Belajar Tanpa Batas
Opini

Belajar Tanpa Batas

Oleh : Jamaludin Kamal

Manusia merupakan maha karya Sang Maha Pencipta yang sempurna (sebaik-baiknya bentuk) [Surat At Tin : 4]. Memiliki cipta, rasa dan karsa untuk berkarya. Dengan kesempurnaan tersebut sebagai modal utama manusia dalam mengarungi kehidupan. Manusia ketika lahir dalam keadaan suci, ibarat kertas putih yang tidak terkena tinta warna apapun. Kertas itu bisa menjadi hitam, biru, merah, hijau dan yang lain mengisinya dengan ilmu agar menjadi indah. Adapun cara memperolehnya dengan belajar.

Belajar tak terbatas ruang dan waktu, selama jiwa dan raga masih melekat kesempatan tersebut sangat luas dan bebas. Belajar atau mencari ilmu tidak hanya di bangku sekolah atau kuliah saja, namun juga dapat diperoleh dari hewan, tumbuhan, atau lingkungan yang ada di sekitar kita. Hal ini sudah dicontohkan oleh Prof. Imam Robandi sebagai seorang guru besar electrical and enginering ITS Surabaya belajar banyak dari alam. Beliau meneliti dari koloni binatang, ada semut, kunang-kunang, serigala, hiu, burung, kelelawar, lebah dan akhirnya menemukan ilmu baru.

Sebagai contoh belajar dari semut, pada saat mencari sumber makanan, semut perlu menentukan jalur yang terpendek antara sumber makanan dan sarang semut. Berbicara tentang semut, teringat pada saat saya masih duduk di sekolah dasar ketika olahraga di lapangan, saat rehat dan duduk melihat barisan semut yang rapi dan memanjang. Sempat berbincang dengan salah satu teman, “kenapa ya, semut kok dapat baris rapi dan memanjang tanpa ada yang belok? Jawab teman saya, “semut itu pakai antena ( sungut ), saling bergandengan, dia setiap bertemu salam dengan yang lain makanya tidak nyasar. Oh.. begitu ya, jawab saya. Tetapi masih penasaran kenapa ya kok bisa tidak ada yang belok atau tersesat? Suatu saat ketika di halaman rumah menemukan pasukan semut berbaris, kemudian saya coba untuk menghapus jalan yang dilalui ternyata pasukan itu pada bingung jalannya tersebar ke mana-mana tidak teratur dan terputus, tetapi saya belum tahu itu apa.

Baca juga :  Haji "Dulu" dan Haji "Sekarang"

Semut pekerja pada saat mencari sumber makanan dan jalurnya secara acak dan ketika telah menemukan, maka semut tersebut melaporkan kepada semut yang lain untuk menuju ke sumber tersebut dengan cara menandai jalur atau jejak yang disebut feromon agar mempermudah semut lain menemukan. Setelah baca buku ArtificiaI Intelligence (AI) karya Prof. Imam Robandi semakin jelas dan yang menjadi pertanyaan saya sejak kecil terjawab sudah di buku tersebut.

Baca juga :  Khittah Jakarta, Tonggak Akselerasi Pendidikan Dasar SD/ MI Muhammadiyah

Teringat ketika membaca buku From Zero to hero ada kisah seorang tokoh yaitu Abraham Lincoln seorang anak tukang kayu dapat menjadi presiden ke XVI Amerika Serikat. Beliau lahir dari keluarga sederhana, serba terbatas bahkan pernah keluar sekolah karena orang tua tidak dapat membiayai. Namun Abraham Lincoln tidak putus asa dengan keterbatasan itu memiliki tekad kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Suatu ketika dia membantu ayahnya menebang kayu disela-sela istirahat menyempatkan membaca buku, dalam kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari baca buku. Dengan ketekunan, tekad kuat dia berhasil membuktikan bahwa keadaan dapat ditaklukkan atau dirubah dan akhirnya menjadi orang nomor 1 di Amerika tahun 1861.

Situasi seperti sekarang ini yang baru digalakkan oleh pemerintah untuk WFH ( Work from home ) dalam rangka salah satu upaya untuk memutus covid-19, semua dituntut untuk tetap produktif meskipun di rumah. Rapat digelar secara online, kuliah online, sekolah online, tugas-tugas secara online, membeli makanan online dan masih banyak lagi. Penggunaan teknologi berkembang pesat hampir semua lebih intensif untuk memanfaatkannya. Setiap orang dituntut pula untuk belajar disaat serba terbatas. Tinggal bagaimana kita mau tidak atau hanya menganggap seperti hal biasa saja.

Baca juga :  Toxic

Terbatas akan memunculkan ide-ide atau terobosan berkualitas bagi setiap insan yang ingin merubah keadaan dan menjaga atmosfer agar tetap produktif. Ini hal yang tidak mudah, karena ada kaitannya dengan sebuah getaran intuitif untuk menggerakkan berkarya. Mencapai sesuatu mudah apalagi ketika sudah berhasil, akan tetapi menjaga untuk terus bergerak agar tetap dinamis menjadi hal yang tidak mudah. Ibarat pisau semakin digunakan dan diasah terus menerus akan menjadi lebih tajam dan nyaman digunakan, begitu juga sebaliknya akan menjadi tumpul apabila sering digunakan tetapi tidak diasah.

Terbatas bukan berarti berakhir. Terbatas merupakan gerbang untuk melahirkan karya-karya berkualitas di masa serba berbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *