Ibadah Qurban dan Misi Kemanusiaan
Opini

Ibadah Qurban dan Misi Kemanusiaan

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus

Ibadah qurban menjadi ibadah rutin umat Islam setiap tahun, semarak penyembelihan hewan qurban ada di mana-mana sebagai ungkapan rasa syukur pada Allah Swt sekaligus sebagai media gotong royong masyarakat di Indonesia. Pembagian daging qurban adalah saat yang di tunggu-tunggu masyarakat kalangan bawah. Kebiasaan makan sehari-hari yang tanpa daging sebagai kenikmatan tersendiri. Menu sate dan gulai adalah menu utama saat hari raya qurban. Tradisi berqurban sangatlah penting dalam membawa misi kemanusian yaitu misi bagaimana orang-orang termarginalkan dalam kehidupan menjadi manusia yang tidak lagi marginal. Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup secara manusiawi  harus terbebaskan melalui sikap saling berbagi. Daging adalah simbol menu berkelas bagi umumnya masyarakat, karena selama ini jarang yang menggunakan daging sebagai menu harian.

Suka cita saat menyambut Idul Adha sebagai pembeda dari sikap sehari-hari. Ibadah qurban berlaku untuk mereka yang mampu. Fenomena banyaknya umat Islam yang berqurban di setiap kampung-kampung maupun institusi sebagai penyemangat untuk sama-sama saling berbagi. Di daerah-daerah tertentu daging qurban menjadi berlebih, kebanyakan pendistribusian daging hewan qurban masih pada panitia kegiatan masing-masing. Dibutuhkan manajemen komprehensif yang menangani pembagian daging qurban sebagai bentuk misi kemanusian. Pembagian daging qurban dikelola dalam bentuk rendang dalam botol kaleng yang selanjutnya didistribusikan secara nasional. Sistem kelola daging qurban masih murni kemasyarakatan belum tersalurkan secara merata pada daerah-daerah yang standar gizinya pas-pas an. Saat ini yang sudah  beredar adalah rendangmu lazismu yaitu daging qurban yang di buat rendang. Dengan konsep rendang tersebut daerah daerah atau negara di mana umat Islam sedang di landa musibah seperti peperangan seperti Gaza atau daerah yang mengalami paceklik pangan bisa di salurkan sehingga manfaat qurban betul-betul dirasakan dalam wujud misi kemanusiannya.

Dunia saat ini di landa ketidakpastian iklim, kekeringan dan kebanjiran adalah fenomena yang akrab dalam kehidupan saat ini. Masih melimpahnya hewan qurban adalah sebuah keberkahan hidup di saat Idul Adha masih bisa menikmati daging-daging qurban. Sapi-sapi berberat ton atau ribuan kilo yang di beli pejabat dan pengusaha adalah bukti ketangguhan para peternak dalam beternak hewan qurban. Idul Adha bukan pesta daging qurban, di satu sisi ada yang berlebih daging hewan qurban di saat yang sama ada orang yang kekurangan bahan makanan.  Rasa empati kemanusiaan harus dikedepankan dalam pelaksanaan ibadah qurban, dengan menggugah rasa empati tersebut akan timbul rasa kemanusian dan kepekaan yang tinggi terhadap pihak-pihak yang membutuhkan. Murahnya nyawa manusia di Negara yang dilanda peperangan membutuhkan misi kemanusian berupa kesadaran bahwa di Bumi ini haram mengorbankan darah manusia yang tidak berdosa, yang ada adalah qurban hewan-hewan yang telah ditentukan sebagai persaksian pada hambanya yang berqurban di surga kelak.

Baca juga :  Pemuda Muhammadiyah, Krisis Peradaban dan Celah Kebangkitan

Perintah Berqurban pertama kali turun pada Nabi Ibrahim A.S  berupa perintah wajib sekaligus ujian pada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putera kesayangannya tersebut. Namun Allah SWT punya rencana lain yaitu digantikannya sosok Ismail A.S dengan seekor domba. Artinya dalam konteks kekinian adalah pengorbanan yang tulus ikhlas pasti akan di ganti oleh Allah swt sebagaimana Allah swt menggantinya dengan seekor domba maka makin bersyukurlah Nabi Ibrahim AS. Dewasa ini nalar kemanusian makin terkikis oleh pengaruh kekuasaan yang ingin terus berkuasa. Dunia berada pada posisi di landa ketidakpastian global konflik berpotensi terjadi di berbagai belahan dunia akibat kekeringan dan kerawanan pangan. Orang-orang susah makan tidak terekspos oleh media namun kemiskinan absolut masih menjadi ancaman dan angka statistiknya menunjukkan bahawa gejala itu hampir di setiap daerah di Indonesia. Ibadah qurban harus mampu mengurangi beban kemiskinan tersebut jangan sampai kemiskinan absolut melanda negeri ini yang masih berpotensi untuk menghidupkan sektor pangan. Himpitan utang individu atau keluarga juga menjadi problem keuangan saat ini, orang lebih senang menonjolkan penampilan daripada isi meskipun kualitas gizi dalam menu makanan sehari-hari makin berkurang. Akibatnya ancaman stunting yang menjadi sorotan pemerintah masih dalam data yang tinggi. Anggaran yang digelontorkan juga tidak sedikit. Idul Adha adalah hari berbagi beban dimana rasa kemanusiaan perlu ditonjolkan agar saat Idul Adha lebih terayomi hidupnya.

Baca juga :  Aksi Simpati untuk Rakyat Palestina

Idul Adha merupakan wujud dari kesalehan sosial bagi orang-orang yang mampu untuk berderma melalui daging qurban. Tidak semua orang hidup berkecukupan namun dalam situasi ekonomi normal masih ada orang-orang yang di beri kemampuan untuk sekedar berbagi itulah yang menjadikan perayaan Idul Adha lebih khidmat. Kumandang takbir dan tahmid sebagai bentuk pujian pada Allah swt atas segala kenikmatan yang diberikan pada manusia merupakan bentuk emansipasi kemanusian dengan menurunkan perintah untuk berqurban saat idul Adha. Tibalah saat  hari berqurban menjadi etos bagi para peternak  hewan qurban di saat sulitnya mencari pakan ternak.

Di daerah minoritas umat Islam hari raya qurban akan lebih terasa persaudaraanya sebagai sikap untuk saling berbagi antar sesama muslim dan juga sebagai upaya untuk mensyiarkan dakwah Islam. Kebahagian di hari qurban lebih dimaknai sebagai toleransi kemanusiaan yaitu di hari tersebut tanpa memandang si kaya atau si miskin menunya adalah sama yaitu menikmati daging qurban suatu yang rasanya special dan dirayakan bersama-sama. Di Negara yang di landa konflik juga berusaha untuk tetap merayakan Idul Adha dengan berqurban sebagai wujud hamba yang patuh dan tulus sebagaimana kepatuhan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih puterannya.

Sifat ketamakan manusia untuk saling berlomba-lomba menumpuk materi sejenak mereda saat Idul Adha. Pentasyarufkan dalam bentuk penyembelihan hewan qurban sebagi bentuk solidaritas sosial berbentuk emansipasi kemanusian yaitu bagaimana orang-orang yang berduit ikut juga memikirkan orang-orang miskin yang biasa menggelandang untuk memperoleh daging qurban. Di beberapa institusi atau lembaga juga ikut merayakan Idul adha, institusi yang sifatnya nasional seperti Polri TNI juga ikut mendistribusikan hewan qurban merata keseluruh Indonesia. Upaya ini  bagian dari bentuk peringatan hari besar umat Islam sekaligus untuk menciptakan suasana kodusif  dengan saling berbagi. Sungguh trenyuh di saat hari Idul Adha ada daerah yang minus atau tidak ada qurban sama sekali terkesan perayaan Idul Adha hanya sebatas pelaksanaan sholat Idul Adha saja tanpa ada yang menyembelih hewan qurban.

Baca juga :  Belajar dari Tim Besar yang Tumbang

Untuk itu penting dilakukan upaya untuk mendonasikan pada daerah-daerah yang selama ini miskin daging qurban untuk menghindari kecemburuan sosial. Di saat umat Islam di daerah lainnya merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan, daerah lain justru tanpa penyembelihan. Pentingnya peran lembaga umat yang membantu menyalurkan daging qurban di daerah tersebut sebagai bentuk peduli kemanusiaan sekaligus untuk menggugah semangat berqurban tokoh-tokoh setempat. Secara riil jika qurban ini mampu membagi hewan qurban secara merata pada seluruh lapisan masyarakat menengah ke bawah berarti keadilan sosial telah terwujud dimana perputaran asset umat Islam berputar di seluruh lapisan masyarakat dalam bentuk pentasyarufan daging qurban. Itulah semangat persaudaraan umat Islam saling memikirkan, jangan sampai kebahagian saat Idul Adha berubah menjadi sikap mengiri dan makin melebarnya jarak sosial masyarakat.

Akhirnya tumbuh berkembangnya peran masyarakat akan menentukan kesuksesan pelaksanaan ibadah qurban. Daging qurban sebagai media untuk saling berbagi supaya rasa kemanusian kembali pada fitrahnya. Sebagai sesama mahluk ciptaan Allah swt yang harus menyadari bahwa segala bentuk yang melekat pada diri manusia adalah semata-mata milik Allah swt.  Semua harta adalah titipanya manusia tidak boleh merasa memiliki secara kekal, yang dibutuhkan adalah sikap saling merendah tidak ada kesombongan karena saat Idul Adha adalah hari yang berbahagia. Bersama-sama mengumandangkan takbir dan tahmid setelah itu menyembelih hewan qurban dan membagikan pada orang yang betul-betul membutuhkan perhatian sebagai wujud misi kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *