IslamOpini

Empat Sumber Kesusahan Hidup

Empat Sumber Kesusahan Hidup

Oleh: H. Nunu Anugrah P, S.Pd.,S.T.,M.Pd.I.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pabuaran Kab. Cirebon

Ada empat hal yang menyebabkan seseorang bisa menderita. Jika empat hal itu ada, jangankan di akhirat, di dunia saja bisa dipastikan hidupnya tidak akan bahagia.

Rasulullah SAW bersabda, “Empat perkara termasuk dari kesengsaraan yaitu: al-jaaru as-suu-u (tetangga yang jelek), al-mar-atu as-suu-u (istri yang jelek /tidak shalihah), al-markabu as-suu-u (kendaraan yang tidak nyaman), dan al-maskanu adh-dhayyiqu (tempat tinggal yang sempit)”. H.R. Ibnu Hiban

Pertama,

yang menyebabkan hidup jadi susah adalah al-jaaru as-suu-u (tetangga yang jelek). Bisa dibayangkan jika memiliki tetangga yang jelek, di depan rumah kita rumah tangganya tidak harmonis. Setiap tengah malam bertengkar keras tentu tentu akan sangat mengganggu, di samping kiri tetangga kita pencuri, tentu setiap kita meninggalkan rumah diliputi perasaan khawatir dan was was. Dan di sebelah kanan rumah kita tetangga kita punya kebiasaan suka meminum minuman keras tentu kita akan sangat terganggu. Makanya jika ingin membeli atau membangun rumah, pertimbangan yang pertama adalah kondisi lingkungan sekitar agar hidup terasa nyaman.

Apalgi status tetangga dalam islam itu sangat istimewa. Karena seringnya Nabi SAW menyuruh berbuat baik kepada tetangga para sahabat mengira tetangga akan mendapatkan hak waris, padahal tidak.

Kedua,

al-mar-atu as-suu-u (istri yang jelek/tidak sholihah) tentu untuk wanita yang membuat hidup terasa susah adalah suami yang jelek/tidak shaleh. Rasulullah SAW ketika Isra Mi’raj diperlihatkan neraka yang sebagian besar penghuninya adalah wanita. Penyebabnya adalah banyak kaum wanita (istri) yang tidak pandai bersyukur. Seorang suami akan merasa susah hidupnya jika memiliki pasangan yang tidak pandai bersyukur. Selain itu perilaku istri yang jelek adalah suka membanding-bandingkan kondisi suami dengan suami orang lain dalam masalah harta dan pendapatan. Jika dua ciri ini ada dalam seorang istri, maka dipastikan suaminya tidak akan bahagia. Makanya Nabi SAW memberikan tuntunan ketika seoarang laki-laki akan memilih seorang wanita untuk dijadikan pasangan hidupnya. “Nikahi wanita karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang ta’at agamanya, niscaya engkau beruntung”. (H.R. Bukhari). Nabi SAW memerintahkan agar memilih pasangan prioritas utamanya karena agamanya, karena jika bagus dalam urusan agamanya, jika mendapat kesulitan dia akan bersabar dan jika mendapat nikmat dia akan bersyukur.

Jika wanita bagus dalam agamanya, maka akan berfungsi sebagai pakaian sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: “Mereka (para istri) pakaian bagi kalian (para suami), dan kalian adalah pakaian bagi mereka”. Prof. Komarudin Hidayat menjelaskan tiga fungsi pakaian, yaitu: untuk keindahan, kesehatan, dan menutup aurat. Wanita atau pasagan yang jelek (tidak shaleh/shalehah) tidak akan berfungsi seperti pakaian. Dia tidak akan memperoleh keindahan/kenyamanan, tidak sehat (tentu secara rohani), dan akan menceritakan aib/kekurangan pasangannya kepada orang lain.

Ketiga,

al-markabu as-suu-u (kendaraan yang tidak nyaman). Apakah harus memiliki kendaraan yang bagus mengkilap serta harganya yang ratusan juta jika kita ingin bahagia? Tentu tidak. Yang disebut kendaraan yang tidak nyaman itu ketika kita akan memakainya terkendala oleh gangguan. Kita memiliki sepeda atau motor. Ketika kita akan berangkat ke tempat kerja ada saja kerusakan, ban nya bocor, rantainya putus, rem nya tidak berfungsi dan sebaginya. Jika memiliki kendaraan yang selalu sering rusak komponennya maka itu lah salah satu ciri bahwa pemiliknya memiliki kesusahan dalam hidupnya.

Keempat,

al-maskanu adh-dhayyiqu (tempat tinggal yang sempit). Prioritas utama bagi sebuah keluarga setelah menikah adalah memiliki tempat tinggal. Bisa dibayangkan jika kita memiliki rumah yang sempit, kita tidak akan merasa nyaman mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga. Istirahat dan beribadah tidak nyaman. Jika sudah memiliki anak, maka anak-anak pun belajar tidak akan nyaman pula.

Semoga kita bisa menghindari empat hal yang menyebabkan hidup menjadi susah, dengan kaidah mafhum mukhallafah, mengambil perbandingan terbalik yaitu dengan memiliki tetangga yang baik (al-jaaru ash-shalihah), istri yang baik (al-ma-atu ash-shalihah), kendaraan yang nyaman (al-markabu al-hanii-u), dan rumah yang lapang (al-markanu al-waasi’u menjadikan hidup akan bahagia.

Wallahu’alam.

Related posts
Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas…
Read more
Opini

Dari Zaman Kolonial Hingga Milenial, 110 Tahun Muhammadiyah Berdiri

Oleh Ilham Ibrahim Tepat berusia 110 tahun, lahir di desa Kauman tahun 1912, Muhammadiyah lahir…
Read more
Opini

Isu Stunting, Telat Masuk Sekolah, dan Muktamar Aisyiyah ke-48

Saya memutuskan untuk tidak ikut dulu rombongan penggembira Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 di…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *