Opini

Distorsi Gerakan IMM Tegal

Distorsi Gerakan IMM Tegal

Oleh: M. Dzaky Yulianto

Dinamika di dalam tubuh ikatan sering sangat terjadi. Idealisme kader bermunculan demi kukuhnya suatu fondasi dalam ber ikatan. Tiap cabang se Jawa Tengah memiliki ciri khas masing-masing pada pergerakan Ikatan di suatu cabang yang kader miliki. Bila kader Sukoharjo dan Surakarta identik dengan Intelektual, kader Semarang dengan religiusitas dan intelektual, kader IMM Purworejo dengan religiusitas, kader IMM Banyumas dengan humanis. Terjadinya perbedaan dan perselisihan pendapat di tubuh ikatan adalah suatu hal yang biasa, ibarat garam dalam masakan, maka tanpa garam tidak enak rasa masakan yang di masak, tidak ada rasa bagi lidah yang mengecap masakan.

Problematika yang terjadi pada hari ini adalah tantangan besar bagi kader IMM Tegal. Kader IMM Tegal harus selalu siap sedia. Saya selalu menanyakan kepada hati nurani, untuk apa kita menjadi kader IMM? seorang kader seyogyanya khatam mati hadits shohih ini, “Innamal a’malu binniyaat” yang artinya “sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya”. Perbedaan pendapat yang mengakibatkan perselisihan memang benar adalah suatu pelengkap dalam berorgaisasi, namun Cabang Tegal tersendiri sudah menginjak umur satu dekade lebih, yang di mana usianya sudah tidak muda lagi. Harus ada problem solving bagi dinamika yang terjadi agar persaudaraan terus terikat tanpa ada permusuhan yang berarti.

Yang saya rasakan di IMM Tegal telah terjadinya distorsi gerakan, yang di mana para pimpinan tidak serius untuk merumuskan, menarasikan, dan mengejahwantahkan suatu kegelisahan yang sudah sering di keluhkan oleh kader-kader akar rumput. Pelaksanaan pelantikan IMM Tegal tepat di tanggal 07 Agustus 2022 merupakan bentuk yang sakral bagi suatu organisasi. Harapan kedepan momentum pelantikan jangan di jadikan sebagai hal yang tabu, dan jangan di jadikan sebagai hal sebelah mata.

Distorsi gerakan IMM Tegal ditandai oleh kondisi internal yang busuk, berupa terjadinya inkonsistensi dalam gerakan yang sangat fundamental dari hakikatnya sebagai organisasi mahasiswa. Bahkan faktor tersebut saat ini tidak disadari oleh para pimpinan yang ada dan terjebak pada kefanaan. Selain itu, mereka tidak sadar bahwa IMM Tegal tidak lebih dari kenangan masa lalu yang telah padam, mati, dan sirna.

Seperti yang sudah di sebutkan, distorsi gerakan IMM Tegal salah satunya inkonsistensi gerakan di ikatan. Langkah gerak organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, yaitu sebagai organisasi otonom Muhammadiyah sekaligus sebagai organisasi mahasiswa. Peran ini sudah runtuh dan hilang dimakan oleh keegoisan kader dalam menjalankan organisasi. Ada beberapa hal yang menyebabkan distorsi gerakan IMM Tegal.

Pertama, tidak jelasnya grand desain yang sudah rancang dan di tetapkan oleh Ketua dan grand desain itu menjadikan sebagai tujuan untuk mengarahkan sebuah organisasi agar lebih terarah, dan dengan adanya grand design membuat para pimpinan yang lainnya bisa berkerja sesuai dengan arahan yang diberikan oleh ketua, di ibaratkan peta yang akan menunjukkan perjalanan IMM Tegal menuju mimpinya untuk berkembang, menjadi lebih baik di masa kepemimpinanya, dan membina di setiap akar rumput, secara khusus ini dapat di lihat dari ketidakseriusannya para pimpinan dalam menjalankan tugasnya, para pimpinan banyak yang tidak berkompeten, dan memiliki keegoisan yang sangat tinggi. Karena memiliki grand desain adalah satu-satunya kewajiban yang di miliki oleh organisasi. Mimpi dan harapan menjadi salah satu latar belakang dari penyusunan sebuah grand design, karena dari mimpi besar lah kita bisa tau perubahan apa yang akan kita laksanakan di IMM Tegal.

Kedua, tidak solid dalam menjalankan program kerja yang sudah di rancang dan yang sudah di tetapkan. Padahal di dalam tubuh organisasi perlu adanya rasa solidaritas tinggi yang di tanamkan oleh pimpinan. Kemampuan untuk menyatukan perbedaan merupakan hal yang harus dilakukan untuk dapat di terciptanya iklim organisasi yang harmonis. Karena di dalam suatu organisasi pastinya terdiri dari jenis dan tipe kepribadian orang yang berbeda-beda, secara khusus ini dapat di lihat sebagian besar kepribadian dari para pimpinannya enggan bersumbangsih dalam merumuskan program kerja. Karena miliki solidaritas dalam berorganisasi sangat penting, dasar solidaritas adalah empati, dalam artian empati yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Ketiga, buta terhadap politik kebangsaan. Untuk itu mengamati politik adalah salah satu cara yang harus di lakukan mahasiswa. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi yang sudah matang dalam mengamati politik di umurnya yang sudah lima puluh delapan tahun. Tahun 2024 adalah pestanya demokrasi di era milenial dimana ikatan mahasiswa muhammadiyah harus mengambil peran penting di tahun tersebut, secara khusus ini dapat di lihat sebagian besar kader-kader IMM Tegal belum mengambil peran penting dalam politik kebangsaan tingkat daerah. Pada saat ini gerakan mahasiswa masih dipercayai oleh masyarakat yang mampu membawa perubahan dalam hal ini dikarenakan suatu pergerkana mahasiswa masih diisi oleh nilai- nilai kaum muda yang sangat identik dengan gerakan moral yang bertumbuh pada empati dan simpati masyarakat, terhadap lingkungan, masyarakatnya, bangsanya, menumbuhkan semangat keberpihakan kepada rakyat serta menjadi jembatan bagi dunia akademik dan masyarakat. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan murni yang berbentuk kepedulian yang penuh dengan analisis intelektual dengan penuh perubahan.

Kita sebagai kader dapat melihat dengan jelas dan merasakan dampak yang sedang terjadi saat ini. Sekarang semangat kader adalah menciptakan iklim tata kelola organisasi yang sejuk, nyaman dan berdampak bagi komisariatnya. Sejuk yang memiliki arti jelas dalam merealisasikan grand desain yang sudah di rancang dan di tetapkan menuju mimpi untuk berkembang. Nyaman yang memiliki arti solid dalam menjalankan roda pergerakan IMM Tegal. Berdampak yang memiliki arti dapat berperan aktif dalam politik kebangsaan.(*)

Related posts
Opini

Mengapa Muktamar Muhammadiyah Sangat #GakLucu?

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri Pada 18-20 November 2022, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 di…
Read more
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Opini

Bertemu Keluarga

Oleh: A. Hilal Madjdi (Ketua PDM Kudus) Tiba-tiba saja tenggorokan terasa tercekat, semacam ada…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *