Opini

Bertemu Keluarga

Bertemu Keluarga

Oleh: A. Hilal Madjdi (Ketua PDM Kudus)

Tiba-tiba saja tenggorokan terasa tercekat, semacam ada benda asing tersangkut menghambat aliran oksigen ke paru-paru. Kedua kelopak mata seperti terguyur air, disertai getaran-getaran kecil di bibir yang serasa mencekal tak bisa berbicara. Solo, kota yang biasa saya datangi entah sekedar berwisata atau bertandang ke teman, ataupun melaksanakan tugas kedinasan. Kota yang sarat dengan sejarah kebangsaan dan kenegaraan ini sehari-hari tampak biasa saja, namun tidak biasa pada medio November setidaknya sampai nanti 21 November. Di kota ini pagelaran super akbar digelar. Di kita ini sebuah persyarikatan besar dipertaruhkan masa depannya. Di kota ini, salah satu sayap Bhinneka Tunggal Ika sedang memperkokoh diri untuk mencerahkan semesta. Lalu hati siapa yang tidak tergetar ?

“Assalaamualaikum…, bapak dari mana ?” adalah sapaan akrab yang terdengar setiap saat. Sumba, Sumsel, Sumut, Papua, Kudus, Sidoarjo, Ogan Komering Ilir.. Semua kota dan provinsi terucap dengan keramahan yang jauh dari kesombongan. Bahwa kita ini besar dan sedang menghela perayaan super akbar tak nampak dalam tuturan dan perilaku para peserta dan penggembira. Semuanya biasa-biasa saja, tak nampak elitis apalagi metropolis meskipun rata-rata yang hadir ke Solo adalah pejuang-pejuang persyarikatan yang tidak hanya berprogram besar, tapi juga beromzet rupiah besar. Lalu, hati siapa yang tidak tergetar ?

Interaksi antar peserta dan penggembira dalam pesta super akbar di Solo ini bahkan jauh dari perbincangan tentang program kerja keummatan. Sebab program keummatan adalah menu harian yang biasa menjadi kudapan. Tak ada pula perbincangan serius tentang siapa bakal.menjadi Nakhoda dari Kapal besar ini, sebab seluruh penumpang kapal besar ini adalah pelaut-pelaut tangguh yang sangat paham dengan etika kelautan.

Perbincangan antar peserta dan penggembira tak lagi tentang amal usaha, sebab seandainya tidak bisa hadir di perhelatan super akbar inipun semua amal usaha telah tertata, terpola dan tersistemisasi dengan “best governance” berbasis adab, akhlaq dan etika serta norma-norma Al Islam dan ruh kemuhammadiyahan yang telah menginternalisir dalam relung hati, otot dan tulang.

Lantas apa yang diperbincangkan ? Apa yang dikumandangkan ? Apa yang dicanangkan ? Ada yang tak pernah terucap, tapi terekspresikan. “Kita adalah keluarga. Kita sedang bertemu keluarga, dan kita sedang bergembira bersama keluarga.”

*catatan kecil dari Muktamar

Related posts
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas…
Read more
Opini

Dari Zaman Kolonial Hingga Milenial, 110 Tahun Muhammadiyah Berdiri

Oleh Ilham Ibrahim Tepat berusia 110 tahun, lahir di desa Kauman tahun 1912, Muhammadiyah lahir…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *