Ber-Idul Fitri (Bukan) Hanya Saling Memaafkan
Opini

Ber-Idul Fitri (Bukan) Hanya Saling Memaafkan

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus

Idul Fitri merupakan hari raya bagi seluruh Umat Islam di dunia yang dirayakan setiap tanggal 1 Syawal. Momentum Idul Fitri adalah kesempatan emas bagi siapapun untuk saling bersilaturahim dan saling memaafkan antar sesama manusia (hablu minannash). Tradisi saling memaafkan antar satu dan yang lainnya sudah begitu mentradisi di Indonesia sebagai wujud rasa syukur setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Rutinitas dalam kehidupan sehari-hari selama setahun di lalui bukan berarti tanpa cacat maupun khilaf, berbagai tindakan yang merugikan atau menyinggung orang lain baik sengaja maupun tidak sengaja terkadang menjadi hal yang lumrah. Ber-Idul fitri merupakan hari saling berbagi, berbagi kebahagian seolah tidak ada harapan untuk saling meratapi di hari yang fitri ini. Baik si kaya maupun si miskin sama-sama merayakan dengan bahagia seiring kumandang takbir & tahmid menggema di langit saat malam Idul Fitri.

Pagi harinya Umat Islam berbondong-bondong pergi ke masjid maupun lapangan untuk melaksanakan  sholat Idul Fitri sambil mendengarkan khatib berkhutbah menyeru kebesaran Allah SWT dan rasa syukur atas kembalinya fitrah manusia. Pancaran kebahagian akan makin sempurna manakala bertemunya  sikap ikhlas untuk saling memafkan antara satu dengan yang lainnya. Yang muda minta maaf pada yang tua itulah tradisi suci saat Idul Fitri. Apakah Idul Fitri dirayakan hanya sebatas makan kumpul keluarga kemudian saling memaafkan.

Momentum Idul Fitri adalah momentum untuk bermuhasabah dengan memanfaatkan lembaran baru kehidupan untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Bulan syawal yang artinya adalah peningkatan, peningkatan dalam segala aspek kehidupan baik itu dari aspek ibadah maupun muamalah. Tentunya sangat berat untuk menjadi hamba Allah SWT yang ideal dan paripurna. Apalagi pasca ramadhan berbagai godaan rutinitas kehidupan memaksa iman seseorang menjadi tipis. Sebagai manusia tentu tidak ingin menjadi manusia yang merugi sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ashr yang kandungan intinya, manusia adalah mahluk yang merugi kecuali orang-orang beriman yang selalu beramal sholeh saling menasehati dalam ketaqwaan dan kesabaran. Inspirasi dari surat Al-Ashr bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-sehari sebagai proses menuju insan kamil.

Baca juga :  Ramadhan dan Spirit Pembebasan Sosial

Saling menasehati dalam kesabaran dan ketaqwaan dalam praktek kehidupan sehari-hari adalah bagaimana manusia ini bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin menuju kehidupan yang lebih menyejahterakan baik di dunia maupun di akherat. Kesejahteraan lahir dan batin bisa tercapai ketika manusia terus bekerja keras dalam kehidupan ini untuk mencari ridho Allah SWT, apapun usaha seseorang asal tekun dan diimbangi dengan ibadah maka Allah swt akan membuka jalan dalam kehidupan ini. Apabila memperoleh hasil dalam bekerjanya jangan lupa diniatkan untuk infak dan shodaqoh. Sumber dari sumber malapetaka adalah sifat iri dan dengki dalam kehidupan sehari-hari itulah penyebabnya.

Maka dari itu manusia harus sadar bahwa dalam dirinya itu selalu ada kelebihan dan kekurangan, untuk itu hidup harus saling berbagi sebagaiman ramadhan mengajarkan pada umat manusia untuk saling berbagi memikirkan nasib si miskin. Si miskin dalam kehidupan sehari-hari bukan sebatas miskin materi namun juga miskin ilmu, miskin mentalitas dan miskin inovasi maupun kreasi di samping miskin masih juga malas dalam bekerja. Itulah yang menjadikan manusia menjadi mahluk yang merusak atau mendholimi diri sendiri karena dipengaruhi sikap–sikap negatif yang ditonjolkan seperti berbagai tindakan kriminal yang terjadi di mana-mana  yang menjadikan  lembaga pemasayarakatan mengalami over kapasitas.

Kehidupan yang serba materialistis selalu menuntun manusia untuk mengikuti hawa nafsu duniawi. Lingkungan masyarakat selalu mengikuti trend serba baru terutama barang-barang yang bisa dipamerkan seperti kendaraan, mobil ataupun juga perhiasan bagi wanita. Kalau dulu seseorang membeli barang-barang baru pada saat hari raya. Namun kini pembelian barang baru seperti sepeda motor ataupun produk elektronik termasuk juga handphone tidak usah menunggu saat hari raya karena setiap saat bisa di beli dengan kredit. Makanya saat ini Pinjaman online (Pinjol) merebak di masyarakat walaupun dengan bunga yang mencekik. Akibat dari semua itu persaudaraan menjadi hilang yang ada adalah sikap tega. Bahkan tidak jarang harus melalui jalan merampas hak milik orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari orang menjadi serakah dan tidak peduli satu dan yang lainnya kalau sudah begitu tarbiyah bulan suci ramadhan sudah menghilang tanpa membekas sedikitpun.

Baca juga :  Starting Eleven

Memahami gejolak kehidupan yang labil, hal ini bisa dicermati dari berbagai kasus kriminalitas yang berat seperti pembunuhan para pelakunya juga orang-orang baik artinya belum punya riwayat kriminal sebelumnya, ini menunjukan adanya gejala sakit pada masyarakat. Sebenarnya Tarbiyah Ramadhan adalah sarana yang baik untuk menggembleng mentalitas manusia. Untuk menghadirkan suasana ramadhan dalam kehidupan pasca ramadhan harus ada I’tikad bagaimana manusia ingin hijrah dari keterpurukan hidup. Bagi mereka yang mempunyai hutang maka hijrahnya adalah membayar lunas hutang, bagi mereka yang ingin sejahtera maka hijrahnya adalah kerja keras mencari rizki yang halal, bagi mereka yang ingin berilmu maka hijrahnya adalah berusaha belajar dan mencari ilmu, bagi mereka yang ingin naik pangkat maka hijrahnya menjadi pegawai yang disiplin dan berdedikasi.

Berawal dari niat berhijrah tersebut seseorang akan merasakan kehadiran Allah swt melalui doa-doa yang dipanjatkan setiap saat.  Pengertian hijrah kehidupan disini bertitik tolak dari diri sendiri bukan karena iri dan dengki dengan orang lain. Agama mengajarkan seseorang boleh dengki dan iri bila menyangkut amal sholeh supaya manusia berlomba-lomba untuk terus meningkatkan amal sholehnya setiap saat dan setiap waktu.

Dalam Ber-idul firi nantinya bukan sekedar berlebaran saja tapi bulan untuk bermuhasabah menata hati dan mentalitas untuk terus memperbaiki kualitas hidup. Memperbaiki kualitas hidup tidak harus berbondong-bondong menuju kota-kota besar yang mendorong peningkatan urbanisasi yang pada akhirnya memicu peningkatan kriminalitas. Bisa di mulai dari hal yang kecil-kecil pada lingkungan sekitar kita yaitu bagaimana menjaga ketertiban masyarakat dan juga kebersihan lingkungan. Saat ini adalah saat yang tepat untuk berjihad lingkungan, banjir dan tanah longsor yang menerpa rumah-rumah penduduk sudah makin parah saja akibat dari keserakahan manusia. Selain berusaha mengurangi sampah plastik juga bagaimana selokan dan juga sungai jangan sampai di jadikan tumpukan sampah. Saat ini orang lebih bergaya bila membeli motor ataupun mobil daripada membayar iuran bulanan pada petugas pengangkut sampah. Dampaknya seringkali dengan sengaja membuang sampah di sembarang tempat.

Baca juga :  Menggiatkan Perpustakaan dengan Literasi Kolaboratif

Maka dari itu saat Idul Fitri biasanya tumpukan sampah ada di mana-mana terutama sampah rumah tangga karena di samping petugasnya libur juga konsumsi rumah tangga yang naik drastis. Inilah moment yang tepat untuk menghimbau melalui media sosial bagaimana sampah-sampah tersebut bisa diatur untuk disetorkan ke bank-bank sampah terdekat. Momentum seperti itu di samping saling bersilaturahim juga saling nasehat-menasehati untuk bersama-sama memperbaiki kualitas kehidupan yang makin lama makin jauh dari nilai-nilai kebajikan. Dengan demikian tarbiyah ramadhan selama satu bulan tidaklah sia-sia karena dalam diri masyarakat makin sadar arti pentingnya peningkatan kualitas hidup itulah makna sesungguhnya dari ber-idul fitri di bulan Syawal.

Tradisi yang sudah berlangsung saat Idul Fitri sudah berjalan dengan baik tetap dilanggengkan seperti halal-bihalal, namun juga pentingnya perbaikan dan peningkatan kualitas hidup. Kalau masyarakat se iya dan sekata dengan perbuatan tersebut maka orang-orang yang hidupnya ingin berbuat onar dan kerusakan akan menyingkir dengan sendirinya. Godaan syetan tidak akan mampu mempengaruhi pada orang-orang yang selalu bersikap dan berpikir positif,  termasuk kesadaran  menjaga kualitas lingkungan hidup untuk menjauhkan diri dari musibah lingkungan hidup. Berawal dari kesadaran di masyarakat akan mendorong pemerintah untuk mendukung kegiatan-kegiatan positif tersebut. Sehingga tarbiyah selama bulan suci ramadhan benar-benar dirasakan pengamalannya pada kehidupan sehari-hari pasca ramadhan. Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1445 H mohon dimaafkan lahir & batin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *