Opini

Beribadah Demi Surga

Beribadah Demi Surga

Oleh : Ilham Ibrahim*

Gegara Eko Kuntadhi, persoalan bidadari di surga kembali naik permukaan. Akibatnya, beberapa waktu yang lalu saya diskusi soal ini dengan teman di kampus.

Teman saya berseloroh: “surga dan neraka itu makhluk. Tak pantas diharapkan!” Ia menambahkan dengan nada yang menghakimi: “Kalau beribadah tujuanmu adalah masuk surga lalu bersenang-senang dengan bidadari, kamu telah menduakan Allah”. Responku agak kaget karena memang itulah tujuanku beribadah wkwkw.

Lebih jauh, teman saya itu menjelaskan bahwa iming-iming bidadari surga dalam Al Quran dan Hadis sebenarnya hanya modus komunikasi bagi mereka yang bebal dan sulit diatur. Termasuk iming-iming mendapat mahkota kehormatan, istana yang megah, dan makanan serta minuman yang super enak, tidak lebih dari sekadar strategi persuasi. Keragaman iming-iming ini merupakan penyesuaian dari keadaan dan kebutuhan objek dakwah Rasulullah.

Dengan penuh semangat menggebu teman saya bilang: “buat apa ibadah tapi tujuannya hanya ingin bercumbu dengan bidadari, berkuasa dengan mahkota kehormatan yang tak bisa kau dapatkan di dunia, melampiaskan kepuasan perut yang tak sempat kau nikmati”. Ia kemudian menyimpulkan: “beribadah menyembah Allah yang serba pamrih ini, tidak akan diganjar pahala.”

Saya melihat gelagat Eko Kuntadhi dan teman saya di atas mirip orang-orang yang belagak sufistik tapi tujuan sebenarnya cuman narsistik. Modusnya ingin memurnikan Allah dari segala hasrat dan birahi, tapi malah kesimpulannya jadi desktruktif: Lebih bagi gak usah ibadah.

Entah kenapa, mereka doyan sekali mempermasalahkan keberadaan surga dan neraka karena dianggap mengurangi ketulusan dan kesucian dalam rangka menyembah Allah. Beribadah menyembah Allah sambil berharap masuk surga divonis sebagai bentuk ibadah yang tidak murni, tidak ikhlas. Hasilnya sudah terbaca, seseorang dengan cita-cita masuk surga dianggap mengejar kepuasan birahi seksual, hasrat kekuasaan, dan kepentingan perut duniawi.

Surga dan neraka adalah oposisi biner. Saat seseorang berdoa dijauhkan dari api neraka berarti ia menginginkan surga. Hal ini terlihat dalam Al Quran yang membolehkan beribadah sambil mengharap dijauhkan dari neraka (QS. Al-Furqan : 65). Nabi Ibrahim juga pernah berdoa agar kelak mendapatkan surga (QS. Syuara: 85).

Malah Allah mengkategorikan orang yang tak pernah meminta pertolongan-Nya disebut sebagai orang sombong (QS. Al Mukmin: 60). Bahkan doa-doa yang terkandung di dalam salat sebagian besar isinya berbagai harapan ampunan dosa, meminta rizki, perlindungan dari fitnah dajjal, dll.

Jadi, beribadah memang harus hanya karena Allah. Itu sudah paten. Geser sedikit dosa. Tapi, ya, tak perlu juga dibenturkan dengan surga atau neraka. Karena tidak ada yang salah dengan beribadah kepada Allah, sambil diikuti dengan berharap mendapatkan surga. Sama seperti beribadah kepada Allah, lalu diikuti dengan meminta kelancaran rezeki, mendapatkan kesehatan, menghasilkan keturunan yang salih. Jadi, tahapannya yaa beribadah kepada Allah diikuti dengan berdoa hal-hal yang baik. Itu, menurutku, tidak masalah.

*Pegiat Sosial Media Muhammadiyah

Related posts
Opini

Muhammadiyah dalam Melejitkan Daya Saing Pendidikan Berkemajuan
(Refleksi 110 tahun dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah)

■ Dr. Muhtadin Tyas(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok) Ketua Dewan Professor ITS Prof.
Read more
Opini

Bertemu Keluarga

Oleh: A. Hilal Madjdi (Ketua PDM Kudus) Tiba-tiba saja tenggorokan terasa tercekat, semacam ada…
Read more
Opini

Merenungkan 5 Pertanyaan Kritis Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif pada Muktamar ke-48

Muktamar Muhammadiyah yang ke-48 dimulai hari ini. Gelaran musyawarah tertinggi salah satu ormas…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *