Opini

Agama Itu Memudahkan, Tapi Kita Yang Mempersulit Diri

Agama Itu Memudahkan, Tapi Kita Yang Mempersulit Diri

Oleh: Arip Hidayat
Ketua PCPM Adiwerna.
Anggota MTT PDM Kab. Tegal


Malam ini, selasa 05 September 2023. Aku diminta oleh rekan-rekan Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah ( PRPM ) Desa Bedug, Kecamatan Pangkah, Kab. Tegal untuk memberikan materi dalam pengajian rutinan. Kesepakatan waktu pun deal. Kajian di mulai pukul 20.30. Kebiasaan anak muda. Ngajinya menjelang malam. Mungkin suasananya agar semakin hening pikirku. Semakin hening, maka semakin enak untuk bercanda ria. Sambil ngaji. Ngaji ada bercandanya. Loh..emang boleh? Sudahlah, dari pada maksiat.

Kembali lagi ke pembahasan ngaji. Materinya Kitab Arba’in An-Nawawi. Nomor hadist 22. Sahabat Nabi saw, Jabir bin Abdillah al-anshari mengisahkan. Suatu hari ada seorang lelaki datang kepada Nabi. Dia berkata yang dalam ucapannya itu kepada sang Nabi terselip pertanyaan. Kira-kira terjemahannya begini;”Wahai Nabi, bagaimana pendapat anda jikalau aku menunaikan shalat wajib, berpuasa di bulan ramadhan, berprilaku yang halal dan meyakini kehalalannya, menjauhi yang haram sekaligus meyakini keharamannya. Apakah aku masuk surga”?. Jawab Nabi singkat;”Iya”.

Bagiku, hadist ini mengajarkan kita tentang standar minimal indikator kesalehan. Standar minimal beragama seseorang yaitu dimana seorang muslim dapat menunaikan kewajibannya shalat lima waktu. Coba kita urai betapa agama begitu memudahkan kita, dan perintah ibadah itu tidaklah mempersulit kita. Rata-rata orang awam, sebagaimana aku, melakukan shalat plus wirid untuk satu waktu dalam durasi 10 menit. Maka kalikan 5 waktu. Maka hasilnya 50 menit. Bulatkan satu jam. Dan kita masih punya 23 Jam waktu di luar shalat. Longgar bukan?.

Baca juga :  Kurikulum Islamic Green School: Sebuah Ijtihad Memadukan Ekologi Islam dan Pendidikan Berkelanjutan

Kewajiban selanjutnya berpuasa di bulan ramadhan selama 30 hari dan itu pun hanya di siang hari. Sementara malamnya tidak berpuas dan kita masih punya waktu 335 hari diluar ramadhan. Kedua ritual ibadah itu harus dilakukan tanpa memandang status sosial kaya atau miskin. Berbeda dengan zakat dan haji yang keduanya bersyarat. Hanya di peruntukan bagi yang hartanya berlebih. Kewajiban lainnya yang harus di tunaikan seorang muslim adalah berprilaku hidup yg halal; makanan, pakaian, pekerjaan dan pasangan. Dan manjauhi maksiat. andai semua di tunaikan dengan baik. Kata Nabi, anda masuk surga.

Inilah ilmu. Ilmu untuk beragama. Ilmu diatas mengajarkan pada kita bahwa agama itu memudahkan pemeluknya. Islam tidak mempersulit umatnya. Contoh seperti beban kewajiban shalat. Ada keringan dalam pelaksanannya. Namanya jamak ( menggabung dua waktu shalat dalam satu waktu ). Dan qashar ( memankas jumlah rakaat yg asalnya empat menjadi dua ). Jamak dan qashar ini adalah fasilitas yang di berikan islam bagi pemeluknya diantaranya bagi mereka yang dalam kondisi perjalanan jauh. Dan para ahli ilmu menjelaskan, mengambil fasilitas keringanan dalam ibadah lebih utama. Karena sikap tersebut juga merupakan ibadah tersendiri.

Maka beribadah itu, baik sifatnya khusus atau umum harus pakai ilmu. Harus berlandaskan ilmu. Agar beragama terasa memudahkan. Contoh lain ibadah. Syarat dan rukun nikah itu ; Beragama Islam, bukan mahram, adanya wali bagi calon pengantin perempuan, dihadiri 2 orang saksi, kedua mempelai sedang tidak berihram atau haji, tidak ada paksaan, mahar, ijab-qabul. Mudah bukan?. Lantas kenapa begitu banyak laki-laki yg menunda nikah padahal fisiknya sehat, akalnya sehat, sudah bekerja dan calonnya ada?. Alasannya rata-rata belum ada modal nikah Rp. 30 juta sampai ratusan juta.

Baca juga :  Menyambut Muktamar Muhammadiyah 48: Mulai dari "Titik Lemah" Muhammadiyah

Begitu juga ibadah sunat/khitan. Aqiqah. Silaturahim. Pemulasaraan jenazah di tilik dari aturan pokok agama sangat mudah dan ringan untuk kita amalkan. Yang mempersulit terlaksananya ibadah-ibadah diatas adalah adanya embel-embel dana nyewa musik orgen, dana pesta, dana nyadran hari raya, dana peringatan kematian dan segala macam dana-dana gengsi lainnya. Semua embel-embel gengsi itu adalah budaya, bukan syari’at. Jadi jangan mempersulit diri dalam ibadah hanya karena urusan gengsi. Kecuali anda mampu tanpa harus berhutang sana sini yang justru melahirkan beban dan masalah baru dalam hidup anda. Karena perintah agama itu memudahkan. Apa lagi menganggap hadirnya embel-embel budaya-budaya itu bagian dari syari’at, akan terjebak dalam bid’ah. Bid’ah bukan hanya menganggap wajib memperingati kematian dalam bentuk ritual dan makan-makan. Tapi mewajibkan adanya pesta sebagai syarat anaknya di khitan juga bid’ah.

Related posts
Opini

UKT Ugal-Ugalan: Pendidikan untuk Siapa?

Oleh: Riza A. Novanto, M.Pd – Pemerhati Pendidikan, Dosen STIKes Muhammadiyah…
Read more
Opini

Mengenal Karakter Umum Pengikut Salafi

Oleh: Dr H Ali Trigiyatno, MAg – Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng Berdasarkan pengamatan…
Read more
Opini

Menebar Kebaikan di Era Disrupsi

Oleh : Syahirul Alem – Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus Era Disrupsi sudah tidak…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter
Sign up for Davenport’s Daily Digest and get the best of Davenport, tailored for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *