13 Hari Menjelang Musywil
Opini

13 Hari Menjelang Musywil

Oleh : Khafid Sirotudin

Suatu pagi menjelang dhuha, 2-4 hari menjelang Muspimwil (pra Muswil) di Kabupaten Tegal, 28 Januari 2023. Saya ditelepon seorang kader muda persyarikatan.
“Assalamualaikum senior, gimana kabarnya” sapanya.
“Waalaikum salam dik. Alhamdulillah sehat…njanur gunung, wonten dawuh” jawab saya.
“Kapan main ke Solo, timses butuh senior untuk menyiapkan 13 PWM Jateng”.
“Kami hanya siapkan 4 nama mewakili Solo Raya. Lainnya menunggu arahan senior dan masukan berbagai daerah” jelasnya lebih lanjut.
“Ha..ha..ha..sejak kapan Muswil ada Timses segala dik” tanya saya sambil tertawa.
“Biar semangat mas. Saya tunggu rawuhnya ngobrol soal Muswil di Solo” pintanya.

Narasi diatas sepenggal pembicaraan kami melalui telepon WA, dosen PTM yang sudah saya kenal ketika aktif di IPM/IRM. Sudah 4 tahunan kami tidak bertemu, baik secara luring maupun daring. Agak kaget juga, “njanur gunung/kadingaren” (kadik : bunga pertama pohon Aren setelah berumur 10 tahun) dia menelpon saya pagi itu. Saya berusaha husnuzhan atas ajakan pertemuan di Solo, meski sampai hari ini belum pernah terlaksana.

Senior dan yunior adalah diksi yang lazim digunakan aktivis gerakan mahasiswa, pemuda dan pelajar. Tidak saja di lingkungan AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah), tetapi semacam “diksi wajib” bagi aktivis gerakan mahasiswa dan kepemudaan. Baik mereka yang berideologi kiri, kanan maupun wasathiyah (moderat).

Etika Berorganisasi

Sebagai kader Muhammadiyah yang pernah aktif di PR-IPM sd PP IPM, Ketua PDPM/Waket PWPM Jateng, saya menyadari betapa pentingnya etika berorganisasi yang baik. Apalagi ketika mau berkhidmat di Muhammadiyah, tentu membutuhkan ketulusan hati tingkat tinggi, kerelaan waktu- pikiran-tenaga tingkat dewa, logistik memadai agar mandiri, dan semangat berkobar agar beroleh pahala maksimal.

Saya sering berseloroh di hadapan peserta pengkaderan adik-adik IPM/IMM/NA/PM : “Jika kalian bekerja secara baik, maka siap-siaplah dibully. Apalagi jika kalian melakukan sedikit kesalahan, maka siap-siaplah untuk dibully, dicibir bahkan dipinggirkan oleh mereka yang merasa suci di Muhammadiyah. Sebab hadiah terindah menjadi kader itu pahala dan surga, bukan jam dinding, kulkas, sepeda atau umroh gratis.”

2 hari menjelang penutupan kesediaan sebagai calon PWM, saya sowan Dr. H. Tafsir, M.Ag Ketua PWM Jateng di Singosari 33 Semarang. Beliau adalah teman, sahabat, lawan debat dan diskusi yang baik, sejak berkhidmat di PWPM Jateng. Beliau juga yang ‘nembung’ langsung saya agar berkenan menjadi Ketua LHKP-PWM Jateng 2015-2022.

Saya selalu menolak menjadi Ketua/Sekretaris Majlis dan Lembaga PWM, sejak aktif menjadi Pengurus DPW PAN 1999-2014. Bukan tidak mau mengabdi di persyarikatan, namun lebih tidak ingin terjadi pertentangan kepentingan (vested interest) sebagai pribadi, pengurus parpol dengan posisi sebagai pimpinan Majlis/Lembaga PWM. Akan tetapi sebagai kader bangsa, saya selalu berkomunikasi dan silaturahmi dengan PWM Jateng. Minimal 2-3 kali setahun dikala reses dan selama 2 periode menjadi anggota DPRD Jawa Tengah. Selama menjadi aktivis parpol (kader bangsa), kami menjadikan PWM Jateng sebagai penasehat spiritual dan intelektual yang handal. Sesuai tradisi organisasi dan etika Pimpinan Muhammadiyah yang selalu memberi solusi, manfaat dan menggembirakan umat.

Baca juga :  KOKAM Laku Perjuanganku

Pak Munjirin, Kepala Kantor PWM Jateng memberikan surat dari Panitia Pemilihan Muswil di ruang kerja Ketua PWM.
“Sudah diisi saja sekarang, jangan kecewakan PDM-PDM dan Ortom yang telah mengusulkan mas Khafid” kata pak Tafsir penuh hikmah.
“Nggih pak maturnuwun. Saya istikharah dulu, masih ada waktu 2 hari sebelum penutupan” jawab saya.
Saat itu saya tidak tahu berapa PDM yang mengusulkan kecuali PDM kabupaten Magelang dan kabupaten Semarang yang konfirmasi NBM dan penulisan ejaan nama saya.

Istikharah bagi saya bermakna minta ijin dan restu ibu kandung Hj. Mubayanah. Jika ibu tidak berkenan maka akan saya tolak permintaan dari siapapun. Jangankan untuk mengikuti kontestasi menjadi PWM yang tanpa biaya, untuk menjadi Caleg/Cakada yang berbiaya politik cukup besar saya akan bersedia jika ibu mengijinkan. Bagi saya Restu dan Ijin dari Ibu adalah harga hidup.

Setelah sowan dan ibu mengijinkan, akhirnya saya mengisi kesediaan sebagai calon formatur PWM Jawa Tengah. Aneh bin ajaib, saya lolos menjadi 39 kandidat PWM pada Muspimwil. Berada pada urutan ke-15, terpaut 1 suara di bawah Prof. Dr. Zakyudin Baedhowy pada urutan ke-14. Prof Zaky : mantan Ketua DPD IMM Jateng, Gubes dan Rektor IAIN Salatiga, Penasehat LazisMu PP, bertempat tinggal di Kartasura, Sukoharjo.

Saya sebut aneh dan ajaib, karena Prof Zaky tidak hadir secara fisik di Muspimwil. Status kami berdua bukan Peserta Muspimwil dan Muswil. Sayapun tidak masuk ruangan selama Muspimwil berlangsung. Lebih banyak bercanda dan menyapa di luar arena persidangan, bersama Lukman Hakim Sekretaris LHKP. Juga menikmati durian yang dijajakan kader Kokam Jatinegara Tegal. Saya menduga ada kesalahan peserta memilih kami berdua.

Tiga kali saya silaturahmi dengan Prof Zaky, 2 kali di rumah dan sekali di Rektorat IAIN. Oh ya pernah sekali nongki hingga dini hari di angkringan dekat rumah Nurul Hawari, anggota LHKP yang tinggal se kampung dengan Prof Zaky. Waktu itu beliau sedang Siskamling dengan beberapa warga.

Fenomena Muswil

Selama menjadi warga Muhammadiyah (NBM : 679-310) kami berihtiar memantaskan diri menjadi warga dan kader yang baik. Kami berusaha hadir di setiap perhelatan Muktamar, Muswil, Musda, Muscab Muhammadiyah dan Ortom (Aisyiyah, IPM dan PM) meski sebagai penggembira. Kami nikmati proses musyawarah yang adil dan beradab, beserta aneka kegiatan pendukungnya : diskusi, seminar, pengajian, bazar, perlombaan dan pameran. Dengan segala kehangatan dinamika organisasi, beragam latar profesi calon pimpinan, serta kepentingan politik dan ekonomi yang menyertai. Sebagai ormas Islam terbesar di tanah air, Muhammadiyah akan selalu mendapatkan perhatian dari stakeholders.

Menjelang Muswil Muhammadiyah Jateng yang tinggal 13 hari lagi, ada beberapa catatan sebagai berikut :

Pertama, saya berterimakasih atas informasi yang diberikan meskipun agak prihatin adanya “tim sukses” Muswil sebagaimana dituturkan yunior AMM. Sebagai dosen PTM rasanya tidak elok jika mensikapi proses Muswil dengan membuat Tim Sukses. Jangan-jangan hal itu bukan keinginan bapak-bapak yang dicalonkan, tetapi lebih karena keinginan dan kebutuhan personal untuk bisa bertahan dan mendapatkan jabatan struktural di PTM.

Baca juga :  Uta Uta no Mi, Mugen Tsukuyomi, dan Renungan Al Ghazali

Kedua, pemilihan 13 Formatur PWM selama ini tidak berdasarkan kewilayahan dan daerah asal calon. Keterpilihan “Dewa 13” lebih dikarenakan jejak amal shalih (keshalihan pribadi dan sosial) selama menjadi Pimpinan Muhammadiyah dan kader persyarikatan/Ortom yang baik di Jawa Tengah. Yaitu kehadiran dan popularitas (dikenal karena terlihat seringkali hadir), kapabilitas (memiliki kemampuan yang dibutuhkan organisasi) dan akseptabilitas (keberterimaan) peserta Muswil.

Ketua PWM Jateng dan 13 Formatur terpilih selama ini tidak mendasarkan pada asal daerah/kabupaten/kota dimana yang bersangkutan bertempat tinggal, apalagi suku dan ras. Muswil Muhammadiyah bukan Forum Reorganisasi Parpol yang butuh menata caleg sesuai Daerah Pemilihan (Dapil).

Ketiga, munculnya fenomena Kapitalis Birokrat di dalam persyarikatan. Mohon maaf kalo saya memakai diksi yang terkesan berbau sosialis. Sebab sosialisme-komunisme dan kapitalisme-liberalisme bagi kami, ideologi yang memiliki daya rusak sama bahayanya bagi keberlangsungan hidup persyarikatan.

Muhammadiyah dibangun berlandaskan ideologi yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Tata kelola organisasi (good governance) Muhammadiyah dan AUM dilandasi nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, keadilan, amanah dan kemanfaatan (benefit) sebesar-besarnya bagi umat, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan universal. Bukan sebagai sarana mencari profit (keuntungan) pribadi, keluarga dan kelompok.

Fenomena munculnya rebutan jabatan di berbagai AUM Mata Air, pengajuan ijin menjabat sebagai Petinggi AUM lebih 2 periode, dan berlomba menjadi Ketua/Sekretaris Majlis dan Lembaga yang memiliki akses dana umat dan AUM Mata Air menjadi salah satu indikator. Indikator lainnya berupa adanya saham perorangan pada PT BUMM (Badan Usaha Milik Muhammadiyah).

Bukankah di Muhammadiyah semua profesi, jabatan dan posisi dinilai mulia dan setara sebagai sarana membuat monumen amal shalih. Pada RSMA, posisi tukang parkir dan direksi dipandang setara untuk menghadirkan amal shalih pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat. Di PTM, posisi Rektor/Direktur dan Satpam/Tukang Kebun dinilai mulia dan setara guna menghasilkan amal shalih berupa pelayanan pendidikan terbaik bagi mahasiswa. Begitu juga dengan ribuan AUM dihadirkan Muhammadiyah yang mencirikan diri sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah dan gerakan tajdid.

Adapun terdapat perbedaan penghasilan dan pendapatan di setiap posisi dan jabatan AUM, menurut kami lumrah, wajar dan selaras secara proporsional dengan tanggungjawab, wewenang dan resiko di setiap SOTK (Susunan Organisasi dan Tata Kelola) AUM. Sebagaimana Qaidah AUM yang telah dikeluarkan PP Muhammadiyah selama ini, dan rasanya masih perlu sedikit perbaikan dan penyempurnaan.

Pilihlah Kita

Sistem pemilihan Pimpinan Muhammadiyah sudah teruji melewati jaman. Untuk Muswil proses pencalonan pimpinan dimulai dari usulan nama (dicalonkan) PDM dan Ortom Wilayah. Bukan mencalonkan diri, sebagaimana parpol, lembaga negara dan organisasi kemasyarakatan lain. Setelah diverifikasi dan memenuhi standar teknis administratif, oleh Panitia Pemilihan (Panlih) setiap nama dikirimi form kesediaan. Nama-nama yang memenuhi persyaratan dan menyatakan bersedia, dipilih menjadi 39 nama pada Muspimwil.

Baca juga :  Memaknai Ikhlas dalam Bermuhammadiyah

Pada saat Muswil, ke 39 nama dipilih musyawirin/peserta menjadi 13 nama calon terpilih PWM. Calon dengan suara terbanyak tidak mesti menjadi Ketua PWM, tergantung hasil musyawarah mufakat tim formatur. Boleh saja Ketua PWM dipilih dari dalam tim formatur maupun diluar 13 nama terpilih.

Dalam forum Muswil tidak ada penyampaian visi misi calon dan kampanye, apalagi black campaign. Setiap peserta memiliki kemerdekaan dan kemandirian untuk memilih 13 nama yang dinilai “mitayani” menunaikan amanat hasil Muswil. Sangat berdaulat, bersahaja dan dianggap wajar jika ada perbedaan pilihan diantara peserta, meski berasal dari daerah yang sama. Maka menjadi unfaedah dan menghabiskan energi jika ada tim sukses yang bersemangat ingin menyeragamkan pilihan kepada peserta Muswil.

Sistem pemilihan di Muswil yang bertahap dan berjenjang, menjadi alarm bagi calon yang ambisius menjadi “Dewa 13”. Alih-alih akan dipilih peserta Muswil, bisa jadi malah “dijauhi” dan tidak bisa tertawa lepas ketika bertemu saudaranya di Muswil. Dan ketika hasil musyawarah tidak memilih dia, bisa jadi pulang bermuka murung dan butuh perawatan dokter spesialis jiwa. Mari bergembira menyambut dan mensukseskan Muswil Muhammadiyah Jateng, 3-5 Maret 2023 di kota Tegal.

Kami yakin semua peserta Muswil warga persyarikatan yang shalih. Memiliki kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan Intelektual (IQ) yang sangat memadai.

Pilihlah Kita, 13 nama yang menurut peserta muswil terbaik diantara 39 nama yang semuanya baik. Sesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang akan dihadapi PWM Jawa Tengah periode 2022-2027. Mengingat tahun 2024 ada pergantian kepemimpinan nasional, berupa pemilu legislatif (Pileg), Pilpres dan Pilkada serentak.

Jangan memilih Kami, yang hanya menyandarkan pada kepentingan pribadi dan kelompok, asal daerah dan kewilayahan. Apalagi memilih secara naif berdasarkan ras dan suku.

Last but not least, Jangan memilih Saya. Karena masih banyak kader persyarikatan yang lebih baik dan mumpuni. Apalagi saya baru sekali menjadi khatib shalat Jumat dan belum pernah menjadi khatib shalat Ied, serta masih suka memakai celana jeans.

Musyawarah berasal dari kata “syawara”, yang berarti berembug, berunding, berdiskusi, bukan berkelahi. Makna lain syawara yakni mengambil madu dari sarang lebah. Musyawarah berarti proses mengambil madu agar beroleh manfaat menjadi syifa’ (obat) bagi yang meminumnya.

Selamat mengikuti Muswil Muhammadiyah Jawa Tengah dengan penuh kegembiraan dan kemerdekaan, semoga forum musyawarah bisa menghasilkan “madu” 13 Tim Formatur Terbaik, yang bermanfaat sebagai syifa’ (obat jiwa raga) bagi usaha memajukan dan menyehatkan organisasi Muhammadiyah yang Berkemajuan.
Wallahua’lam

Weleri, 19 Februari 2023.
Ketua LHKP-PWM Jateng 2015-2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *