AUM Yes!, Muhammadiyah No!
Opini

AUM Yes!, Muhammadiyah No!

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA. – Kader Kokam Diklatsar Sleman-DIY

Muhammadiyah tidak lepas dari amal usaha Muhammadiyah yang juga merupakan tonggak penggerak dakwah islam berkemajuan. Amal usaha Muhammadiyah sudah begitu banyak dari sekolah, kampus, rumah sakit, koperasi, mini market, produk makanan minuman, dan lain sebagainya yang semakin berkembang. Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang paling mandiri sekaligus paling besar dalam ranah ormas Islam. Warga Muhammadiyah sangat luas baik level lokal, regional, nasional dan bahkan di dunia internasional melalui pimpinan cabang internasional nya. Muhammadiyah ialah persyarikatan yang telah berjasa membangun negeri dan bangsa Indonesia, bahkan sebelum terbentuk NKRI itu sendiri. Sehingga, tidak akan ada yang bisa menafikan eksistensi Muhammadiyah karena kemajuan dan perkembangannya terus meningkat sangat tajam.

Ada hal yang menarik di dalam organisasi Muhammadiyah, yakni ketika bagian dari organisasi tapi merasa tidak bagian dari anggota aktif yang memiliki kesadaran dalam dirinya. Jika Muhammadiyah merupakan kapal besarnya, dia hanya ingin sebagai penumpang kapal saja atau sebagai pekerja awak kapal saja tanpa harus merasa sadar merawat kapal itu sendiri. Fenomena AUM Yes dan Muhammadiyah No ini cukup membuat risih lagi kecewa. Sebab mereka hanya ingin bekerja dan mengabdi di amal usaha Muhammadiyah, namun dia tak ingin lebih jauh amat aktif atau menjadi bagian dari pimpinan struktural di Muhammadiyah entah itu hanya ranting, cabang, daerah, wilayah bahkan pusat. Hal ini semacam ikut perjalanan dalam kapal bersama tapi tidak dengan tujuan panjang kapal tersebut ketika dirasa sudah tak lagi nyaman, senang apalagi tak lagi menguntungkan baginya.

Baca juga :  Penguatan Pengkaderan di Tingkat Ranting

Sebenarnya Muhammadiyah itu organisasi yang sangat terbuka dan inklusif, akan tetapi ini dimanfaatkan serta dijadikan batu pijakan semata untuk kepentingan sesaat maupun jangka pendek. Amal usaha Muhammadiyah memang harus dikelola secara profesional, sehingga siapapun yang menjadi bagian AUM pada umumnya mengabadikan diri. AUM itu menjadi pembahasan menarik jika sudah tumbuh kembang nya sangat besar, secara profit mulai mapan, dan secara karir cukup sejahtera tanpa harus menajdi PNS atau PPPK atau profesi diluar Muhammadiyah tentunya. Itulah kenapa amal usaha Muhammadiyah itu dapat menggerakkan kegiatan dan programnya itu karena bantuan sekaligus AUM. Maka tak mungkin AUM terpisah atau menjauh dari kepentingan Muhammadiyah idealnya.

Baca juga :  Pansos Demi Popularitas

Aum Yes dan Muhammadiyah No, ini menjadi tidak wajar dan dapat melemahkan semangat dakwah islam berkemajuan jika tidak ada solusi konkret untuk menatanya. Sebab, dapat membuat situasi dan kondisi bermuhammadiyah sekaligus beramal usaha Muhammadiyah menjadi kurang sehat iklimnya. Ibaratnya mengayuh sepeda agar berjalan maju ke depan tapi malah rantai dilepas sehingga ban sepeda tidak bergerak ke depan walaupun telah diayuhkan dengan kaki. Maka penting untuk ditata kembali amal usaha Muhammadiyah agar dapat diisi oleh warga Muhammadiyah itu sendiri yang seusai dengan penempatan sekaligus keahlian yang dimilikinya.

Sangat disayangkan jika nanti amal usaha Muhammadiyah maju pesat, namun kaderisasi menurun, regenerasi sulit, internalisasi lemah dan Muhammadiyah malah ibarat gedung kosong tanpa penghuni maupun pengelola. Sudah saatnya gerakan itu kembali dihidupkan AUM YES, Muhammadiyah YES dan tidak ada lagi gerakan NO apapun itu. Dengan demikian estafet keberlanjutan dalam menggerakkan, membangun, mengelola Muhammadiyah beserta amal usahanya terus hidup laksana sistem organisasi yang aktif tiada henti. Meskipun ada sedikit hambatan maupun kendala yang dapat menyumbat, maka segera untuk mencari jalan solusi alternatif yang cepat lagi mencerahkan.

Baca juga :  Regenerasi dan Revitalisasi Muhammadiyah Jawa Tengah

Ke depan semua yang berada di Muhammadiyah maupun di amal usaha Muhammadiyah mendapat tempat yang sesuai sekaligus juga kesejahteraan yang merata tanpa ada kecurigaan, diskriminasi maupun merasa tersinggung. Dengan semangat kepribadian, pedoman, khittah, prinsip Muhammadiyah harus sejalan seiring antara Muhammadiyah sungai organisasi sekaligus AUM sebagai gerakan usaha itu sama-sama saling mengisi dan membangun persyarikatan Muhammadiyah. Komunikasi dan koordinasi bahkan kolaborasi tetap dibangun kemudian dijaga demi semangat cita-cita para pendahulu dan pendiri Muhammadiyah. Jika masih ada kelemahan dalam penerimaan rekrutmen maupun seleksi atas amal usaha Muhammadiyah, maka segera mencari jalan solusi terbaik agar warga Muhammadiyah do lingkungan yang bersangkutan sama-sama merasa nyaman dapat diterima secara terbuka demi kemajuan bersama menuju kemaslahatan dan kesejahteraan hidup. Dengan demikian Muhammadiyah dan AUM aku terus hidup tanpa ada penghalang diantara semuanya, sebab ini merupakan organisasi islam berbasis sistem keummatan dan bukan berbasis kepemilikan individu, pribadi, privasi personal, maupun yayasan yang hanya dikuasai untuk diri sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *