tahun. Yang saya sama-sama khawatir apabila diajak atau ditinggal. Apalagi berita tragedi Kanjuruhan masih hangat dalam ingatan. Membayangkan bagaimana berada di stadion bersama ribuan orang. Entah bagaimana seperti ada kesan traumatik bahkan pada orang yang hanya menonton beritanya lewat media. Padahal bisa dikatakan, acara Muktamar pastilah kegiatan damai, yang kecil kemungkinan terjadi kerusuhan, serta dijamin ada tingkat keamanan berlapis. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin saya mengambil salah satu dari dua pilihan itu. Untuk saat ini, saya memilih absen. Barangkali, lain waktu ada kesempatan menjadi penggembira.

Rombongan dari sekolah tempat saya mengajar, MI Muhammadiyah Jatikulon mendapat peluang masuk ke Stadion Manahan. Alih-alih memikirkan betapa ruginya saya melewatkan tiket pembukaan Muktamar yang digadang-gadang bakal meriah luar biasa itu, saya mencari-cari literatur makna dari Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 itu sendiri. Saya membuka web official milik Aisyiyah, dan menemukan judul, “Isu Penurunan Stunting, Salah Satu Soal Kebangsaan yang Diperjuangkan ‘Aisyiyah di Muktamar ke-48.” Judul ini menjadi menarik sekali bagi saya karena saya sendiri bersentuhan langsung dengan isu stunting tersebut.

Bagi ibu-ibu lain yang memiliki balita di kabupaten Kudus, isu ini mungkin hanya lewat. Tidak begitu menarik. Namun bagi saya, isu ini menjadi penting sekali. Bagaimana tidak, Desa Glagahwaru, desa di mana saya tinggal, menjadi desa terpilih yang dipantau terus perkembangan balitanya. Posyandu program Anti stunting ini kabarnya akan dilaksanakan hingga Desember 2022. Bila di desa lain posyandu hanya digelar sebulan sekali, di Glagahwaru posyandu dilaksanakan seminggu sekali. Tepatnya tiap hari Rabu pukul setengah delapan hingga sepuluh pagi. Seluruh balita di desa kami dipantau berat badan dan tingginya. Setiap datang ke posyandu, balita mendapat donasi berupa telur atau susu kotak tergantung usianya. Untuk anak saya, mendapat 14 butir telur untuk 7 hari.

Bukannya bahagia, malah sebagian besar ibu balita menjadi was-was, karena apabila berat badan atau tinggi badan anaknya tidak sesuai standar yang ada dalam grafik di buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) maka akan dirujuk ke puskesmas. Apabila dipantau di puskesmas masih belum ada perkembangan, maka dirujuk ke faskes tingkat pertama yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Menjadi hal yang menakutkan ketika anak diminta mau minum susu sekian kotak dalam sekian hari, dan berat badan (BB) harus naik menjadi sekian kilogram. Karena tindakan dari dokter RSUD akan bervariasi sesuai kebutuhan anak mulai dari hanya pemberian susu, suntik, hingga opname. Begitu kata teman-teman ibu balita di desa saya.

Anak saya sendiri, sejak dirujuk ke puskesmas bulan Maret 2022 lalu, lanjut ke RSUD, hingga September 2022 ini masih bolak-balik RSUD untuk dikontrol gizinya. Alasannya, berat badan anak saya masih di garis hijau muda dan kuning tiap kali posyandu. Nyaris saja masuk kategori stunting. Saya menghadapi rasa deg-degan tiap kembali kontrol ke RSUD dan berharap tidak mendapat tindakan dokter yang lebih dari pemberian susu formula khusus. Alhamdulillah sejauh ini hanya mendapat SGM khusus warna ungu. Bersyukur sekali anak saya pun mau meminumnya meski tidak bisa sesuai anjuran dokter yakni empat kotak susu seberat 450 gram untuk dihabiskan dalam waktu dua Minggu.

Kembali lagi pada persoalan Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 ini, saya bersyukur sekali menemukan poin pembahasan yang tepat. Aisyiyah mendukung penurunan angka stunting di Indonesia. Sebagaimana cuplikan dari aisyiyah.or.id:

Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, Senin (7/11) di Jakarta, dalam acara Media Gathering menyampaikan bahwa, ‘Aisyiyah pada Muktamar ke-48 ini membahas isu yang memang menjadi concern ‘Aisyiyah, yang tidak masuk dalam materi Pembahasan Muhammadiyah, antara lain isu stunting. Isu tersebut bukan hanya diwacanakan tetapi Muhammadiyah-‘Aisyiyah hadir memberikan solusi atas isu tersebut.(https://aisyiyah.or.id/topik/isu-penurunan-stunting-salah-satu-problem-kebangsaan-yang-diperjuangkan-aisyiyah-di-muktamar-ke-48)

Sebagai gerakan perempuan yang begitu peduli pada seluruh kehidupan, Aisyiyah memberi perhatian lebih terhadap persoalan perempuan dan anak. Isu stunting memberi dampak tidak hanya pada balita, namun juga bagi para ibu balita. Apalagi anak yang terkategori stunting seolah-olah mendapat stigma negatif di masyarakat sebagai anak kurang gizi, anak dari keluarga kurang mampu hingga kurang bisa mencukupi gizi anaknya, dan persepsi-persepsi lain yang memang lazim di masyarakat.

Kembali mengutip aisyiyah.or.id, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 24,41%, atau masih di atas taman batas yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 20%. Aisyiyah mendukung penurunan angka ini karena akan berdampak pada generasi masa depan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah. Dukungan Aisyiyah terhadap isu stunting dalam muktamar kali ini membuat saya semakin mantap untuk melanjutkan pemantauan perkembangan berat badan anak saya. Pernah saya ragu untuk membawa anak saya ke posyandu mingguan karena saya sendiri seorang guru. Membawa anak ke posyandu membuat saya harus ijin dua hingga tiga jam pelajaran. Dan perkara ijin tentunya menjadi perasaan ewoh sendiri kepada kepala madrasah. Sehingga pada awal-awal adanya posyandu program anti stunting ini, saya memilih absen dari posyandu beberapa kali.

Setiap kali ijin, terasa berat. Berdampak datang tidak tepat pada jam normal kedatangan guru. Yang berujung memicu prasangka negatif dari yang melihat. Bersyukur kepala madrasah di tempat saya mengajar selalu memberi ijin ketika saya sampaikan akan datang terlambat karena posyandu mingguan dahulu. Seolah mengerti akan kebutuhan seorang ibu dan balitanya.

Dan kali ini, saya pun bisa memaklumi diri saya sendiri, bagaimana saya harus absen dari Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 ini. Dan semakin mantap untuk melanjutkan pantauan perkembangan berat badan buah hati saya setiap Minggu karena bukan hanya kepala madrasah, bahkan Aisyiyah pun mendukung kami. Terima kasih!

Fadlillah Rumayn (Guru MI MUJAKU)

Related posts
Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas…
Read more
Opini

Dari Zaman Kolonial Hingga Milenial, 110 Tahun Muhammadiyah Berdiri

Oleh Ilham Ibrahim Tepat berusia 110 tahun, lahir di desa Kauman tahun 1912, Muhammadiyah lahir…
Read more
Opini

Menyambut Muktamar Muhammadiyah 48: Mulai dari "Titik Lemah" Muhammadiyah

Alhamdulillah Muhammadiyah sudah mencapai usia lebih dari satu abad. Sumbangsih Muhammadiyah utk…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *