Opini

Idulfitri

Idulfitri

Oleh : Wildan Sule Man

Tulisan ini saya hadirkan sebab sebentar lagi Ramadhan 1445 H akan segera Usai. Dan saya berharap dan berdoa semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan tentunya dalam keadaan sehat. Kenapa saya jadi cukup sedih dengan keadaan ini. Rupanya disebabkan oleh bait bait puisi yang cukup menyentuh, yang saya peroleh dari media sosial.

Sebentar lagi kau kan berlalu
Meninggalkan semua kemuliaan dan cinta yang ada padamu
Sedangkan ku disini masih saja tak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan saat bersamamu

Menganggapmu tak lebih dari yang lainnya
Melewatimu seperti hal yang sudah biasa terjadi
Bahkan di penghujung keberadaanmu
Kau selalu memberikan kerinduan dan keinginan
Yang diharapkan setiap insan

Di saat-saat terakhirmu
segala kemuliaan dan keagungan
Kau taburkan ke seluruh alam semesta
Segala rahmat dan cinta
bagaikan air hujan yang turun membasahi bumi
Yang setiap tetesanmu takkan mungkin terhitung
Akankah ku kan berjumpa lagi denganmu?
Menikmati segala kemuliaan yang ada padamu
ku kan selalu merindukanmu

Saya tidak ingin tenggelam terlalu lama dalam iklim kesedihan, sebab sepatutnya kita bahagia sebab segera bersua dengan hari raya kemenangan yakni Idul Fitri, mari kita bicara tentang hal yang ringan dan santai tanpa meninggalkan keseriusan dalam melangkah. Para pembaca yang budiman. Mengulas mengenai hari Raya Idul Fitri saya teringat beberapa hal. Pertama. Budaya memasak Ketupat yang populer didaerah kita, kenapa musti ketupat?, secara budaya, sebab ketupat yang di-bahasa Jawa-kan “kupat” merupakan singkatan “ngaku lepat” alias dengan besar hati manusia yang tempatnya salah itu “mengaku salah” lantas kemudian saling memaafkan. Kedua, Jika dikampung ada orang bernama Kang Fitriadi atau Mas Fitriyanto atau Mbak Fitriyanti atau Nona Fitra atau Lik Syawal, besar kemungkinan mereka lahir hari Idul Fitri atau bulan Syawal, sangking bahagianya melahirkan putra putri itu, Orang tuanya memberi nama yang ada hubunganya dengan Idul Fitri dan Syawal. Berharap ada spirit Fitri pada diri mereka, amin.

Baca juga :  Pintu

Besuk kita memasuki bulan baru yakni bulan Syawal, artinya Ramadhan akan berlalu, puasa wajib selesai, dan satu syawal datang sebagai hari Raya Idul fitri, id artinya kembali sedang Fitri bermakna suci, atau secara gamblangnya manusia yang telah mengikuti madrasah Ramadhan selama satu bulan dengan berbagai aktivitas “tirakat” seperti puasa wajib, menggiatkan ibadah sunah apalagi yang wajib, tadarus Al Qur’an, sholat tarawih dan berqiyamul lail, itu semua merupakan bentuk gemblengan menuju manusia fitri, Ramadhan menuju fitri merupakan bentuk penginstalan kembali menjadi manusia yang peka sekaligus matang, menjadi manusia yang manusia, sebagai hamba tuhan dan mahluk sosial, hamba yang wajib mematuhi perintah Nya sekaligus yang mampu hidup ditengah masyarakat sebagai khoiru umah, mewarnai jagad ini dengan laku laku positif, manusia yang memiliki tugas menjaga dan melestarikan alam, juga yang mengingatkan kebenaran dan kesabaran di setiap lini kehidupan.

Baca juga :  Argentina

Maka menjadi hal yang patut menjadi perhatian kita, jika kemudian Islam mendesain nama bulan setelah Ramadhan adalah Syawal. Syawal artinya peningkatan, berharap Setelah “wisuda” dari madrasah Ramadhan, terproduksilah manusia manusia yang taqwa plus memiliki peningkatan, baik peningkatan ibadahnya, peningkatan infaq sedekahnya, peningkatan peran positifnya ditengah masyarakat dan jama’ahnya, peningkatan cinta alam dan kasih sayang sesama manusia persis seperti salah satu point dasa darma pramuka, serta peningkatan-peningkatan yang lain.

Indikasi peningkatan sebagai lulusan Ramadhan terhadap efek sosial itu bisa kita baca dan kita cermati bersama, seperti turunnya kasus Korupsi, kriminalitas, perusakan lingkungan, ilegal logging, illegal Fishing, tawuran, kebut kebutan dijalan raya, miras dan broken home. Namun jika kasus kasus diatas paska Ramadhan nanti malah memiliki trend grafik naik, maka perlu adanya evaluasi kita dalam ber-Ramadhan. Caranya bagaimana?, persis seperti formula dari para ulama, beliau beliau berpetuah. Ramadhan jangan hanya dijadikan sebuah rutinitas wadag, namun Ramadhan musti diposisikan sebagai rutinitas Rohani penyegar jiwa, yakni mengefektifkan tirakat yang diinternalisasi dalam tiap lini hayat, yang kemudian memang bisa menjadi bulan pe-rubah, hingga “oleh oleh” Ramadhan itu lantas semampu mungkin kita jadikan bekal hidup rohani sebelas bulan kedepan, dimulai dari satu syawal hari Idul Fitri. Wallahu a’lam Bishowab.

Related posts
Opini

UKT Ugal-Ugalan: Pendidikan untuk Siapa?

Oleh: Riza A. Novanto, M.Pd – Pemerhati Pendidikan, Dosen STIKes Muhammadiyah…
Read more
Opini

Mengenal Karakter Umum Pengikut Salafi

Oleh: Dr H Ali Trigiyatno, MAg – Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng Berdasarkan pengamatan…
Read more
Opini

Menebar Kebaikan di Era Disrupsi

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Era Disrupsi sudah tidak…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *