Opini

Catcalling Bukan Suatu Tindakan yang Patut Dimaklumi

Catcalling Bukan Suatu Tindakan yang Patut Dimaklumi

Baru-baru ini viral aksi catcalling yang dilakukan oleh para pemuda yang duduk berjejer di pinggiran Alun-Alun Kudus. Mereka dengan serantak dan beramai-ramai menggoda para pengguna jalan yang melintas di depan mereka. Tindakan yang dilakukan tersebut sangatlah memprihatinkan dan disayangkan. Alun-alun yang merupakan ruang publik malah menjadi tempat kurang nyaman bagi tiap orang karena aksi catcalling tersebut.

Catcalling merupakan suatu tindakan yang masuk dalam kategori pelecehan sesksual. Hal demikian dikarenakan catcalling merupakan perilaku tak senonoh yang diekspresikan di ruang publik, baik secara verbal ataupun non verbal(Chunn, 2011). Tujuan dari catcalling adalah memberi komentar terhadap orang lain. Dalam bertuk verbal bisa berupa sapaan, godaan hingga siulan, sedangkan non verbal berupa mimik wajah seperti kedipan atau yang lainnya. Catcalling biasanya terjadi di ruang publik terutama di jalan raya. Maka dari itu catcalling biasa juga disebut street harassment.

Namun demikian, catcalling masih dianggap suatu hal yang lumrah bagi sebagian masyarakat. Sehingga mereka dengan seenaknya melakukan hal tersebut tanpa merasa bersalah. Masyarakat menganggap bahwa godaan, siualan dan kedipan mata adalah suatu gurauan belaka(Dewi, 2019). Jadi hal tersebut wajar dilakukan karena untuk senang-senang saja. Padahal tanpa mereka sadari perilaku ini dapat merugikan orang yang menjadi korbannya.

Perlu diketahui bahwa, catcalling bisa memberikan dampak buruk bagi korbannya. Orang yang mendapat perlakuan catcalling bisa saja mengalami ketakutan dan trauma. Dampak traumatis ini tentu sangat dirasakan oleh para korbannya. Mereka dilecehkan di muka publik dengan godaan dan panggilan yang membuat risih. Hal ini mengakibatkan para korban merasa takut apabila harus menemui khalayak ramai lagi. Menurut penelitian dampak traumatis ini bisa berakibat dalam kurun waktu yang lama (Saffana,dkk, 2021). Dampak negatif yang berlangsung lama ini bisa menyebabkan melambatnya pengembangan potensi korban. Mereka akan kesulitan mengembangkan potensi diri karena masih terkurung oleh traumatis yang pernah diberikan oleh publik.

Selain berdampak negatif bagi para korbanya, perlakuan catcalling juga menunjukan moralitas masyarakat masih belum bisa dikatakan baik. Tindakan catcalling merupakan salah satu dampak dari pola pikir hedonistik, suatu paham tentang etika yang kemudian dikritik oleh Immanuel Kant. Hedonistik merupakan suatu etika moral yang berpandangan bahwa, kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia (Rhenald, 2003). Pola pikir ini meracuni generasi muda hari ini sehingga mereka mengabaikan kebahagiaan dan perasaan orang lain.
Mereka hanya mengincar kebahagiaan atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, mereka mencari kebahagiaan dengan cara melakukan catcalling lalu berdalih hanya melakukan gurauan untuk bersenang-senang.
Berdasarkan dari kedua aspek tersebut maka perlu disadari bersama bahwa, catcalling merupakan hal yang sangatlah merugikan. Banyak dampak negatif yang diterima korban sehingga mereka takut untuk berkativitas bebas. Masih adanya catcalling juga menjadi pertanda bahwa upaya perbaikan moral harus senantiasa digalakkan. Perlu adanya pembinaan atas para pemuda yang menjadi pelaku catcalling agar mereka menyadari bahwa, kebahagiaan yang mereka cari berdampak buruk bagi orang lain.

Pemahaman masyarakat atas penormalisasian tindakan catcalling juga harus diubah. Mengingat banyak dampak yang akan berakibat fatal jika catcalling masih dibiarkan hidup. Maka, perlu sekali upaya untuk membongkar paradigma masyarakat agar tidak menganggap wajar aksi catcalling. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran bersama bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan. Sehingga aksi catcalling bisa dicegah bersama-sama kemudian terciptalah ruang publik yang aman serta nyaman bagi semua orang.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya.

*Muhamad Fatkhul Huda

Related posts
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Opini

Bertemu Keluarga

Oleh: A. Hilal Madjdi (Ketua PDM Kds) Tiba-tiba saja tenggorokan terasa tercekat, semacam ada…
Read more
Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *